Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 10:30 WIB
Jenderal Maruli Simanjuntak dilantik menadi Wakil Panglima TNI menggantikan Jenderal Tandyo. [Suara.com]
BACA 10 DETIK
  • Presiden Prabowo Subianto menugaskan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPPDT.
  • Egy Massadiah membagikan kisah persahabatan panjang serta rekam jejak kepemimpinan Maruli dalam pengabdian militernya.
  • Maruli diharapkan mampu memperkuat keterpaduan TNI serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan dan terpencil.

Dalam pandangan Egy, Maruli merupakan sosok yang tekun, bersahaja, spontan, dan penuh kelakar. Meski berdarah Batak, Maruli kerap melontarkan celetukan dengan nuansa Sunda karena lama tinggal di Bandung.

Egy juga melihat nilai-nilai yang dipelajari Maruli melalui judo tercermin dalam cara ia bekerja. Di atas tatami, kekuatan membutuhkan kendali dan setiap gerakan menuntut ketepatan.

Prinsip itu, menurut Egy, terlihat dalam kebiasaan Maruli membaca persoalan, mencari jalan keluar, kemudian bergerak menyelesaikannya.

Ia mengikuti perjalanan karier Maruli dari Kopassus, Paspampres, Korem 074/Warastratama, Kodam IV/Diponegoro, Kodam IX/Udayana, Kostrad, hingga memimpin TNI Angkatan Darat.

Meski pangkat dan tanggung jawab terus bertambah, hubungan personal keduanya tidak berubah.

"Bagi saya, ia tetap 'Ucok'," tulis Egy.

Ia juga mengingat kebiasaan Maruli ketika menjabat Pangkostrad dan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).

Maruli kerap berjalan kaki sambil berolahraga ringan dari rumah dinasnya di belakang Balai Kartini menuju kantor, bertepatan dengan matahari terbit.

Menjaga Tanpa Membatasi

Salah satu pengalaman yang membekas bagi Egy terjadi dalam perjalanan rombongan Jusuf Kalla dari London menuju New York.

Sebelum menghadiri Sidang Umum PBB, rombongan lebih dahulu singgah di London untuk menghadiri agenda Wakil Presiden di sebuah kampus. Dalam kesempatan itu, cucu Jusuf Kalla ingin menonton pertandingan Liverpool melawan Tottenham Hotspur. Jusuf Kalla pun ikut menyaksikan laga tersebut.

Maruli bersama personel Paspampres menjalankan tugas pengamanan, termasuk ketika rombongan menggunakan kereta di tengah kerumunan suporter sepak bola.

Bagi Egy, pengalaman itu memperlihatkan kemampuan Maruli dan timnya menjaga keamanan tanpa menghilangkan keleluasaan orang yang dikawal.

Tanggung jawab tetap dijalankan di tengah suasana yang cair. Pengamanan tidak harus membuat setiap aktivitas kehilangan keluwesannya.

Egy Massadiah bersama mantan Kepala BNPB Letjen TNI (Purn) Doni Monardo dan Jenderal Maruli Simanjuntak. [istimewa]

Dari Pengalaman Lapangan hingga Pengakuan Doni Monardo

Egy juga mengungkapkan kesaksian mantan Kepala BNPB Letjen TNI (Purn) Doni Monardo mengenai perjalanan karier Maruli.

Saat itu, Egy bertugas sebagai Tenaga Ahli Media Kepala BNPB periode 2019-2021. Doni bercerita kepadanya bahwa proses seleksi Komandan Grup A Paspampres dilakukan secara ketat ketika dirinya memimpin satuan tersebut.

Dari delapan kolonel yang mengikuti seleksi, Maruli disebut memperoleh nilai tertinggi dalam rangkaian pengujian sehingga terpilih untuk menduduki jabatan tersebut.

Kesaksian itu, menurut Egy, memperlihatkan bahwa perjalanan Maruli bukan semata-mata tentang kenaikan pangkat, melainkan juga kemampuan yang diuji dan tanggung jawab yang ditunaikan.

Egy turut mengingat prinsip yang pernah diungkapkan Maruli.

"Tempat terbaik saya adalah berada di tengah anggota."

Menurut Egy, seorang komandan yang hadir di antara prajuritnya dapat mendengar persoalan yang belum tentu sampai ke meja rapat. Ia bukan hanya melihat angka kekuatan satuan, tetapi juga memahami kondisi personel, keluarga, kelelahan, dan harapan mereka.

