Fadli Zon Ingin Indonesia Jadi Pusat Kebudayaan Dunia, Ini Strateginya

Senin, 19 Oktober 2026 | 12:34 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon. (dok, ist)
BACA 10 DETIK
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong Indonesia menjadi pusat kebudayaan dunia dalam kuliah umum di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
  • Strategi pemajuan budaya mencakup penguatan riset sejarah Nusantara, pelindungan warisan budaya, serta pengembangan potensi ekonomi secara berkelanjutan.
  • Pemerintah melibatkan generasi muda dan perguruan tinggi guna melestarikan serta menciptakan inovasi baru berbasis budaya lokal.

Suara.com - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia. Dengan kekayaan tradisi, bahasa, seni, hingga peninggalan arkeologi, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk memperkuat identitas nasional sekaligus meningkatkan peran dalam percaturan budaya global.

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa atau kelompok etnis, serta 718 bahasa daerah. Keragaman tersebut tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai kekuatan diplomasi, sumber pengetahuan, dan peluang ekonomi.

“Indonesia bukan sekadar negara yang memiliki keberagaman budaya, tetapi merupakan negara dengan megadiversitas kebudayaan. Kekayaan ini adalah modal strategis untuk memperkuat identitas nasional, membangun karakter bangsa, serta menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam perkembangan peradaban manusia,” ujar Fadli Zon dalam Kuliah Umum bertajuk ‘Indonesia sebagai Megadiversity Kebudayaan: Strategi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Warisan Budaya Bangsa’ yang diselenggarakan di Oakwood Hotel & Apartments Taman Mini Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Fadli, kebudayaan juga berperan sebagai perekat sosial yang menyatukan masyarakat di tengah perbedaan. Di tingkat internasional, kekayaan budaya dapat menjadi soft power untuk memperkuat hubungan dan diplomasi Indonesia dengan negara lain.

Memperkuat Riset dan Narasi Sejarah Indonesia

Salah satu strategi yang didorong adalah memperkuat penelitian dan memperluas pemahaman mengenai sejarah serta peradaban Nusantara. Indonesia memiliki sejumlah situs arkeologi penting, seperti Sangiran, Trinil, Ngandong, dan Flores, yang menyimpan bukti kehidupan manusia purba.

Fadli menyoroti gagasan Out of Nusantara, sebuah perspektif yang mengajak masyarakat melihat posisi Nusantara dalam sejarah evolusi manusia dan perkembangan peradaban. Gagasan tersebut menempatkan Indonesia sebagai wilayah penting untuk dikaji dalam penelitian mengenai kehidupan manusia purba dan sejarah panjang kawasan ini.

Penguatan riset, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan upaya memulihkan narasi sejarah dan menjaga kedaulatan budaya. Dengan begitu, pengetahuan mengenai warisan Indonesia dapat berkontribusi lebih luas dalam diskusi ilmiah internasional.

Melindungi Warisan Budaya agar Tetap Hidup

Strategi berikutnya adalah memperkuat perlindungan dan pengembangan warisan budaya, baik yang berwujud benda maupun tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam materi terkait pemajuan kebudayaan, Indonesia telah mencatatkan 2.727 elemen Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional, dengan potensi inventarisasi yang diperkirakan mencapai 30.000 elemen. Sebanyak 16 elemen di antaranya telah memperoleh pengakuan UNESCO.

Sementara itu, Indonesia memiliki 313 cagar budaya atau situs warisan budaya tingkat nasional, dengan enam situs memperoleh pengakuan UNESCO.

Warisan tersebut mencakup beragam bentuk ekspresi budaya, mulai dari seni pertunjukan, tari, musik, manuskrip, tradisi lisan, ritus, dan adat istiadat hingga permainan rakyat, olahraga tradisional, serta kuliner lokal.

Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda bersejarah atau mendokumentasikan tradisi. Regenerasi pelaku budaya, penelitian, pewarisan pengetahuan, dan penyediaan ruang apresiasi juga diperlukan agar kebudayaan tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.

“Pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjaga benda atau mendokumentasikan tradisi. Kita juga harus memastikan bahwa pengetahuan, nilai, keterampilan, dan praktik budaya tetap diwariskan serta dapat dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman,” kata Fadli.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com