Dukungan Dini Parpol untuk Prabowo 2029: Komitmen Nyata atau Cari Aman?

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:49 WIB
Sejumlah partai koalisi mulai mengunci dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk maju kembali di Pilpres 2029. [Suara.com/Syahda]
BACA 10 DETIK
  • Partai Golkar, PAN, dan PKB secara terbuka menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk kembali maju dalam Pilpres 2029.
  • Partai NasDem, PKS, dan Partai Demokrat belum menentukan sikap, memilih fokus mengawal program kerja pemerintahan Presiden Prabowo.
  • Dukungan dini tersebut dinilai sebagai strategi pragmatis partai untuk menjaga akses dan memperkuat posisi tawar dalam kekuasaan.

Suara.com - Sejumlah partai politik pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai mengarahkan dukungan untuk Pilpres 2029. Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terang-terangan menyatakan ingin mengusung Prabowo kembali sebagai calon presiden.

Dukungan itu muncul ketika pemilihan presiden masih beberapa tahun lagi. Bahkan, pembicaraan mengenai pasangan calon belum mengerucut.

Nama calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Prabowo, termasuk kemungkinan Gibran Rakabuming Raka kembali berpasangan dengannya, belum menjadi keputusan resmi partai-partai tersebut.

Partai Gerindra sebagai kendaraan politik Prabowo pun menyambut dukungan itu.

Sementara sejumlah partai lain, seperti NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat, memilih belum menentukan sikap untuk Pilpres 2029.

Mengapa sejumlah partai sudah menyampaikan dukungan sejak dini? Apakah langkah tersebut mencerminkan kesepakatan politik jangka panjang, atau hanya cara untuk menjaga hubungan dengan pemerintah sekaligus memperkuat posisi tawar menjelang perebutan tiket capres dan cawapres?

Infografis: sejumlah partai koalisi mulai mengunci dukungan kembali kepada Presiden Prabowo Subianto di Piltres 2029. [Suara.com/Syahda]

Dukungan Mengalir, Cawapres Belum Dibicarakan

Sinyal dukungan dari Golkar mengemuka melalui Wakil Ketua Umumnya, Ahmad Doli Kurnia. Pernyataan itu disampaikan saat merespons sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi yang tak lagi secara terbuka menggaungkan Prabowo-Gibran dua periode.

Ketika kembali ditanya mengenai peluang pasangan tersebut melanjutkan kepemimpinan, Jokowi menjawab bahwa kontestasi pemilu masih jauh.

Doli kemudian menegaskan bahwa Golkar telah menentukan arah dukungan untuk Pilpres 2029. Namun, keputusan mengenai sosok cawapres belum menjadi pembahasan partai.

Menurutnya, penentuan pendamping capres umumnya dilakukan menjelang pendaftaran dan dibicarakan bersama partai-partai koalisi. Untuk saat ini, Golkar memilih berfokus mendukung jalannya pemerintahan.

"Sejak akhir 2024, posisi Golkar sudah jelas. Untuk Pilpres 2029, calon kami adalah Pak Prabowo," kata Doli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Jumat (9/10/2026).

Ia menambahkan, pembahasan cawapres biasanya dilakukan menjelang pendaftaran capres dan cawapres.

Sikap serupa disampaikan PAN melalui Wakil Ketua Umumnya, Viva Yoga Mauladi. Ia menegaskan dukungan partainya kepada Prabowo untuk Pilpres 2029 bukan hal baru.

Menurut Viva, komitmen itu telah disampaikan sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN pada 2025.

PKB juga menyatakan dukungan untuk Prabowo kembali maju. Wakil Ketua Umum PKB Faisol Riza bahkan menegaskan komitmen partainya dengan ungkapan yang lebih kuat.

"PKB 100 persen, bahkan 1000 persen mendukung pencalonan kembali Prabowo Subianto sebagai capres di Pilpres 2029," ujar Faisol.

Ia menilai Prabowo layak diberi kesempatan memimpin Indonesia selama dua periode karena sejumlah program pemerintahannya dinilai berjalan baik.

"Kalau PKB mendukung Prabowo, tentu ada banyak alasan bagi dia untuk memimpin kembali," katanya.

Dari kubu Gerindra, dukungan partai-partai lain disambut positif.

Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menyebut keinginan agar Prabowo memimpin selama dua periode juga datang dari akar rumput partainya.

"Aspirasi dari akar rumput kader Gerindra juga menginginkan Pak Prabowo dua periode," kata Sugiat kepada wartawan, Jumat (9/10/2026).

Adapun mengenai sosok cawapres, Gerindra memiliki mekanisme tersendiri. Keputusan akhir mengenai pendamping Prabowo berada di tangan sang presiden.

NasDem, PKS, dan Demokrat Belum Menentukan Sikap

Tidak semua partai memilih menyampaikan dukungan sejak dini. NasDem, PKS, dan Partai Demokrat masih menahan keputusan mengenai arah dukungan pada Pilpres 2029.

