Perang di Arab Saudi Panas Lagi, Riyadh Dibombardir Houthi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:30 WIB
Jet F-15 Arab Saudi (Al Jazeera)
BACA 10 DETIK
  • Houthi membombardir Riyadh dan Abha yang menyebabkan tiga orang tewas serta puluhan luka-luka.

  • Koalisi Saudi membalas mematikan dengan menghancurkan 82 target militer Houthi di wilayah Yaman.

  • AS menolak permintaan bantuan militer langsung dari Saudi karena fokus pada konflik Iran.

Suara.com - Perang Timur Tengah mendadak bergejolak hebat setelah kelompok Houthi meluncurkan serangan udara mematikan ke jantung pertahanan Arab Saudi. Kerajaan merespons gempuran tersebut dengan menggempur puluhan benteng pertahanan milisi Yaman tanpa dukungan tempur langsung dari Washington.

Serangan balasan koalisi pimpinan Saudi berhasil meluluhlantakkan puluhan fasilitas penting kelompok pemberontak di berbagai wilayah Yaman. Gempuran udara ini menyasar infrastruktur krusial, mulai dari pos komando hingga jaringan komunikasi vital milik Houthi.

Pusat-pusat penyimpanan persenjataan utama milisi tersebut runtuh dihantam artileri koalisi dalam serangan udara beruntun. Penetrasi militer ini menjadi sinyal tegas bahwa Kerajaan tidak tinggal diam atas ancaman keselamatan warga sipilnya.

Laporan gambar dan rekaman asap yang membumbung dari fasilitas-fasilitas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal balistik [Ist]

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di X pada Kamis (8/10), juru bicara koalisi Saudi, Mayor Jenderal Turki Al Maliki mengatakan pihaknya telah menghancurkan 82 target di wilayah Saada, Hodeidah, Al Jawf, dan Marib, Yaman.

Ia mengatakan target-target tersebut mencakup 11 lokasi penyimpanan rudal balistik yang berada di kawasan pegunungan Saada, serta pusat komando dan kendali, sistem komunikasi, depot rudal dan senjata, serta lokasi berkumpul.

Pemicu utama aksi ketat ini berakar dari gempuran beruntun Houthi ke dua simpul penerbangan sipil Kerajaan. Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran tembak yang memicu korban jiwa.

Ledakan di area fasilitas umum tersebut merenggut tiga nyawa serta melukai puluhan warga sipil lainnya. Dampak fatal ini memaksa koalisi bergerak cepat memutus rantai serangan susulan dari wilayah lawan.

Dikutip Al Jazeera, Al Maliki mengatakan operasi tersebut dilakukan menyusul serangan Houthi yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya negara itu.

Ia menambahkan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil tidak akan dibiarkan tanpa hukuman.

Ketegangan makin memuncak saat peluncur rudal musuh dihancurkan persis ketika pertempuran udara sedang berlangsung intensif. Langkah ini memupus potensi peluncuran proyektil tambahan yang mengincar ibu kota.

"Operasi penghancuran berlangsung di Ibu Kota Yaman, Sanaa, saat musuh melakukan serangkaian serangan terhadap Kerajaan," ucap juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, di X.

Ancaman yang kian nyata mendorong Putra Mahkota Pangeran Mohamed bin Salman membicarakan opsi bantuan pertahanan dengan sekutu utamanya. Pembicaraan tingkat tinggi pun digulirkan guna memperkuat proteksi wilayah udara Kerajaan dari gempuran roket.

Langkah diplomatik serupa diambil pihak Kementerian Pertahanan Saudi saat berdiskusi dengan pejabat militer Amerika Serikat. Pihak Kerajaan mendesak adanya keterlibatan armada tempur sekutu untuk meredam keganasan milisi Houthi.

Namun, permohonan bantuan militer secara langsung tersebut menemu jalan buntu di Washington. Pemerintah AS memilih membatasi diri dan menolak menerjunkan pasukannya ke arena pertempuran Arab Saudi.

Fokus utama militer AS saat ini sudah tersedot penuh pada gesekan terbuka mereka dengan Iran sejak beberapa bulan lalu. Alhasil, Washington hanya menyalurkan pertukaran informasi intelijen secara terbatas tanpa intervensi senjata langsung.

Latar belakang memanasnya kawasan ini tidak terlepas dari rangkaian pertempuran regional yang memicu ketidakstabilan sejak Februari lalu. Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi kini mencapai titik didih baru di tengah konfrontasi terpisah antara AS dan Iran.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com