BNPB Catat 2.179 Bencana hingga Oktober 2026, Karhutla Paling Mendominasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:05 WIB
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026) (ANTARA/Walda Marison)
BACA 10 DETIK
  • BNPB mencatat 2.179 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026.
  • Rangkaian bencana tersebut menyebabkan 422 orang meninggal dunia, 21 hilang, dan lebih dari 5,8 juta warga mengungsi.
  • BNPB memprioritaskan pemadaman karhutla seluas 1.024 hektare di enam provinsi hingga 19 Oktober 2026.

Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.179 kejadian bencana terjadi di Indonesia sejak Januari hingga 20 Oktober 2026. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi, dengan jumlah mencapai 1.000 kejadian.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan bencana lain yang juga banyak terjadi adalah banjir sebanyak 580 kejadian dan kekeringan sebanyak 122 kejadian.

“Dari angka ini kita melihat bahwa memang karhutla tahun ini ada 1.000 dari 2.179 kejadian adalah karhutla,” kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2026).

BNPB juga mencatat 108 kejadian tanah longsor, 37 kejadian cuaca ekstrem, 14 kejadian gempa bumi, 14 kejadian gelombang pasang tinggi atau abrasi, serta empat kejadian erupsi gunung api.

Rangkaian bencana tersebut menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Hingga 20 Oktober 2026, BNPB mencatat 422 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan 3.259 orang mengalami luka-luka.

Sementara itu, jumlah warga yang menderita dan mengungsi akibat bencana mencapai lebih dari 5,8 juta orang.

Karhutla di Enam Provinsi Masih Ditangani

Di tengah tingginya jumlah kejadian bencana, BNPB memprioritaskan penanganan karhutla di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.

Berton menyebut luas lahan yang menjadi target pemadaman di enam provinsi tersebut mencapai 1.024 hektare. Hingga Senin (19/10/2026), sebanyak 454 hektare telah dipadamkan, sedangkan 570 hektare lainnya masih belum padam.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan luas lahan yang belum padam paling besar, yakni 389 hektare. Berikutnya, Sumatera Selatan mencatat 108 hektare lahan yang masih belum padam.

“Dan ini tentu kita tahu bahwa penyumbang untuk asap saat ini berasal dari Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan,” ujar Berton.

Ia menegaskan BNPB terus melakukan penanganan karhutla di enam provinsi tersebut. Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi perhatian karena masih memiliki luasan lahan yang belum padam paling besar.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com