-
Kapten MT Honour 25 Ashari Samadikun selamat usai disandera perompak Somalia selama lima bulan.
-
Operasi pembebasan militer Puntland mengakibatkan lima ABK meninggal dunia dan lima lainnya terluka.
-
Empat pelaut asal Indonesia berhasil dipulangkan ke tanah air pada 6 Oktober 2026.
Suara.com - Perjuangan bertahan hidup selama lebih dari lima bulan di perairan Somalia meninggalkan luka traumatis mendalam bagi Nahkoda Kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun. Pelaut asal Kabupaten Gowa tersebut masih sering panik setiap kali mendengar bunyi benturan keras yang menyerupai dentuman senjata api.
Inisiatif diplomasi keagamaan dan keahlian bernegosiasi sang kapten menjadi kunci utama selamatnya belasan awak kapal dari ancaman pembunuhan. Kepemimpinan Ashari di atas kapal tanker tersebut berhasil meredam emosi kelompok pembajak bersenjata sejak awal perampasan.
Pengalaman ekstrem ini memberikan gambaran nyata mengenai besarnya risiko keamanan maritim yang mengintai para pelaut internasional di sekitar tanduk Afrika. Taktik pendekatan persuasif terbukti mampu melunakkan sikap ekstrem para milisi pemegang senjata.
Aksi pembajakan bermula ketika gerombolan bersenjata menyergap kapal tanpa perlawanan pada 21 April 2026. Seluruh kru yang tidak dibekali senjata api langsung dikumpulkan dalam posisi menunduk di depan kamar nahkoda.
"Jadi hari itu cuma saya yang berdiri. Saya bilang: 'Tenang, jangan takut, jangan ada panik, jangan berbuat apa-apa'. Jadi semua kru saya itu tunduk, jongkok, angkat tangan semua. Cuma saya berdiri," terang Ashari kepada jurnalis M Aidil yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
"Baru ditodong semua [senjata] di situ," katanya.
Nahkoda berupaya meyakinkan para perompak agar tidak melepaskan tembakan ke arah belasan anak buah kapal. Pendekatan berbasis kesamaan keyakinan langsung digunakan untuk meluluhkan situasi yang sangat tegang.
"Saya bilang: 'Don't shoot, I am Muslim' (Jangan tembak, saya Muslim). Langsung dia [perompak] bilang: 'Ok, no shoot," kata Ashari.
"Dia [perompak] bilang: 'Mana kapten?' Saya bilang: 'Saya kapten. Assalamu'alaikum'. Dia bilang: 'Waalaikumsalam," paparnya.
"Saya bilang: 'Saya muslim, kalian muslim, semua muslim bersaudara'."
Siasat meredakan emosi perompak dilanjutkan dengan mengajak seluruh rombongan melakukan ibadah bersama. Langkah spiritual ini terbukti efektif mencegah tindakan kekerasan fisik terhadap para sandera.
"Saya awalnya itu minta izin salat Ashar, habis itu kami salat berjamaah semua. Mulai di situ, mereka [perompak] agak turun [emosi]. Cuma kami tetap ditodong [senjata]. Alhamdulillah kami tidak diikat dan dipukul," tambah Ashari.
Kelompok pembajak kemudian menguras uang tunai operasional kapal sebesar US$4.400 beserta seluruh telepon seluler milik kru. Beruntung, sinyal darurat Ship Security Alert System (SSAS) sempat diaktifkan kapten sebelum kamarnya dikuasai perompak.
Penyanderaan selama berbulan-bulan tanpa kiriman logistik memaksa belasan pelaut mengandalkan alat pancing seadanya demi bertahan hidup. Kelangkaan air bersih dan rusaknya mesin pembuat air tawar makin memperburuk krisis kesehatan di atas kapal.
"Seingat saya, selama hampir lima bulan itu, kami disuplai kambing 15 ekor. Itu pun kambingnya kurus-kurus, kecil. Tapi mau bagaimana lagi,"