Ikut Demo Paris, Seorang Koki Divonis 8 Bulan Penjara Usai Ketahuan Lempar Bom Molotov

Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:03 WIB
kerusuhan di Prancis (X.com)
BACA 10 DETIK
  • Pengadilan Prancis menjatuhkan hukuman penjara bagi demonstran yang terbukti melakukan tindakan anarkistis.

  • Unjuk rasa terpicu tuntutan perbaikan pendidikan dan protes atas melonjaknya harga kebutuhan pokok.

  • Kerusuhan massal yang melibatkan 550.000 orang diwarnai aksi penjarahan butik mewah di Paris.

Suara.com - Otoritas peradilan Prancis mulai menjatuhkan hukuman penjara bagi sejumlah pengunjuk rasa yang bertindak anarkistis saat gelombang demo melanda Paris.

Langkah tegas ini diambil guna meredam eskalasi kerusuhan yang kian meluas di berbagai kota besar. Seorang koki berusia 21 tahun yang pernah bertugas sebagai pemadam kebakaran menerima vonis delapan bulan penjara.

Pemuda tersebut wajib mendekam di balik jeruji besi selama dua bulan masa tahanan langsung. Aparat meringkusnya sebelum demonstrasi bermula karena kedapatan membawa delapan botol minuman beralkohol di dalam tas.

Dikutip dari Sputnik, polisi juga menemukan rekaman video di ponselnya yang merekam aksinya melempar bom molotov sehari sebelum penangkapan. Hukuman berbeda dijatuhkan kepada seorang petugas keamanan berusia 23 tahun berupa vonis satu tahun penjara dengan masa percobaan.

Hakim melarang pria tersebut mendatangi lokasi unjuk rasa serta menguasai senjata api selama 12 bulan ke depan.

Polisi mengamankan pria itu akibat menyalakan bahan piroteknik saat berhadapan langsung dengan petugas di kawasan Champs-Elysees.

Kedua terdakwa tersebut diproses melalui mekanisme peradilan cepat meski tidak memiliki rekam jejak kejahatan sebelumnya.

Protes massal ini semula terpicu oleh aksi pelajar sekolah menengah atas di wilayah pinggiran Paris pada pertengahan September.

Para siswa menuntut pembenahan kualitas serta fasilitas sistem pendidikan di sekolah mereka.

Gelombang protes dengan cepat membesar saat warga yang tertekan oleh lonjakan harga kebutuhan pokok ikut bergabung.

Kombinasi kekecewaan isu pendidikan dan krisis biaya hidup ini memicu eskalasi demonstrasi ke seluruh penjuru negeri.

Puncaknya terjadi pada aksi nasional yang mengerahkan sekitar 550.000 orang menurut catatan Kementerian Dalam Negeri Prancis.

Aksi damai tersebut akhirnya pecah menjadi kerusuhan besar yang diwarnai tindakan vandalisme serta penjarahan toko.

Kelompok anarkis merusak etalase toko dan menggasak barang dagangan dari sejumlah butik mewah di Paris dan Marseille.

Penindakan hukum secara cepat ini menjadi sinyal keras pemerintah untuk menghentikan aksi kriminal di tengah gelombang protes warga.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com