Air, Jembatan, dan Pohon Sebagai Jejak Pengabdian

Perhatian Maruli terhadap persoalan masyarakat juga terlihat ketika ia menjabat Pangdam IX/Udayana. Egy kembali bertemu dengannya di Bandara Maumere, Nusa Tenggara Timur, saat mendampingi Doni Monardo dalam penanganan bencana.

Di Bali dan wilayah sekitarnya, upaya Maruli menyediakan akses air bersih kemudian membuat julukan "Bapak Air" melekat kepadanya.

Egy turut terlibat dalam tim penulisan buku Maruli Bapak Air serta buku tentang jembatan. Dari pengalaman itu, ia melihat benang merah pengabdian Maruli: mengurangi kesulitan yang setiap hari harus dihadapi masyarakat.

Bagi Egy, air bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan gambaran tentang pelayanan yang menjangkau masyarakat hingga ke tempat yang sulit diakses.

Sementara itu, jembatan menghubungkan dua wilayah yang sebelumnya terpisah. Kehadirannya memudahkan anak-anak pergi ke sekolah, hasil kebun dibawa ke pasar, serta warga sakit memperoleh pertolongan.

Egy juga mengingat penanaman pohon yang dilakukan Maruli bersama Doni di Labuan Bajo. Baginya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan harus disertai kesabaran merawat lingkungan.

Jalan membutuhkan lereng yang kukuh, sumber air memerlukan daerah resapan, dan permukiman membutuhkan tanah yang tetap subur. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian dari upaya merawat fondasi kesejahteraan masyarakat.

Pengalaman serupa, lanjut Egy, terjadi ketika Maruli menjabat Danrem di Solo. Maruli menggerakkan masyarakat untuk menanam pepaya California dan berbagai jenis buah lainnya.

Cerita itu disampaikan kepada Egy oleh Utomo, yang akrab disapa Bonek, pemuda binaan Maruli yang kini menetap di Yogyakarta dan membudidayakan ikan lele.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh peluang ekonomi dan keberlanjutan penghidupan.

Tantangan Baru Sebagai Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPPDT

Kini, pengalaman Maruli memasuki medan tanggung jawab yang lebih luas.

Sebagai Wakil Panglima TNI, Maruli dituntut membantu Panglima TNI menjalankan kepemimpinan dan tugas organisasi. Salah satu tantangan pentingnya adalah memperkuat keterpaduan tiga matra, yakni TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Kesiapan personel, latihan, komunikasi, logistik, hingga operasi bersama harus saling menopang. Perbedaan karakter dan kebutuhan setiap matra memerlukan pembagian tugas yang jelas, ketepatan pengambilan keputusan, serta koordinasi yang kuat.

Perkembangan teknologi, ancaman siber, dan perubahan lingkungan strategis juga menuntut TNI terus memperbarui kemampuan dan cara kerjanya.

Sementara itu, tugas sebagai Kepala BNPPDT membawa tantangan yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat di perbatasan dan daerah terpencil.

Medan yang sulit, permukiman yang berjauhan, mahalnya distribusi barang, serta terbatasnya akses pelayanan dasar menjadi persoalan yang perlu dijawab secara terintegrasi.

Menurut Egy, pekerjaan tersebut membutuhkan koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Pengelolaan perbatasan harus berjalan beriringan dengan pembangunan wilayah dan peningkatan kesejahteraan penduduknya.

Tantangannya bukan hanya menyusun kebijakan atau meresmikan fasilitas, melainkan memastikan program benar-benar selesai, anggaran menjawab kebutuhan, dan sarana yang dibangun tetap berfungsi.

Kearifan masyarakat setempat serta daya dukung lingkungan juga perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Keberhasilan Diukur dari Kehidupan Warga

Bagi Egy, keberhasilan pengelolaan daerah terpencil semestinya dapat diukur melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Dapatkah guru mencapai sekolah sepanjang tahun? Seberapa cepat warga sakit mendapatkan pertolongan? Apakah air bersih tetap tersedia ketika kemarau? Berapa biaya yang harus dikeluarkan petani untuk membawa hasil kebun ke pasar?

