Langit Kuning Palangka Raya akibat Karhutla, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi Langit Kuning Palangka Raya akibat Karhutla. (Suara.com/Syahda)
BACA 10 DETIK
  • BMKG mencatat kualitas udara Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap karhutla pada Rabu dan Kamis, 14–15 Oktober 2026.
  • Partikel halus PM2.5 dari kebakaran vegetasi dapat masuk ke paru-paru dan memicu penurunan fungsi paru serta penyakit pernapasan kronis.
  • Warga disarankan membatasi aktivitas luar ruangan serta mengenakan masker N95, KN95, atau KF94 yang terpasang rapat dengan benar.

Suara.com - Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berubah menjadi kuning hingga kecokelatan di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada siang hari, pekatnya asap bahkan membuat suasana tampak gelap seperti malam.

Pemandangan tersebut bukan sekadar perubahan warna langit yang mengganggu jarak pandang. Di baliknya, terdapat partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Palangka Raya berada pada kategori berbahaya pada Rabu (14/10/2026). Kondisi tersebut juga menandai hari ke-37 berturut-turut masyarakat setempat terpapar udara tidak sehat.

Lantas, mengapa langit bisa berubah menjadi kuning kecokelatan saat karhutla terjadi? Seberapa berbahaya asap yang menyelimuti kota bagi kesehatan manusia?

Mengapa Langit Berubah Kuning Kecokelatan?

Dalam kondisi normal, langit tampak biru karena molekul udara lebih kuat menghamburkan cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek, terutama cahaya biru, dibandingkan cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang.

Namun, ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, atmosfer dipenuhi partikel asap dari pembakaran vegetasi dan material organik. Partikel-partikel tersebut mengubah cara cahaya matahari melewati atmosfer.

Asap pekat dapat menyerap dan menghamburkan cahaya dengan cara berbeda dari atmosfer yang relatif bersih. Akibatnya, intensitas cahaya yang mencapai permukaan bumi berkurang, sementara warna langit dapat bergeser menjadi kuning, jingga, atau kecokelatan.

Salah satu komponen yang berperan adalah brown carbon, yakni material karbon berwarna kecokelatan yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna. Komponen ini dapat menyerap cahaya, terutama pada panjang gelombang yang lebih pendek, sehingga turut memengaruhi warna langit ketika asap menumpuk.

Perubahan warna langit tidak bisa digunakan untuk mengukur besarnya api secara langsung. Warna yang terlihat dipengaruhi oleh konsentrasi dan komposisi partikel asap, kondisi atmosfer, serta posisi matahari.

Meski begitu, langit yang menguning dan jarak pandang yang menurun menjadi tanda kondisi lingkungan yang perlu diwaspadai, terlebih ketika pengukuran menunjukkan tingginya konsentrasi polutan di udara.

PM2.5, Partikel Kecil yang Bisa Masuk Jauh ke Paru-paru

Salah satu ancaman kesehatan dari asap karhutla berasal dari particulate matter 2.5 atau PM2.5. Partikel ini memiliki diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat terhirup hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.

PM2.5 dapat berasal dari pembakaran material organik, termasuk kayu dan lahan gambut. Ketika terhirup, partikel halus tersebut dapat memicu iritasi, peradangan, dan stres oksidatif yang mengganggu pertahanan alami saluran pernapasan.

Pakar paru Universitas Airlangga (Unair), Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, mengingatkan bahwa dampak paparan tidak hanya muncul dalam bentuk keluhan sesaat.

“Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,” kata Alfian.

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit paru yang menyebabkan hambatan aliran udara dan gangguan pernapasan. Bagi orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan, paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sebelumnya dialami.

Risiko kesehatan tidak hanya bergantung pada seberapa pekat asap yang terlihat. Durasi paparan, konsentrasi partikel, dan kondisi kesehatan seseorang turut memengaruhi dampaknya.

Infografis Langit Kuning Palangka Raya akibat Karhutla. (Suara.com/Syahda)

Cara Membedakan Keluhan Akibat Asap dan Infeksi Saluran Pernapasan

Keluhan akibat paparan asap karhutla terkadang sulit dibedakan dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Keduanya dapat menimbulkan batuk dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

Namun, ada sejumlah gejala yang dapat menjadi petunjuk awal. Paparan polutan asap umumnya dapat menimbulkan mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada terasa berat, terutama setelah seseorang berada di lingkungan berasap.

“Sementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya lebih sering ditandai dengan demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah,” jelas Alfian.

Meski demikian, gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan penyebab gangguan pernapasan tanpa pemeriksaan medis. Paparan asap dan infeksi juga dapat terjadi bersamaan.

“Keluhan akibat paparan asap dan infeksi memang bisa terlihat mirip. Namun, jika gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap harus segera dilakukan,” tegasnya.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan penyakit penyerta, serta pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan. Kelompok tersebut berisiko mengalami dampak kesehatan lebih berat akibat polusi udara.

Masker N95 hingga KN95, Apa yang Perlu Dilakukan saat Asap Mengepung?

Mengurangi paparan menjadi langkah utama untuk melindungi kesehatan selama karhutla berlangsung. Masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok dan obat nyamuk bakar.

Alfian menekankan pentingnya penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, terutama bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

“Masker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,” paparnya.

Masker tersebut harus digunakan dengan benar agar menutup hidung dan mulut secara rapat. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi efektivitas penyaringan partikel.

Selain mengenakan masker, warga sebaiknya mengurangi waktu berada di luar ruangan saat asap pekat. Jika memungkinkan, beraktivitaslah di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih dan pastikan ventilasi tidak memasukkan asap dari luar.

Apabila sudah terpapar asap, warga disarankan segera menjauh dari sumber paparan dan beristirahat di tempat dengan kualitas udara lebih baik.

Alfian juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat, khususnya antibiotik atau steroid, tanpa pemeriksaan dokter. Obat-obatan tersebut tidak selalu diperlukan untuk keluhan yang muncul akibat paparan polutan.

“Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan,” pesan Alfian.

Kualitas Udara Palangka Raya Masih Berada di Kategori Berbahaya

Seiring masih terjadinya karhutla, kualitas udara di Palangka Raya masih berada dalam kategori berbahaya pada Kamis (15/10/2026) sore.

Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 230,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut menempatkan kualitas udara Palangka Raya pada kategori berbahaya atau kategori hitam. Kondisi ini sekaligus menandai hari ke-37 berturut-turut kualitas udara tidak sehat akibat kepungan kabut asap.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com