Siswa SMA Bongkar Ancaman Aparat Kepolisian: Ikut Demo Bakal Dikeluarkan dari Sekolah

Senin, 19 Oktober 2026 | 17:11 WIB
ilustrasi demo
BACA 10 DETIK
  • Mahasiswa dan pelajar SMA di Albania menggelar demonstrasi bertajuk Flamingo Revolution sejak 13 Oktober 2026.
  • Aksi tersebut menuntut perbaikan sistem pendidikan dan mendesak Perdana Menteri Edi Rama agar mundur.
  • Peserta aksi melaporkan adanya intimidasi dan ancaman pengeluaran sekolah dari aparat kepolisian terhadap pelajar.

Suara.com - Aksi demonstrasi tengah memanas di sejumlah negara di Eropa, salah satunya di Albania.

Demo di Albania digerakkan oleh mahasiswa dan pelajar SMA menuntut perbaikan sistem pendidikan di negara tersebut.

Aksi demo di Albania dimulai pada Selasa 13 Oktober 2026 dan dikenal dengan istilah Flamingo Revolution.

Kekinian aksi di Albania ini juga menjadi gerakan antipemerintah yang mendesak Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.

Terbaru, aksi demo di Albania diwarnai dengan tudingan intimidasi terhadap peserta aksi oleh aparat kepolisian.

Seorang siswi kelas tiga sekolah menengah atas (SMA) mengaku mendapat ancaman dikeluarkan dari sekolah jika bergabung dalam demonstrasi.

Dari Kampus ke Jalanan, Flamingo Revolution di Albania Makan Korban 272 Orang [Istimewa]

Dikutip dari media Albania, News24, Senin (19/10/2026), para pelajar dan mahasiswa masih menggelar aksi dengan duduk bersila di jalan. Mereka meneriakkan protes terhadap pemerintah sekaligus menuntut pemenuhan hak-hak mereka.

Para demonstran juga menentang dugaan tekanan dan ancaman terhadap anak muda yang ikut menyuarakan aspirasi. Mereka menilai tindakan tersebut membatasi kebebasan pelajar untuk menyampaikan pendapat.

Dalam wawancara dengan News24 dan jurnalis Xhensila Kodra, seorang siswi kelas tiga SMA mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi yang dihadapi generasi muda Albania.

Ia menilai anak-anak muda seolah didorong untuk meninggalkan negara mereka demi mencari masa depan yang lebih baik di luar negeri.

“Kami ingin hak-hak kami. Hak-hak itu sedang dicuri dari kami. Mereka membuat kami terpaksa pergi ke luar negeri,” ujar siswi tersebut.

Ia juga mempertanyakan sikap aparat kepolisian yang menurutnya berhadapan langsung dengan para pelajar dalam aksi demonstrasi tersebut.

“Bagaimana polisi-polisi itu bisa tidur nyenyak, padahal mereka juga memiliki anak? Bagaimana mereka tidak merasa kasihan?” katanya.

Siswi tersebut mengaku keluarganya tidak mengetahui bahwa dirinya sedang mengikuti demonstrasi. Ia menyebut keluarganya khawatir terhadap kemungkinan reaksi dari pihak-pihak yang berhadapan dengan para demonstran.

“Satu pun anggota keluarga saya tidak tahu bahwa saya berada di sini. Mereka takut kepada orang-orang yang berbaris di sana untuk memukuli kami,” tuturnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com