Petani Transmigrasi Bangka Selatan Bidik Pasar SPPG, 107 Kg Sayuran Mulai Dipanen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi Petani Sedang Panen (pexels.com)
BACA 10 DETIK
  • Tim Ekspedisi Patriot IPB University mendampingi petani Batu Betumpang memasok sayuran ke SPPG Pulau Besar pada 13 Oktober 2026.
  • Program Trans-Organik melatih petani mengelola kualitas hasil panen sekaligus mendiversifikasikan saluran penjualan melalui pedagang lokal.
  • Inisiatif ini bertujuan mengatasi fluktuasi harga dan memperluas akses pasar guna meningkatkan pendapatan petani transmigrasi.

Suara.com - Petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, mulai menjajaki pasar baru untuk meningkatkan penjualan hasil panen. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University, petani setempat berpeluang memasok sayuran ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.

Langkah ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih pasti bagi petani, sekaligus membantu mereka mengatasi persoalan harga yang kerap berubah. Selain membekali petani dengan keterampilan budidaya, program pendampingan juga mendorong mereka memahami kebutuhan pembeli dan menjaga kualitas hasil panen.

Peluang kerja sama tersebut dijajaki melalui kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ketujuh yang dirangkaikan dengan panen di Demplot Trans-Organik, Desa Sumber Jaya Permai, Selasa (13/10/2026). Dalam kegiatan itu, 18 petani penggerak bersama tim memanen 107 kilogram sayuran yang terdiri atas pakcoy, selada, bayam, dan kangkung.

Petani penggerak dari Desa Sumber Jaya Permai, Ayik Sofyan, menyambut positif upaya membuka jalur pemasaran baru tersebut. Menurutnya, akses pasar dan ketidakpastian harga selama ini menjadi tantangan bagi petani dalam mengembangkan usaha pertanian.

“Selama ini, akses pasar dan ketidakpastian harga menjadi tantangan bagi petani. Melalui kegiatan ini, kami belajar tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga bagaimana menyiapkan hasil panen sesuai kebutuhan pembeli,” kata Ayik.

Ia menilai komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan bagi pengembangan usaha hortikultura di kawasan transmigrasi. Dengan pasar yang lebih terbuka, petani diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk menjual hasil panen secara berkelanjutan.

Ketua TEP IPB University, Dr. Suprehatin, S.P., M.A.B., mengatakan petani perlu memahami kebutuhan pasar agar produk yang dihasilkan dapat terserap dengan baik. Hal itu mencakup jenis sayuran yang dibutuhkan, standar kualitas, volume pasokan, hingga jadwal pengiriman.

Karena itu, pendampingan melalui program Trans-Organik tidak hanya berfokus pada teknik budidaya. Petani juga dibekali keterampilan menyortir, memilah sayuran berdasarkan kualitas, serta mengemas hasil panen agar sesuai dengan kebutuhan calon pembeli.

“Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita juga perlu memastikan produk tersebut memiliki akses pasar,” ujar Suprehatin.

Kepala SPPG Pulau Besar, Ashari Ramalan, S.T., menyambut positif peluang pasokan sayuran dari petani setempat. Namun, petani diminta berkoordinasi setidaknya satu minggu sebelum pengiriman agar jenis dan jumlah sayuran yang disediakan sesuai dengan kebutuhan SPPG.

Selain menjajaki kerja sama dengan SPPG, TEP IPB University turut membuka peluang pemasaran melalui pedagang lokal. Diversifikasi saluran penjualan ini diharapkan memberikan alternatif bagi petani ketika menghadapi perubahan permintaan pasar.

Upaya tersebut sejalan dengan arahan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara yang menekankan pentingnya pengembangan usaha berbasis kebutuhan pasar di kawasan transmigrasi. Orientasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat kegiatan ekonomi lokal.

“Jangan hanya melihat apa yang bisa dibuat, tetapi juga siapa yang akan membeli dan bagaimana produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Iftitah saat mengunjungi Kawasan Transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat, Sabtu (12/9/2026).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya menghubungkan pengetahuan perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat perlu berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan.

Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pentingnya menjaga kelancaran dan keberlanjutan produksi pangan nasional. “Tidak mungkin suatu negara bertahan survive tanpa produksi pangan yang lancar, yang aman, yang berkesinambungan,” kata Prabowo saat menghadiri panen raya jagung di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Melalui program Trans-Organik, TEP IPB University berharap petani di Batu Betumpang dapat memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan mutu sayuran, dan mengembangkan usaha hortikultura yang berkelanjutan. Upaya menghubungkan hasil panen dengan kebutuhan pasar diharapkan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan pendapatan petani di kawasan transmigrasi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com