Sekretaris Jenderal Partai NasDem Hermawi Taslim mengatakan partainya saat ini masih berfokus mengawal jalannya pemerintahan. NasDem juga memilih menunggu tahapan resmi pemilu sebelum menentukan sikap politik untuk periode berikutnya.

Di PKS, keputusan mengenai dukungan capres dan cawapres merupakan kewenangan Majelis Syuro. Sekretaris Jenderal PKS M Kholid mengatakan sikap resmi partainya saat ini adalah menyukseskan pemerintahan Prabowo hingga akhir masa jabatan.

Adapun mengenai kontestasi 2029, PKS masih menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan tertinggi partai.

Partai Demokrat juga belum membicarakan secara resmi arah dukungan politik untuk Pilpres 2029, termasuk kemungkinan kembali mengusung Prabowo.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron menilai kontestasi tersebut masih cukup jauh. Apalagi, regulasi pemilu masih dalam proses pembahasan.

“2029 masih cukup waktu. Undang-undangnya saja masih proses revisi. Kami lebih fokus mengawal program kerja Presiden Prabowo,” tegasnya.

Kalkulasi Demokrat dan Peluang AHY

Di antara partai yang belum menentukan sikap, Demokrat memiliki kepentingan tersendiri yang perlu diperhitungkan, yakni posisi Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam peta politik 2029.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai sikap hati-hati Demokrat tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi mengenai peluang politik AHY.

Demokrat, menurutnya, tidak hanya perlu mempertimbangkan siapa capres yang akan didukung, tetapi juga posisi yang hendak diperjuangkan bagi ketua umumnya.

“Golkar, PKB, dan PAN sudah lebih dulu menyatakan dukungan kepada Prabowo. Demokrat sepertinya punya kalkulasi sendiri, terutama soal posisi AHY. Apakah didorong sebagai capres, cawapres, atau mengambil strategi lain?” ujar Arifki kepada Suara.com.

Arifki menjelaskan, dukungan lebih awal kepada Prabowo tidak otomatis membuat sebuah partai memperoleh posisi cawapres.

Sebaliknya, partai yang belum menentukan sikap juga masih memiliki ruang untuk bernegosiasi, bergantung pada dinamika dan konsolidasi politik yang terbentuk.

“Mendukung Prabowo dan memperjuangkan posisi AHY adalah dua persoalan berbeda. Demokrat perlu menjaga hubungan dengan pemerintah sekaligus memastikan kepentingan partainya masuk dalam pembicaraan menuju 2029,” katanya.

Jika Demokrat ingin mendorong AHY sebagai pendamping Prabowo, ada sejumlah hal yang perlu diperhitungkan. Salah satunya adalah nilai tambah yang bisa dibawa AHY bagi pasangan tersebut, mulai dari dukungan politik hingga jangkauan pemilih.

Kesamaan latar belakang militer antara AHY dan Prabowo juga menjadi faktor yang dapat masuk dalam pertimbangan komposisi kepemimpinan.

“Kalau AHY masuk bursa cawapres, yang harus dihitung adalah nilai tambahnya, baik dari sisi dukungan politik maupun jangkauan pemilih,” ujarnya.

Arifki menambahkan, persaingan memperebutkan posisi cawapres masih terbuka.

Perubahan aturan pemilu, termasuk wacana penghapusan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold, juga berpotensi memengaruhi strategi partai politik.

Karena itu, belum adanya keputusan Demokrat tidak serta-merta menunjukkan bahwa partai tersebut menjauh dari Prabowo. Sikap menunggu dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan ruang negosiasi sembari menghitung peluang politik AHY.

“Pertaruhan Demokrat bukan sekadar mendukung atau tidak mendukung Prabowo. Yang penting adalah posisi AHY dalam peta politik 2029,” katanya.

Infografis: apa keuntungan politik bagi parpol koalisi yang menyatakan dukungan sejak dini kepada Prabowo? [Suara.com/Syahda]

Mengapa Dukungan Diberikan Sejak Dini?

Mengapa Golkar, PAN, dan PKB sudah menyatakan dukungan kepada Prabowo, padahal Pilpres 2029 belum dekat dan komposisi pasangan calon belum ditentukan?

Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai pernyataan dukungan tersebut belum bisa diperlakukan sebagai komitmen yang mengikat.
Menurutnya, sejauh ini dukungan yang disampaikan partai-partai itu masih berada pada ranah komunikasi politik, bukan deklarasi resmi pencalonan.

“Dukungan itu belum bisa sepenuhnya dipercaya karena belum ada deklarasi resmi. Untuk sementara, ini baru komunikasi politik yang menyenangkan Presiden,” ujar Efriza kepada Suara.com.

