- Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengapresiasi program AERLA Angkatan I APTISI bagi empat puluh rektor PTS di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026.
- Program pelatihan kepemimpinan yang berlangsung tanggal 21 hingga 23 Oktober 2026 tersebut bertujuan memperkuat tata kelola akademik, riset, dan kemitraan industri.
- Kemendiktisaintek berkomitmen memfasilitasi penguatan kapasitas kepemimpinan PTS serta mendengarkan masukan kebijakan dari para rektor guna mengoptimalkan pelayanan pendidikan tinggi.
Suara.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengapresiasi program pengembangan kepemimpinan rektor perguruan tinggi swasta (PTS) yang digagas Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Menurutnya, program tersebut juga dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi negeri (PTN) untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan para rektornya.
Apresiasi itu disampaikan Brian dalam prosesi wisuda APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I di Auditorium Kemendiktisaintek, Jumat (23/10/2026).
Brian menilai penguatan kepemimpinan penting agar rektor memiliki pemahaman menyeluruh mengenai dunia akademik, riset, dan pendidikan. Pemimpin perguruan tinggi juga diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi turut mempertimbangkan manfaat sosial bagi masyarakat.
“Intinya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas pemimpinan para rektor-rektor di perguruan tinggi swasta. Ini juga kesempatan juga kami menyampaikan bentuk-bentuk program-program dari kementerian kepada para rektor PTS. Program ini akan berlanjut, ini batch 1, nanti batch 2 berikutnya seperti apa,” ujar Brian.
Ia menyatakan Kemendiktisaintek berkomitmen memfasilitasi penguatan kapasitas kepemimpinan PTS untuk mendukung terciptanya ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Menurut Brian, AERLA juga menjadi ruang bagi kementerian untuk mendapatkan masukan langsung dari para rektor mengenai kebijakan pendidikan tinggi, terutama dalam meningkatkan pelayanan kepada perguruan tinggi swasta.
“Selain kami bisa memberikan sosialisasi terkait program dikti dalam kegiatan ini, dan kami juga mendapatkan masukan-masukan terkait berbagai kebijakan kami, mana yang masih kurang, terutama untuk melayani perguruan tinggi swasta. Itu bisa kami optimalkan,” katanya.
Brian berharap para peserta AERLA dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada rektor lain di wilayah masing-masing. Dengan begitu, praktik baik pengelolaan perguruan tinggi dapat diterapkan lebih luas.
Ia juga menilai pengalaman sejumlah PTS yang telah berkembang dengan baik perlu menjadi referensi bagi perguruan tinggi lain untuk meningkatkan kualitas tata kelola dan kepemimpinan.
“Praktik-praktik baik yang sudah berjalan di PTS yang hari ini dikumpulkan itu diharapkan bisa ditularkan kepada kepemimpinan pada selanjutnya,” ujar Brian.
AERLA Angkatan I diikuti 40 rektor dari PTS bereputasi unggul. Program yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 tersebut berfokus pada penguatan kepemimpinan, kolaborasi riset, dan kemitraan industri.
Ketua Umum APTISI, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, mengatakan program ini dirancang sebagai wadah berbagi praktik baik, pertukaran pengalaman, dan perumusan solusi atas tantangan pendidikan tinggi.
APTISI berencana melanjutkan pelatihan secara bertahap serta mendorong rektor yang telah mengikuti program untuk mendampingi perguruan tinggi lain. Pendampingan juga akan diprioritaskan bagi PTS di wilayah Indonesia tengah dan timur yang membutuhkan dukungan pengembangan.
Sementara itu, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Muhammad Isa Indrawan, menilai AERLA memberikan kesempatan bagi para rektor untuk saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan kampus sekaligus memperluas wawasan mengenai tantangan pendidikan tinggi di tingkat global.