Bukan Lagi Anomali, Pakar UGM Sebut Cuaca Ekstrem Jadi Kenormalan Baru

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem [Dok. Antara]
BACA 10 DETIK
  • Pakar UGM Hatma Suryatmojo menyatakan banjir dan longsor di Sumatra menunjukkan daya dukung ekosistem telah terlampaui.
  • Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (12/10/2026) sebagai tanggapan atas meningkatnya bencana akibat perubahan pola iklim.
  • Pemerintah didorong untuk mengubah strategi mitigasi karena cuaca ekstrem kini menjadi realitas dan kenormalan baru.

Suara.com - Bencana banjir hingga tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra menjadi peringatan bahwa Indonesia menghadapi pola iklim dan cuaca yang berubah. Pemerintah diminta tidak lagi memandang cuaca ekstrem sebagai anomali sesaat, melainkan kondisi baru yang menuntut perubahan dalam penanganan kebencanaan.

Pakar Hidrologi Hutan serta Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) UGM, Hatma Suryatmojo, mengatakan tren kejadian bencana yang terus meningkat menunjukkan adanya persoalan serius pada daya dukung ekosistem di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut dia, peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor mengindikasikan bahwa sejumlah ekosistem telah melampaui kapasitasnya dalam menghadapi tekanan alam. 

Kondisi tersebut membuat wilayah-wilayah tertentu semakin rentan ketika menerima curah hujan tinggi dengan intensitas ekstrem.

"Artinya secara ekosistem itu sebenarnya saat ini di Indonesia itu ada banyak lokasi-lokasi yang sudah mengalami daya dukung ekosistemnya itu sudah terlampaui," kata Hatma saat dihubungi Suara.com, Senin (12/10/2026).

Situasi tersebut menuntut pemerintah untuk segera mengubah sudut pandang dalam memetakan kelestarian lingkungan dan mitigasi bencana. Fenomena perubahan iklim telah bergeser menjadi realitas harian yang menetapkan pola cuaca anyar di wilayah tropis.

"Kalau kita sudah memandang ini sebagai sebuah pola baru, maka kita harus mau menerima bahwa ini adalah kenormalan baru terkait dengan iklim dan cuaca di Indonesia," ujarnya.

Mayong sapaan akrabnya, meminta pemerintah untuk menghentikan retorika pemakluman yang kerap menyalahkan anomali iklim setiap kali bencana hebat menerjang suatu daerah.

"Ke depan itu akan banyak muncul kondisi-kondisi yang sekarang itu kita sebut sebagai anomali. Kalau frekuensinya sudah meningkat, kan berarti itu sudah bukan anomali lagi," tuturnya.

Perubahan pola iklim yang masif secara otomatis menggeser peta risiko bencana di berbagai wilayah. Kawasan yang dulunya dikategorikan aman kini memiliki potensi besar untuk terdampak bencana hebat.

Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk merombak total strategi penanganan bencana agar relevan dengan dinamika iklim terkini.

"Otomatis ada kenormalan baru terhadap tanggap darurat kebencanaan, tanggap bencana yang harus kita lakukan," tegasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com