-
Rendi Apriyanto, pemuda asal Natuna, tewas akibat serangan drone Ukraina di wilayah Rusia.
-
Korban baru lima bulan bertugas di bagian logistik militer Rusia melalui perekrutan agen tidak resmi.
-
Orang tua korban menerima kabar duka pada 26 September 2026 dari rekan Rendi di Rusia.
Suara.com - Rendi Apriyanto, pemuda asal Ranai Darat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, tewas mengenaskan di tengah pusaran perang Rusia-Ukraina. Tentara bayaran Rusia itu mengembuskan napas terakhir setelah dihantam serangan pesawat nirawak militer drone Ukraina yang menyasar wilayah Rusia.
Kematian Rendi menjadi bukti nyata keterlibatan warga negara Indonesia dalam jaringan perekrutan tentara bayaran asing di zona konflik. Tragedi ini mengejutkan pihak keluarga dan masyarakat Natuna yang tidak menyangka korban nekat berangkat ke medan perang.
Informasi duka ini terungkap dari rekan korban sesama pekerja militer serta unggahan media sosial para kerabat di kampung halamannya. Orang tua korban mengonfirmasi kabar memilukan tersebut saat ditemui di kediamannya di Ranai Darat.
Haerul, salah satu sahabat masa kecil korban, membenarkan kabar mengejutkan yang beredar luas di lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengaku tidak pernah membayangkan nasib tragis yang menimpa teman sepermainannya tersebut.
"Rendi dulu teman masa kecil saya. Kami sama-sama tinggal di Ranai Darat, main kelereng bersama," ujar Haerul, mengenang, dikutip dari Batamnews.
Insiden maut itu terjadi pada 20 September 2026 di tengah gempuran drone Ukraina ke wilayah Moskow dan sekitarnya. Pihak keluarga baru menerima kepastian kabar duka tersebut beberapa hari setelah peristiwa naas itu berlangsung.
Ayah korban, Rustamal, mengungkapkan bahwa anaknya tidak sempat menyelamatkan diri saat hujan drone menghujam lokasi tempatnya bertugas. Laporan kepastian mengenai gugurnya Rendi didapatkan langsung dari sesama tentara bayaran asal Indonesia.
"Iya, kami mendapat informasi awal dari rekannya yang sama-sama di Rusia pada Sabtu malam 26 September 2026. Rendi terkena serangan drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan pemilu. Di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal.
Sebelum menjadi bagian dari militer Rusia, Rendi sempat mengadu nasib sebagai teknisi listrik di Filipina. Keputusannya berpindah ke Rusia secara mendadak mengejutkan pihak keluarga di kampung halaman.
Rendi diduga kuat masuk ke Rusia melalui perekrutan tidak resmi oleh sebuah agen tenaga kerja. Korban kemudian ditempatkan pada divisi logistik militer untuk membantu operasional pasukan Rusia.
Kedua orang tua korban sebenarnya telah memberikan peringatan keras saat mengetahui Rendi berada di wilayah konflik bersenjata. Namun, korban meyakinkan orang tuanya bahwa posisi pekerjaan logistik yang dijalaninya relatif aman.
Rustamal sempat membujuk putranya agar segera keluar dari Rusia demi keselamatan jiwanya. Namun, Rendi tetap memilih bertahan dan meminta restu serta doa dari kedua orang tuanya.
"Saya bilang, 'Kenapalah di sana. Di sana kan lagi perang'. 'Mudah-mudahan lah Pak aman, doa aja Pak'," kata Rustamal menirukan ucapan anaknya.
Rendi tercatat baru sekitar lima bulan menjalani profesi berbahaya tersebut sebelum akhirnya gugur. Keberadaan agen ilegal penawaran kerja tentara bayaran di Rusia kini menjadi sorotan utama.
Kasus ini menambah daftar panjang keterlibatan warga asing yang tergiur tawaran kerja militer di Rusia tanpa perlindungan hukum resmi. Jalur rekrutmen non-pemerintah disinyalir memanfaatan tenaga kerja migran dari berbagai negara berkembang.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina terus menelan korban jiwa, termasuk warga negara asing yang bekerja di zona perang. Pasukan Ukraina belakangan meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh yang menembus hingga ke jantung wilayah Rusia dan fasilitas militer.
Di sisi lain, kebutuhan tenaga pendukung logistik di garis belakang mendorong masuknya pekerja asing melalui jalur tidak resmi. Banyak dari mereka awalnya berstatus pekerja migran biasa di negara tetangga sebelum tergiur iming-iming gaji besar sebagai staf militer.
Hingga saat ini, proses pemulangan jenazah Rendi dari Rusia menuju Natuna masih menunggu penanganan lebih lanjut dari otoritas terkait. Kasus ini menjadi alarm keras mengenai ancaman perekrutan tentara bayaran ilegal yang menyasar warga negara Indonesia.