- Founder ISMN Arif Budianto menyatakan perubahan perilaku audiens mengancam keberlanjutan industri media pada Jumat (23/10/2026).
- Masyarakat kini mendapatkan informasi langsung dari media sosial dan kecerdasan buatan tanpa membuka situs berita.
- Fenomena zero click menyebabkan penurunan klik media arus utama hingga 54 persen secara signifikan.
Suara.com - Founder Indonesia Social Media Network (ISMN) Arif Budianto menilai perubahan perilaku audiens menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri media.
Menurut dia, masyarakat kini cenderung mendapatkan informasi melalui media sosial tanpa harus mengunjungi situs berita secara langsung.
“Jadi, kalau dulu kita mendatangi media, tapi saat ini audiens yang didatangi informasi,” kata Arif dalam acara Local Media Summit di Manhattan Hotel, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Arif menjelaskan, perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan masyarakat mengakses informasi melalui platform digital. Jika sebelumnya masyarakat mencari berita melalui Google dan membuka tautan media, kini informasi lebih sering ditemukan saat mereka menggulir linimasa media sosial.
“Bangun tidur, lihat Instagram. Pulang kerja, scroll TikTok. Ada enggak yang menuju ke medianya langsung saya pikir sangat jarang sekali,” ujarnya.
Selain media sosial, Arif menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan masyarakat mendapatkan rangkuman informasi tanpa membuka situs berita.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi media karena audiens bisa memperoleh jawaban tanpa mengunjungi laman sumber informasi.
“Kita tidak lagi, masyarakat tidak lagi membutuhkan apa mencari di Google, kemudian keluar link, tapi akan keluar overviewnya di AI,” tutur Arif.
Arif juga menyinggung fenomena zero click, yakni kondisi ketika pengguna memperoleh informasi tanpa mengeklik tautan menuju situs media.
Ia menyebut media arus utama turut menghadapi dampak perubahan tersebut, dengan penurunan jumlah klik yang menurutnya mencapai 54 persen.
“Bahkan media-media mainstream, media-media besar itu mengalami penurunan clicker hingga 54%. Ini fenomena yang luar biasa,” katanya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Arif menilai media perlu memperkuat kolaborasi, membangun komunitas, serta mengembangkan sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Menurut dia, keberlangsungan media tidak cukup hanya mengandalkan produksi konten, tetapi juga membutuhkan model bisnis yang mampu menopang operasional perusahaan.
“Persoalan media adalah kita menjadi media yang berbasis sosial dan media berbasis komersial. Komersial tidak boleh dilupakan. Karena kita tidak bisa hidup tanpa komersial,” tegasnya.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini