Koalisi 2029 Bisa Goyah! Prabowo Diminta Rem Pernyataan Kontroversial

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara Puncak Peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat, (18/9/2026). (Foto: Sekretariat Presiden)
BACA 10 DETIK
  • Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menyarankan Presiden Prabowo Subianto mengurangi pernyataan negatif.
  • Prabowo diminta mendengarkan aspirasi publik untuk memperbaiki reputasi politik demi persiapan menghadapi pemilihan presiden tahun 2029.
  • Partai Golkar dan PAN diprediksi terus mendukung karena rasionalitas politik, sementara koalisi lain berpotensi mengalami perubahan besar.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto diminta mengurangi pernyataan yang memicu sentimen negatif dan lebih peka terhadap aspirasi masyarakat jika ingin mempertahankan peluang politiknya pada Pilpres 2029.

Selain memperbaiki komunikasi publik, Prabowo juga perlu menjaga soliditas partai-partai pendukung pemerintah agar tidak kehilangan dukungan menjelang kontestasi politik mendatang.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, upaya menjaga reputasi politik Prabowo harus dimulai dengan mendengarkan harapan publik, terutama di tengah tuntutan perbaikan ekonomi dan penegakan hukum.

“Kalau Presiden Prabowo Subianto mau mendengarkan apa yang diharapkan oleh publik, tidak lagi banyak membuat kekhawatiran, termasuk juga mengurangi statement-statement yang memunculkan sentimen negatif, itu saya kira bisa menjadi solusi memperbaiki reputasi ke depan,” ujarnya dalam sesi rilis survei dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Dedi, komunikasi yang lebih terukur dapat membantu Prabowo menjaga kepercayaan masyarakat.

Namun, upaya mempertahankan posisi politik tidak cukup hanya dengan memperbaiki citra. Prabowo juga perlu memastikan partai-partai koalisinya tetap berada dalam barisan pendukung hingga Pilpres 2029.

Dedi menilai, tidak semua partai pendukung pemerintah memiliki tingkat loyalitas yang sama. Sebagian partai cenderung mempertahankan dukungan, sementara yang lain akan mempertimbangkan peluang kemenangan dalam menentukan arah politiknya.

“Saya kira salah satu partai koalisi yang setia dengan Prabowo Subianto adalah PAN. Yang kedua mungkin Golkar. Kenapa? Karena Golkar sejauh ini adalah partai yang cukup rasional secara politis. Artinya rasional secara politis adalah mereka besar kemungkinan akan masuk dalam gerbong yang punya potensi menang,” papar Dedi.

Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar dinilai berpotensi tetap mendukung Prabowo selama peluang politiknya masih menjanjikan.

Sementara itu, dukungan dari partai lain, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat, juga menjadi faktor penting dalam menjaga kekuatan koalisi.

Koalisi Prabowo Terancam Berubah Jelang 2029

Dedi mengingatkan, peta koalisi pendukung Prabowo berpotensi berubah menjelang Pilpres 2029. Jika sejumlah partai memilih keluar dari koalisi atau membentuk poros politik sendiri, langkah Prabowo untuk kembali maju sebagai calon presiden bisa semakin berat.

“Akan terjadi perubahan besar kalau kemudian partai koalisi yang sekarang dekat atau yang sekarang mendukung Presiden Prabowo Subianto, mungkin di tahun di 2028-nya, kalau di 2028 nanti atau 2027 lah, tiba-tiba terjadi perubahan, Demokrat mengundurkan diri, kemudian PKB misalnya membuat poros sendiri, ya tentu akan semakin sulit dan semakin berat,” sorotnya.

Karena itu, menurut Dedi, Prabowo perlu menjaga komunikasi politik dengan para mitra koalisi sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat.

Kedua hal tersebut akan menjadi modal penting untuk mempertahankan dukungan hingga tahapan pencalonan presiden dimulai.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com