- Kemenko PMK mendorong integrasi data alumni beasiswa untuk mengoptimalkan kontribusi talenta terhadap pembangunan nasional di Jakarta, Rabu (30/9).
- Peringkat Indonesia dalam GTCI 2025 merosot ke posisi 80 dan pendataan alumni yang belum terintegrasi menjadi kendala utama.
- Forum merekomendasikan uji coba mekanisme pencocokan talenta serta penyelarasan program beasiswa dengan kebutuhan strategis nasional.
Suara.com - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong penguatan jejaring dan pengintegrasian data alumni beasiswa guna mengoptimalkan potensi talenta Indonesia.
Langkah ini dinilai mendesak agar investasi pendidikan yang telah dikeluarkan pemerintah maupun lembaga internasional dapat memberikan kontribusi nyata dan terarah bagi pembangunan nasional.
Plt. Asisten Deputi Riset Teknologi dan Kemitraan Industri Kemenko PMK, Ahmad Saufi, menyatakan bahwa tantangan utama pengembangan sumber daya manusia (SDM) saat ini bukan lagi sekadar memproduksi talenta, melainkan mengelola pengetahuan dan mengubah orientasi penanganan talenta secara global.
“Tantangannya adalah bagaimana mengelola pengetahuan dan memfasilitasi pergeseran paradigma dari brain drain menuju brain gain dan kemudian brain circulation,” ujar Ahmad Saufi dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mengorkestrasi Talenta Global untuk Pembangunan Berdampak” di Jakarta, Rabu (30/9).
Isu pengelolaan talenta ini mengemuka seiring dengan posisi Indonesia dalam Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025 yang berada di peringkat 80 dari 135 negara, merosot dari posisi 65 pada 2020. Di sisi lain, survei Katadata Insight Center terhadap 1.000 alumni pendidikan tinggi mencatat bahwa meski 87,5% responden pernah terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, hanya 28,7% yang berkontribusi secara aktif dan berkelanjutan.
Salah satu kendala utama yang disoroti dalam forum tersebut adalah pendataan alumni yang masih tersebar di berbagai institusi dan belum terintegrasi. Forum yang diselenggarakan Kemenko PMK bersama Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI), dan Katadata Insight Center ini mendorong adanya konsolidasi data untuk membangun purwarupa talent pool nasional.
Executive Board YBDI, Yenny Bachtiar, menambahkan bahwa rekam jejak dan jejaring alumni belum terpetakan secara sistematis sehingga potensi besar yang ada sulit dipertemukan dengan kebutuhan pembangunan di pusat maupun daerah.
Guna mengatasi persoalan tersebut, peserta diskusi menyepakati bahwa kontribusi alumni tidak boleh lagi diukur semata dari kepulangan fisik ke tanah air. Alumni yang berada di luar negeri tetap dipandang mampu memberikan dampak positif melalui transfer pengetahuan, kolaborasi riset, hingga penciptaan lapangan kerja.
Sebagai rintisan awal, forum merekomendasikan uji coba mekanisme talent and opportunity matching memanfaatkan kanal yang sudah ada, serta mendorong penyelarasan program beasiswa dengan kebutuhan strategis nasional seperti transisi energi, digitalisasi, dan manajemen bencana.