- Kepala Bakom Syahganda Nainggolan menyatakan karhutla di Indonesia merupakan fenomena alam yang memicu protes Malaysia dan Singapura.
- Ketua Pengimbang DUN Johor Andrew Chen menuntut permohonan maaf karena rakyat Malaysia menderita akibat pencemaran udara.
- Syahganda Nainggolan yang lahir di Medan tahun 1965 memiliki rekam jejak panjang dalam aktivitas politik dan lembaga kajian.
Suara.com - Pertanyaan dari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Indonesia (Bakom), Syahganda Nainggolan terkait kabut asap lintas batas di Malaysia dan Singapura membuat kesal pejabat tinggi Negeri Jiran.
Syahganda Nainggolan sebelumnya meminta Malaysia dan Singapura memahami kabut asap lintas batas yang kini melanda sejumlah wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Syahganda mengeklaim kebakaran tersebut dipicu fenomena alam, bukan semata-mata kesalahan manusia.
Ia mengatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran negara tetangga terhadap pencemaran udara akibat asap kebakaran hutan.
“Jadi, kami juga meminta semua negara tetangga memahami bahwa hal ini terjadi di luar faktor kesalahan manusia. Ini benar-benar fenomena alam,” kata Syahganda.
Lebih lanjut Syahganda juga menyebut soal Indonesia tidak hanya mengirimkan asap, tetapi juga mengirimkan oksigen melalui hutan-hutannya ketika tak ada karhutla.
“Indonesia juga berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa kita tidak hanya sekedar mengirimkan asap. Kalau asap tidak ada, Indonesia juga mengirimkan oksigen. Oksigen di Singapura dan Malaysia kan datang dari hutan-hutan di Indonesia,” ujar Syahganda.
Pernyataan ini membuat kesal Ketua Pengimbang Dewan Undangan Negeri (DUN) Johor, Andrew Chen Kah Eng.
Andrew Chen uga meminta pemerintah Indonesia bertanggung jawab dan menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara ASEAN yang terdampak pencemaran udara tersebut.
“Rakyat Malaysia sedang menderita akibat pencemaran ini, tetapi pejabat Anda seolah-olah mempermainkan kesehatan kami. Sikap seperti ini tidak bisa diterima. Kesehatan dan nyawa masyarakat bukan bahan untuk dijadikan lelucon,” kata Andrew.
Seperti apa sebenarnya rekam jejak Syahganda Nainggolan kepala Bakom yang baru dilantik Presiden Prabowo Subianto? Berikut ulasannya
Lahir di Medan pada 27 November 1965, Syahganda pernah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, perjalanan akademiknya di kampus tersebut terhenti setelah ia dikeluarkan karena aktivitas politik yang menentang pemerintahan Orde Baru.
Aktivitas Syahganda semasa kuliah pernah disorot majalah Tempo dalam laporan edisi September 1989.
Saat itu, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Geodesi ITB yang aktif dalam forum kelompok diskusi MSC (Mahasiswa Student Center).