- UPS Badan Air Kelapa Gading meraih juara umum Festival Perahu Cilung 2026 di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
- Tim membuat perahu berbentuk Garuda Wisnu Kencana dari seribu botol dan tujuh ratus galon plastik bekas.
- Perahu rakitan tersebut dilengkapi pertunjukan teatrikal bertema Bali dan rencananya akan dipajang di Kelapa Gading.
Suara.com - Unit Pengelola Sampah Badan Air (UPS BA) Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, keluar sebagai juara umum Festival Perahu Cinta Lingkungan (Cilung) 2026 yang digelar di Danau Sunter Selatan, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Perahu rakitan UPS BA Kelapa Gading berbentuk monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) dengan ornamen dominan emas berhasil mengungguli 42 perahu rakitan dari kecamatan lainnya.
Pengawas UPS BA Kelapa Gading, Yayan, mengatakan monumen GWK di Bali menjadi inspirasi utama timnya dalam menciptakan karya seni berbahan limbah daur ulang.
Menurut Yayan, GWK memiliki nilai artistik tinggi dan kesan elegan. Timnya kemudian mencoba memadukan kemegahan monumen tersebut dengan bahan limbah plastik yang selama ini dianggap sederhana.
"GWK itu kalau kita lihat kan lebih artistiknya kan karena senimannya luar biasa bagus, ya, kan," katanya kepada Suara.com.
Untuk membuat perahu tersebut, Yayan menuturkan timnya menggunakan sekitar 1.000 botol plastik dan 700 galon air mineral bekas yang dikumpulkan dari limbah rumah tangga warga sekitar.
"Ya, kurang lebih itu kita habis 1.000 botol, terus sama galon itu kurang lebih 700," jelas Yayan.
Seluruh personel UPS BA Kelapa Gading terlibat dalam proses pengerjaan yang berlangsung selama tiga bulan.
Pemilihan warna emas juga bukan tanpa alasan. Warna tersebut dipilih untuk menonjolkan kesan megah dan elegan sesuai dengan interpretasi tim terhadap monumen GWK, meski membutuhkan biaya tambahan.
"Jadi terkesan lebih elegan," ujar dia.
Tak hanya mengandalkan bentuk dan ornamen, perahu GWK tersebut juga dilengkapi pertunjukan teatrikal yang menampilkan Hanoman dan penari Bali.
Yayan mengatakan timnya mempelajari gerakan dan penampilan tersebut secara mandiri melalui video di YouTube sebelum membawakannya dalam pertunjukan berdurasi lima menit.
"Itu kita belajar ya tipis-tipis dari YouTube. Ya, kita perform 5 menit. Ya, cukuplah kita lihat dari belajar, belajar dari video-video di YouTube, kayak gitu," tambah dia.
Setelah kompetisi berakhir, perahu GWK tersebut rencananya akan dipajang di wilayah Kelapa Gading sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat yang turut berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan.
Yayan pun mengajak masyarakat untuk tidak memandang sampah plastik sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, limbah dapat diubah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus ekonomi.
"Jadi, jangan pikir sampah sekecil itu enggak ada nilainya, itu bisa banyak manfaatnya buat kita jadi karya untuk kita juga lagi ke depannya," tutupnya.
Reporter: Alif Bintang