-
Slogan viral di Snapchat memicu gelombang aksi unjuk rasa pelajar Prancis hingga meluas ke Eropa.
-
Para siswa menduga pesan asing bahasa gaul tersebut berasal dari polisi yang menyamar di grup obrolan.
-
Aksi protes berakar dari ketidakpuasan atas kondisi fasilitas sekolah dan ketimpangan sosial di kawasan suburban.
Suara.com - Sebuah pesan singkat "Bismillah" di aplikasi Snapchat memicu gelombang demonstrasi puluhan ribu pelajar yang meluas dari Prancis hingga ke Belgia dan Italia. Kalimat yang terdengar 'aneh' di Eropa tersebut mendadak viral di media sosial setelah marak dipakai dalam poster aksi unjuk rasa serta disuarakan oleh aktivist lingkungan Greta Thunberg.
Ungkapan misterius itu muncul pertama kali saat para siswa sedang mengordinasikan aksi penutupan sekolah melalui grup percakapan daring. Fenomena unik ini menandai bentuk perlawanan generasi muda terhadap dugaan penyusupan aparat keamanan dalam komunikasi internal mereka.
"Hai, Bismillah gelap. Kapan blokadenya?" bunyi pesan dari akun bernama "Mamadou" yang dilengkapi emoji bendera Aljazair, dikutip dari Euronews.
Secara harfiah kata "Bismillah" berarti "dengan menyebut nama Allah" yang sering dipakai sebagai ungkapan memulai sesuatu, sementara "c’est les ténèbres" bermakna "ini adalah kegelapan" atau situasi yang sangat buruk.
Penggabungan kedua istilah tersebut menghasilkan kalimat absurd yang justru digunakan para siswa untuk mengejek pihak luar yang gagal meniru gaya bahasa gaul mereka.
Kombinasi bahasa Arab, bahasa gaul jalanan, dan simbol negara yang terkesan kaku langsung menimbulkan kecurigaan di kalangan remaja. Para murid menyimpulkan bahwa pengirim pesan tersebut adalah aparat kepolisian yang menyamar menjadi remaja demi menyusup ke dalam grup protes rahasia.
Kebenaran mengenai pemilik asli akun penyamar tersebut hingga kini belum terverifikasi secara independen oleh pihak berwenang. Kementerian Dalam Negeri maupun kepolisian Prancis memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait foto tangkapan layar yang beredar luas tersebut.
Sejumlah pengguna internet mengklaim berhasil melacak titik lokasi akun-akun mencurigakan tersebut berada di sekitar markas kepolisian. Kendati demikian, sebagian foto tangkapan layar yang tersebar di jejaring sosial diduga merupakan hasil rekayasa atau sekadar parodi.
Gelombang protes ini pertama kali pecah di Créteil pada 18 September lalu sebelum akhirnya menjalar ke berbagai wilayah di seluruh negeri. Para murid menyuarakan keresahan atas durasi belajar yang terlalu panjang, ruang kelas yang penuh sesak, fasilitas rusak, hingga krisis tenaga pengajar.
Sekitar 400 sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar akibat pemblokiran jalan oleh para siswa pada 2 Oktober. Masalah ini berdampak sangat parah di kawasan pinggiran kota yang dihuni masyarakat kelas pekerja dan kelompok minoritas.
Aksi mogok siswa ini kemudian menyatu dengan demonstrasi nasional terkait biaya hidup yang berujung pada kerusuhan serta penjarahan besar. Penggunaan kata unik tersebut lantas melintasi batas negara dan muncul dalam aksi solidaritas pelajar di Brussel, Bologna, Milan, hingga Berlin.
Isu keprihatinan pendidikan ini berakar dari ketimpangan fasilitas sekolah di wilayah pinggiran kota yang dihuni mayoritas warga berpenghasilan rendah. Akumulasi kekecewaan terhadap sistem pendidikan formal tersebut akhirnya meledak menjadi gerakan sosial berskala internasional.