Bukan Lagi Politisi Aktif, SBY: Sekarang Hanya Mentor dan Mendoakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:18 WIB
Susilo Bambang Yudhoyono. [Instagram]
BACA 10 DETIK
  • Mantan Presiden SBY menegaskan kini fokus menjadi seniman dan menyerahkan urusan politik kepada generasi muda.
  • SBY menyampaikan pernyataan tersebut dalam orasi ilmiah pada acara Dies Natalis Ke-68 FISIP Unpad.
  • SBY mengingatkan politisi agar mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai politik.

Suara.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan jalan yang kini ia ambil sebagai seorang seniman. Tidak lagi aktif berpolitik dan menyerahkan ke generasi muda.

Hal itu disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad).

“Saya sekarang seniman, tidak lagi aktif di politik praktis, politik kekuasaan, apalagi day to day politics. Sudah ada generasi yang lebih muda,” kata SBY di kanal YouTube HUMAS FISIP Unpad, dikutip Rabu (14/10/2026).

Sebagai generasi tua, SBY menyadari perannya kini hanya sebagai mentor yang mendorong. SBY tidak lagi memilih aktif di gelanggang.

“Orang tua mentor hanya memberikan dorongan. Rest to blessing, agar mereka sukses dalam menjalankan misi politik,” kata SBY.

“Politik itu keras, politik itu kejam, tapi tetap ada moralnya, ada etikanya. Nah di situlah pilihan yang mesti kita pilih,” sambung SBY.

SBY Ingatkan Politisi

Sebelumnya SBY mengingatkan pentingnya mengutamakan bangsa dan negara, ketimbang partai politik.

Menurut SBY, hal itu yang membedakan seorang politisi dengan seorang negarawan.

SBY mengatakan seorang politisi biasanya hanya memikirkan pemilihan umum berikutnya.

“Kalau gubernur, bupati, wali kota, presiden semoga terpilih kembali. Itu sah, tidak salah. Anggota DPR RI, DPD, DPRD terpilih kembali, tidak salah. Politisi, tapi negarawan harus memikirkan masa yang jauh ke depan,” tutur SBY.

SBY menegaskan stempel negarawan bukan hanya mereka yang pernah memimpin negara. Ia berujar setiap orang bisa menjadi negarawan.

“Statesman. Statesman itu tidak harus mantan presiden, bukan, semua bisa menjadi negarawan. Kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya, country over party, country first, jangan dibalik,” kata SBY.

SBY mengatakan jangan partai politik yang diutamakan, namun negara belakangan. Hal ini menjadi salah.

“Ada kata-kata loyalty to my party, yang punya partai politik, ends when loyalty to my country begins,” kata SBY.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com