Ia mengingatkan bahwa kesepakatan politik yang dibangun sebelum pemilu masih dapat berubah. Efriza mencontohkan dinamika menjelang Pilpres 2024, ketika PKB dan Gerindra sempat membentuk koalisi sebelum PKB akhirnya berpindah dukungan.

“Menjelang Pemilu 2024, PKB dan Gerindra sudah berkoalisi, tetapi akhirnya PKB meninggalkan koalisi itu. Apalagi sekarang baru sebatas ucapan,” tegasnya.

Menurut Efriza, dukungan dini dapat dibaca sebagai cara partai-partai menjaga hubungan dengan Presiden Prabowo sekaligus menunjukkan bahwa mereka tetap berada dalam barisan pendukung pemerintah.

Sikap tersebut juga berpotensi membuka ruang negosiasi untuk kepentingan politik mereka.

“Dukungan ini memberi kesan bahwa partai-partai solid bersama pemerintah dan loyal kepada Presiden Prabowo,” jelasnya.

Ia mengaitkan kalkulasi tersebut dengan dinamika pembentukan dan perubahan struktur pemerintahan, termasuk perombakan kabinet.

Dalam pandangannya, dukungan politik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga akses terhadap pusat kekuasaan dan memperjuangkan posisi strategis di pemerintahan.

“Partai-partai tentu berharap mendapat posisi strategis. Reshuffle ketujuh, misalnya, memberi keuntungan bagi PAN dan Golkar setelah memberikan dukungan. Hal serupa bisa saja dipikirkan PKB,” katanya.

Keuntungan Politik dan Ujian Soliditas Koalisi

Efriza menilai dukungan dari Golkar, PAN, dan PKB lebih mencerminkan kalkulasi politik jangka pendek daripada komitmen jangka panjang untuk Pilpres 2029.

“Dukungan dini ini lebih seperti strategi mempertahankan posisi dalam pemerintahan, menjaga akses komunikasi, dan memperkuat daya tawar,” kata Efriza.

Ia menilai langkah tersebut lebih berkaitan dengan kepentingan praktis partai dalam menjaga posisi di pemerintahan.

“Jadi, kepentingannya lebih pragmatis dan jangka pendek, bukan sepenuhnya karena kepentingan rakyat,” ujarnya.

Meski demikian, dukungan yang disampaikan secara terbuka belum cukup untuk menyimpulkan bahwa koalisi pemerintahan telah solid menghadapi Pilpres 2029. Menurut Efriza, soliditas perlu dilihat dari konsistensi tindakan partai, bukan hanya pernyataan elite.

“Apakah ini bentuk soliditas koalisi? Saya kira belum. PAN, Golkar, dan PKB tidak selalu satu kata antara pernyataan dan tindakan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa koalisi yang solid semestinya memiliki agenda yang sejalan, konsisten mendukung kebijakan yang telah disepakati, serta mampu menjaga kerja sama ketika menghadapi perbedaan kepentingan.

Soliditas harus dibuktikan melalui kesamaan agenda dan konsistensi dukungan. Kenyataannya, partai-partai ini belum sepenuhnya solid bersama Prabowo.

Ketika Pilpres 2029 Mulai Dibicarakan, Bagaimana dengan Tanggung Jawab Partai?

Selain soal strategi dan daya tawar, Efriza juga menyoroti dimensi etika dari dukungan yang disampaikan jauh sebelum tahapan pemilu dimulai.

Menurutnya, partai politik memiliki tanggung jawab untuk mengawal kebijakan pemerintah secara objektif. Jika dukungan terhadap presiden lebih didorong kepentingan mempertahankan akses kekuasaan, fungsi pengawasan partai berisiko terpengaruh oleh kalkulasi politik.

“Jika dukungan lebih didorong kepentingan akses kekuasaan, objektivitas partai dalam mengawal pemerintah bisa tergeser,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa agenda pemilu masih berjarak beberapa tahun. Karena itu, partai semestinya tidak hanya sibuk menghitung peluang pencalonan, tetapi juga memastikan janji politik dan program pemerintah berjalan sesuai kepentingan masyarakat.

“Pemilu masih sekitar tiga tahun lagi. Partai seharusnya tidak terlalu dini terjebak dalam kalkulasi pencalonan dan melupakan tanggung jawab kepada rakyat,” jelasnya.

Pada akhirnya, kata Efriza, persoalannya bukan semata-mata apakah dukungan kepada Prabowo disampaikan terlalu cepat. Yang lebih penting adalah apa yang mendasari dukungan tersebut: evaluasi atas kinerja pemerintahan dan kesamaan agenda kebijakan, atau kepentingan menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan.

“Yang penting bukan cepat atau lambatnya dukungan, melainkan dasar dukungan itu. Apakah karena evaluasi kinerja atau demi mempertahankan akses kekuasaan? Perkiraannya, yang terakhir,” pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com