Suara.com - Pengembangan biodiesel menjadi salah satu strategi Indonesia untuk menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Nmaun, ambisi tersebut justru memperbesar pemanfaatan energi berbasis minyak sawit menghadapi permasalahan ekologis yang tidak bisa dihiraukan.
Ketergantungan terhadap minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ini berisiko meningkatkan tekanan terhadap lahan.
Di tengah upaya mendorong transisi energi, pemerintah perlu memastikan bahwa kebutuhan bahan bakar tidak harus mengorbankan kelestarian ekosistem.
Melalui kajian Menakar Ambisi dan Realitas: Masa Depan Biofuel Indonesia dalam Kerangka Kerja Transisi Energi yang Berkeadilan menyoroti risiko lingkungan dari pengembangan biofuel berbasis komoditas monokultur.
Kajian tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek kebijakan, ekonomi, teknik, sosial, hingga ekologis.
Luas Perkebunan Sawit Mendekati Batas Ekologis
Salah satu persoalan utama terletak pada keterbatasan ruang untuk memperluas perkebunan sawit.
Kajian tersebut mengutip studi Yayasan Lokahita, Madani, Satya Bumi, dan Sawit Watch yang menaksir luas maksimal tutupan sawit Indonesia sebesar 18,15 juta hektare.
Di samping itu, luas tutupan sawit saat ini diperkirakan telah mencapai 17 hingga 18 juta hekatre. Angka tersebut memperlihatkan bahwa ruang untuk ekspansi semakin terbatas jika mengacu pada batas yang diusulkan dalam studi tersebut.
Perluasan perkebunan dalam skala besar berpotensi menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.
Kajian itu menekankan potensi hilangnya keanekaragaman hayati, peningkatan emisi karbon, hingga terganggunya keseimbangan ekosistem.
Risiko itu harus menjadi pertimbangan ketika kebutuhan bahan baku biodiesel mengalami peningkatan. Pasalnya, penambahan produksi tidak harus selalu dapat dipenuhi tanpa adanya konsekuensi terhadap penggunaan lahan.
Jika ekspansi perkebunan memicu pembukaan lahan maupun perubahan ekosistem yang vital, manfaat lingkungan dari penggunaan bahan bakar nabati sebaiknya perlu ditinjau kembali.
Transisi energi sepatutnya tidak hanya berpacu pada peralihan sumber bahan bakar, melainkan juga ikut mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan itu sendiri.
Perhitungan Emisi Perlu Dilakukan Secara Lebih Menyeluruh
Adapun masalah lainnya ini berkaitan dengan cara mengukur dampak lingkungan biodiesel.
Dalam kajian tersebut menilai bahwa kelemahan sistem pemantauan, pelaporan, hingga verifikasi emisi ini belum solid.
Analisis siklus hidup atau Life Cycle Assessment (LCA) juga diduga berpotensi mengabaikan emisi dari perubahan tata guna lahan.
Padahal, dampak lingkungan dari bahan bakar tidak serta merta bersumber dari segi penggunaanya, tetapi juga dari proses produksi dan penyediaan bahan bakunya.
Tanpa perhitungan yang menyeluruh, klaim keberlanjutan biodiesel dapat menjadi bias. Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil belum dapat menyajikan secara keseluruhan dari dampaknya apabila emisi dari pembukaan lahan tidak diperhitungkan.
Oleh karena itu, penentu keberhasilan program biodiesel perlulah mencapai target produksi dan persentase pencampuran bahan bakar.
Terlebih lagi dengan didukung transparansi data emisi dan pengawasan terhadap rantai pasok juga sangat penting untuk memastikan manfaat lingkungannya.
Pendekatan tersebut dibutuhkan utuk meninjau kebijakan energi ini tidak lagi terlihat berhasil secara statistik. Dampak nyata terhadap pengurangan emisi dan perlindungan ekosistem juga harus dapat dipertanggungjawabkan.
Diversifikasi Bahan Baku Bisa Jadi Alternatif
Guna mengurangi tekanan terhadap lahan, pengembangan biodiesel perlu diikuti dengan diversifikasi bahan baku.
Ketergantungan pada minyak sawit bisa saja dikurangi secara berkala melalui pemanfaatan sumber alternatif yang sesuai kebutuhan dan kondisi Indonesia.
Beberapa alternatifnya meliputi minyak jelantah, limbah lignoselulosa, dan mikroalga. Bahan-bahan tersebut berpotensi memberi jalur pengembangan biofuel yang tidak sepenuhnya bergantung pada perluasan perkebunan.
Meski begitu, diversifikasi tidak cukup hanya dengan mengganti satu komoditas dengan tanaman monokultur berskala besar lainnya. Pengembangan bahan baku tetap perlu memperhatikan kebutuhan pangan, kondisi lahan, serta keberlanjutan ekosistem.
Bahkan dalam kajian itu turut mendesak pengembangan bioenergi yang terintegrasi dengan restorasi lahan.
Pendekatan tersebut bisa difokuskan untuk menghadirkan energi sekaligus memulihkan fungsi ekologis, selama tidak mengorbankan hutan alam dan hak masyarakat.
Sebab, tantangan pengembangan biodiesel bukan lagi pada seberapa besar produksi dapat digencarkan. Pemerintah juga perlu memastikan kembali bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan daya dukung lingkungan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Ambisi transisi energi ini perlu diiringi dengan batas ekologis yang jelas, perhitungan emisi yang transparan, serta diversifikasi bahan baku.
Tanpa langkah-langkah tersebut, upaya menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil justru dinilai sebagai pemindahan beban lingkungan ke sektor penggunaan lahan.
Penulis: Chairunisa