- Anggota IABI Daryono mengingatkan penduduk Sumatera meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust tanpa kepanikan.
- Pergerakan Lempeng Indo-Australia menunjam Lempeng Sunda mengakibatkan akumulasi energi di zona megathrust Mentawai.
- Wilayah Sumatera Barat juga berisiko mengalami kerusakan akibat gempa darat dari sumber sesar aktif yang dangkal.
Suara.com - Ancaman gempa bumi berkekuatan besar, termasuk gempa megathrust, menjadi perhatian serius di wilayah Sumatera.
Masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama mereka yang tinggal di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak spekulasi mengenai kapan gempa besar akan terjadi.
Menurutnya, langkah paling penting saat ini adalah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana.
“Waktunya belum dapat diprediksi. Namun, jumlah korban dapat dikurangi jika kita siap siaga,” ujar Daryono seperti dikutip.
Daryono menjelaskan, ilmu pengetahuan hingga kini belum mampu menentukan secara tepat tanggal, waktu, dan lokasi terjadinya gempa besar.
Karena itu, ketidakpastian tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk panik.
“Ketidakpastian waktu kejadian bukan alasan untuk takut, melainkan menjadi alasan bagi kita untuk bersiap,” katanya.
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah zona megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di Sumatera Barat. Zona tersebut memiliki potensi menghasilkan gempa berkekuatan besar yang diperkirakan dapat mencapai magnitudo 8,9.
Kajian menggunakan data Global Navigation Satellite System (GNSS) pada 2018 hingga 2021 menunjukkan wilayah tengah Sumatera, termasuk Kepulauan Mentawai, terus mengalami perubahan bentuk kerak bumi akibat pergerakan dan tekanan antarlempeng tektonik.
Di sebelah barat Sumatera, Lempeng Indo-Australia terus bergerak menunjam ke bawah Lempeng Sunda yang menjadi bagian dari wilayah Pulau Sumatera.
Pergerakan tersebut berlangsung sangat lambat, tetapi dapat menimbulkan akumulasi tekanan dalam jangka panjang.
“Pergerakan ini terjadi sangat perlahan, hanya beberapa sentimeter setiap tahun. Namun, dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun, pergeseran tersebut dapat menyebabkan tekanan terakumulasi pada batuan dan menyimpan energi yang sangat besar,” jelas Daryono.
Energi yang tersimpan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gempa bumi kuat di sepanjang pantai barat Sumatera.
Daryono menegaskan, ancaman gempa di wilayah tersebut bukan sekadar prediksi berdasarkan pemodelan ilmiah.