- Dua daratan baru di lepas pantai Anak Krakatau terdeteksi akibat letusan berkelanjutan pada awal September 2026.
- Badan Geologi menyatakan daratan tersebut terbentuk dari tumpukan material magma yang keluar melalui rekahan memanjang kawah.
- Keberadaan dua pulau baru itu pertama kali terekam secara tidak sengaja melalui drone aktivis pariwisata Lampung.
Keberadaan formasi baru itu pertama kali terlihat melalui rekaman drone yang dibuat secara tidak sengaja.
Aktivis pariwisata asal Kalianda, Lampung Selatan, Yodistara Nugraha, menerbangkan drone ketika ikut membantu pencarian sejumlah wartawan dan orang lain yang dilaporkan hilang di laut.
Dalam rekaman terakhirnya, Yodistara melintasi perairan antara Pulau Sertung dan Anak Krakatau.
Kamera drone menangkap gundukan daratan berwarna gelap dan rendah yang dihantam ombak di sisi barat laut Anak Krakatau.
Yodistara baru menyadari kemungkinan dirinya merekam fenomena geologi tersebut setelah kembali meninjau rekaman.
Misi pencarian sendiri tidak menemukan jejak kelompok yang dilaporkan hilang.
Anak Krakatau Kembali Aktif
Anak Krakatau sebelumnya dilaporkan tidak menunjukkan aktivitas utama selama lebih dari dua tahun sebelum kembali aktif pada Juli 2026.
Aktivitas tersebut kemudian meningkat hingga terjadi letusan berkelanjutan selama sekitar 25 jam mulai 4 September.
Badan Geologi memperkirakan aliran lava dan material piroklastik dari aktivitas tersebut menambah luas daratan Anak Krakatau hampir 33 hektare.
Fenomena pembentukan daratan di kawasan tersebut bukan hal yang sepenuhnya asing.
Dalam 96 tahun terakhir, kawasan kaldera Krakatau mengalami berbagai perubahan akibat aktivitas vulkanik, erosi, dan pengendapan material.
Tidak diketahui adanya pulau terpisah lain yang muncul di dalam kaldera setelah Anak Krakatau bertahan di atas permukaan laut pada 1930.