"Jarak di peta diukur dengan kilometer; jarak dalam kehidupan diukur dengan kesulitan yang harus ditempuh," tulis Egy.

Ia menilai, keberadaan patok perbatasan memang penting untuk menegaskan kedaulatan negara. Namun, keamanan, pelayanan publik, dan kesempatan ekonomi juga diperlukan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Bagi warga setempat, kampung yang disebut terpencil oleh orang lain merupakan pusat kehidupan mereka.

"Sesungguhnya, tidak ada tempat yang dengan sendirinya terpencil. Keterpencilan juga tumbuh dari hubungan yang terputus," tulisnya.

Menurut Egy, wilayah yang jauh dapat terasa dekat ketika masyarakatnya terus disapa, didengarkan, dan dilibatkan. Sebaliknya, wilayah yang secara geografis dekat dapat terasa jauh apabila kebutuhannya tidak pernah diperhatikan.

Ia juga mengingat lagu Tipe-X yang diciptakan Tresno Riadi bersama Billy dan kerap dinyanyikan Maruli bersama prajuritnya. Lagu tersebut, menurut Egy, menyampaikan pesan tentang kehadiran dan kebersamaan, termasuk ketika seseorang menghadapi situasi sulit.

Bagi Egy, semangat itu relevan dengan tugas baru Maruli. Kehadiran negara tidak cukup ditunjukkan melalui kunjungan pejabat, tetapi harus berlanjut menjadi pelayanan yang lebih mudah dijangkau dan peluang ekonomi yang semakin terbuka.

Hasil kebun harus memiliki akses pasar, usaha masyarakat perlu memperoleh kesempatan berkembang, dan keluarga harus merasakan perbaikan penghidupan.

Egy meyakini Maruli mampu menghadirkan inovasi dalam menjalankan penugasan Presiden. Keyakinan itu tumbuh dari perkenalan panjang, kreativitas Maruli dalam mencari jalan keluar, serta kesediaannya turun langsung melihat persoalan.

Namun, skala tanggung jawab yang baru menuntut pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kekuatan organisasi melalui prioritas yang jelas, kerja lintas lembaga yang solid, dan ketekunan mengawal hasil.

Merawat Nilai Persahabatan dan Kearifan Lokal

Dalam tulisannya, Egy juga mengaitkan kepemimpinan dengan falsafah Batak Toba Dalihan Na Tolu, yang menggambarkan tungku berkaki tiga sebagai simbol hubungan yang saling menopang.

Nilainya terangkum dalam ungkapan, "Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu."

Falsafah tersebut mengajarkan penghormatan, kepedulian, dan kehati-hatian dalam menjaga hubungan kekerabatan. Setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawab untuk mempertahankan keseimbangan.

Egy melihat nilai serupa dalam kearifan Bugis, yakni sipakatau atau saling memanusiakan, sipakalebbi atau saling memuliakan, dan sipakainge’ atau saling mengingatkan.

Baginya, hubungan yang akrab tetap membutuhkan penghormatan dan keberanian untuk saling mengingatkan. Nilai-nilai itulah yang turut menjaga persahabatannya dengan Maruli selama lebih dari tiga dasawarsa.

Pada akhirnya, Egy kembali mengingat sepatu Nike dari Manhattan. Sepatu itu telah selesai menemani langkahnya, tetapi persahabatan yang melatarbelakangi pemberian tersebut terus bertahan.

"Selamat mengemban amanah, Jenderal 'Ucok' Maruli Simanjuntak," tulis Egy.

Ia berharap penugasan baru Maruli dapat memperkuat kesiapan prajurit, menyatukan kerja bersama, dan membuka jalan bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh banyak kesulitan untuk memperoleh pelayanan.

Dahulu, sepasang sepatu menemani langkah seorang sahabat. Kini, amanah baru menuntut Maruli menjangkau lebih banyak kehidupan, mengalirkan pelayanan seperti air, mempertemukan harapan seperti jembatan, dan merawat masa depan seperti pohon yang dijaga hingga berakar.

Agar wilayah yang jauh tetap menjadi bagian dari Indonesia, masyarakat yang jarang disapa memperoleh perhatian, dan rakyat dapat hidup sejahtera di lingkungan yang terpelihara.

Di sanalah, menurut Egy, pengabdian meninggalkan jejak: ketika jarak tidak lagi menjadi penghalang bagi harapan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com