Rudal Houthi Hantam Arab Saudi, 2 Bandara Utama Diserang

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:02 WIB
ARSIP-Laporan gambar dan rekaman asap yang membumbung dari fasilitas-fasilitas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal balistik [Ist]
BACA 10 DETIK
  • Kelompok Houthi menyerang Bandara King Khalid dan Abha di Arab Saudi, serta Bandara Aden di Yaman, yang menewaskan tiga orang dan melukai 36 korban.
  • Koalisi pimpinan Arab Saudi membalas dengan menggempur 80 posisi militer Houthi dan melanjutkan pertempuran darat di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
  • Lonjakan konflik selama 12 tahun ini memperburuk krisis kemanusiaan hingga menciptakan lebih dari 200.000 pengungsi baru.

Suara.com - Konflik di Yaman kian memanas setelah serangkaian serangan rudal dan drone menyasar dua bandara utama di Arab Saudi. Otoritas penerbangan sipil setempat mengonfirmasi bahwa insiden tersebut menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 36 korban lainnya.

Serangan mematikan itu menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, serta fasilitas di Bandara Abha yang memakan dua korban jiwa dan 28 korban luka.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya bertanggung jawab atas penyerangan ke Bandara King Khalid menggunakan sejumlah drone.

Infrastruktur penerbangan di Yaman turut menjadi sasaran. Kementerian Perhubungan Yaman melaporkan kelompok Houthi menembakkan rudal balistik dan drone peledak ke Bandara Internasional Aden. Sebuah rudal bahkan mendarat di dekat landasan pacu beberapa menit sebelum pesawat asal Kairo mendarat.

Balasan Masif Koalisi dan Pertempuran Bab el-Mandeb

Menanggapi gempuran tersebut, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menegaskan serangan Houthi tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Koalisi mengumumkan telah menggempur lebih dari 80 posisi militer Houthi yang tersebar di wilayah Saada, Hodeidah, Jawf, dan Marib.

Pertempuran darat kini berpusat di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan kota pelabuhan Mocha. Jalur pelayaran ini menjadi sangat krusial bagi pasokan energi global, terutama saat perdagangan di Selat Hormuz terganggu akibat konflik AS-Iran. Pasukan pemerintah Yaman yang dibantu jet tempur koalisi terus melancarkan serangan balasan di distrik Dhubab guna merebut kembali area-area strategis.

Lonjakan pertempuran terbaru ini memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman yang telah berlangsung selama 12 tahun. Badan Migrasi Internasional (IOM) mencatat jumlah pengungsi baru melonjak hingga melebihi 200.000 jiwa.

Direktur Jenderal IOM Amy Pope mendesak bantuan dana darurat untuk pangan dan tempat tinggal, di tengah laporan PBB bahwa tiga dari empat keluarga di sejumlah wilayah Yaman mengalami kelaparan.

Dampak konflik ini juga mulai melibatkan konstelasi politik regional. Arab Saudi dilaporkan mulai menggalang dukungan internasional. Turki mengirimkan bantuan teknis dan pertahanan, sementara Suriah tengah mempertimbangkan permintaan Riyadh untuk memberikan bantuan militer guna mengamankan wilayah kerajaan dari serangan susulan Houthi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com