Soroti Pergantian Menlu ke Diplomat Karir, Pakar Kritik Lemahnya Artikulasi Diplomasi Era Sugiono

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:10 WIB
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. [Suara.com/Novian]
BACA 10 DETIK
  • Presiden Prabowo Subianto mencopot Sugiono dan menunjuk Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri.
  • Pencopotan tersebut dilakukan karena Sugiono dinilai gagal mengartikulasikan narasi politik luar negeri Indonesia di forum strategis internasional.
  • Penunjukan diplomat karier Arrmanatha Nasir diharapkan dapat merevitalisasi posisi tawar Indonesia yang sempat merosot tajam di kawasan regional.

Suara.com - Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ade Marup, menilai langkah Presiden Prabowo Subianto mencopot Sugiono dan menyerahkan kursi Menteri Luar Negeri kepada Arrmanatha Nasir menjadi bukti gagalnya kepemimpinan sebelumnya di panggung diplomasi internasional.

Menurutnya, pergeseran ini menunjukkan Presiden Prabowo akhirnya sadar akan ketidakmampuan Sugiono dalam membawakan narasi diplomasi Indonesia secara berbobot.

"Saya pikir mungkin Pak Prabowo sampai pada keputusan bahwa memang menlu Sugiono tidak cukup untuk mengartikulasikan politik luar negeri Indonesia di forum-forum strategis," kata Ade kepada Suara.com, Sabtu (3/10/2026).

Ketiadaan kompetensi dan rekam jejak diplomasi pada menteri sebelumnya dinilai membuat gaya diplomasi Indonesia terpuruk.

Masuknya Arrmanatha Nasir yang notabene seorang diplomat karier berpengetahuan luas diharapkan bisa menghentikan arah diplomasi yang selama ini dinilai salah kaprah.

Ade mengungkapkan bahwa penunjukan Arrmanatha Nasir merupakan sinyal kuat bahwa urusan diplomasi internasional tidak bisa lagi diserahkan kepada pihak yang tidak memiliki kompetensi mendasar.

"Salah satu hal yang sering menjadi fokus kritik di periode Pak Sugiono adalah tidak berfungsinya tiga wakil menlu yang kemarin itu," ujarnya.

Akibat tidak berfungsinya mesin diplomasi secara optimal, Indonesia kerap menjadi lelucon dan sasaran tembak di kawasan regional.

Posisi bargaining Indonesia di Asia Tenggara disebut melorot tajam akibat respons menteri yang dinilai tidak tegas dan kebingungan menghadapi krisis.

Selain pembenahan internal, isu-isu strategis kawasan dan global juga mendesak untuk segera ditangani secara artikulatif dan konsisten sesuai prinsip politik bebas aktif.

Ade menekankan pentingnya merevitalisasi posisi Indonesia di Asia Tenggara agar tidak lagi kedodoran saat menghadapi isu-isu sensitif kawasan.

"Positioning kita mungkin di Asia Tenggara juga harus direvitalisasi ya karena kasus-kasus seperti kemarin kayak Indonesia di-bully habis-habisan di ASEAN gara-gara kabut asap (karhutla)," ujarnya.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ade Marup, menilai langkah Presiden Prabowo Subianto mencopot Sugiono dan menyerahkan kursi Menteri Luar Negeri kepada Arrmanatha Nasir menjadi bukti gagalnya kepemimpinan sebelumnya di panggung diplomasi internasional.

Menurutnya, pergeseran ini menunjukkan Presiden Prabowo akhirnya sadar akan ketidakmampuan Sugiono dalam membawakan narasi diplomasi Indonesia secara berbobot.

"Saya pikir mungkin Pak Prabowo sampai pada keputusan bahwa memang menlu Sugiono tidak cukup untuk mengartikulasikan politik luar negeri Indonesia di forum-forum strategis," kata Ade kepada Suara.com, Sabtu (3/10/2026).

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com