- Pemerintah Malaysia menyiapkan aset dan personel untuk membantu Indonesia mengatasi kebakaran hutan dan kabut asap.
- Hingga tujuh Oktober dua ribu dua puluh enam, Malaysia masih menunggu persetujuan resmi dari Indonesia.
- Malaysia juga memantau kualitas udara dan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan akibat kabut asap.
Suara.com - Pemerintah Malaysia menyatakan siap membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan yang disebut menjadi salah satu penyebab kabut asap lintas batas.
Namun, hingga Rabu (7/10/2026), Malaysia mengaku masih menunggu persetujuan resmi dari pemerintah Indonesia untuk mengerahkan bantuan tersebut.
Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Alam Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, mengatakan negaranya telah menyiapkan aset, tenaga ahli, serta personel untuk membantu penanganan kebakaran.
"Malaysia sudah siap dari segi aset, kepakaran dan juga tenaga manusia. Kami siap membantu," kata Arthur seperti dinukil dari Kosmo.
Menurut Arthur, pemerintah Malaysia sebelumnya telah mengirimkan surat resmi kepada Menteri Lingkungan Hidup Indonesia terkait tawaran bantuan untuk menangani kebakaran yang berkontribusi terhadap kabut asap lintas batas.
Tawaran tersebut kemudian ditindaklanjuti Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi melalui kunjungannya ke Indonesia pada 18 September lalu.
Dalam kunjungan itu, Ahmad Zahid bertemu dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
Menurut Arthur, pertemuan tersebut menghasilkan persetujuan untuk melanjutkan koordinasi bantuan.
"Dan kita sudah mendapatkan persetujuan. Sekarang kita sedang menyelaraskan prosedur melalui Kementerian Luar Negeri negara kita dengan badan dan Kementerian Luar Negeri dari pihak Indonesia," ujarnya.
Arthur menegaskan Malaysia siap mengerahkan bantuan, termasuk personel ahli dan aset terkait, setelah seluruh prosedur antara kedua negara diselesaikan.
Di sisi lain, Arthur mengatakan Malaysia memiliki Rencana Tindakan Kabut Asap yang mengatur prosedur operasi standar berdasarkan tingkat Indeks Pencemaran Udara (IPU).
Prosedur tersebut mencakup kondisi ketika indeks pencemaran udara melewati angka 100 hingga lebih dari 200. Pemantauan juga ditingkatkan menyusul kondisi kabut asap yang semakin mengkhawatirkan.
Malaysia saat ini memiliki sekitar 68 stasiun pemantauan kualitas udara yang memberikan data setiap jam.
"Hasil pemantauan akan kami informasikan kepada badan-badan terkait seperti Nadma, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan," kata Arthur.
Arthur juga mengimbau masyarakat Malaysia untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi kabut asap memburuk.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok masyarakat dengan daya tahan tubuh rendah karena lebih rentan terhadap dampak buruk polusi udara.
"Kalau bisa, hindari aktivitas di luar. Kurangi aktivitas di luar bagi mereka yang mungkin memiliki daya tahan tubuh cukup rendah," ujarnya.
"Kalau bisa jangan keluar sama sekali, gunakan masker dan banyak minum air," sambung Arthur.