JK di Yale: Kemanusiaan Harus Melampaui Batas Negara

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:50 WIB
Jusuf Kalla di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, Jumat (23/10/2026) petang waktu setempat [Suara.com/Tim media JK]
BACA 10 DETIK
  • Mantan Wapres RI Jusuf Kalla menyatakan nilai kemanusiaan harus menjadi landasan utama mengatasi krisis global di Yale University pada 23 Oktober 2026.
  • Ia menyampaikan bahwa keunggulan persenjataan militer tidak cukup, sehingga semangat, strategi, serta penguasaan teknologi sangat menentukan hasil konflik.
  • Ia juga menekankan pentingnya mitigasi dan perencanaan sistematis dalam menghadapi bencana alam serta ancaman krisis pangan lintas wilayah.

JK yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PMI, menyoroti dampak fenomena iklim seperti El Niño yang dapat memicu kekeringan, mengganggu produksi pertanian, dan meningkatkan risiko kelangkaan pangan.

Menurutnya, dampak tersebut tidak berhenti di wilayah yang mengalami bencana, tetapi dapat meluas melalui gangguan pasokan dan kenaikan harga pangan.

“Bencana kekeringan tidak hanya berdampak pada daerah yang mengalaminya. Ketika produksi pertanian menurun dan panen gagal, dampaknya bisa meluas menjadi persoalan pangan. Karena itu, kita harus mengantisipasinya melalui perencanaan yang matang dan perhitungan yang cermat,” ujar JK.

Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Pemerintah perlu memperhitungkan potensi risiko, menyiapkan langkah mitigasi, dan menyusun rencana penanganan berdasarkan kondisi serta kebutuhan setiap wilayah.

Indonesia Membutuhkan Perencanaan Bencana yang Sistematis

JK juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki karakteristik geografis dan risiko bencana yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalimantan, sementara banjir, tanah longsor, dan gempa bumi merupakan risiko yang perlu diantisipasi di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra.

Menurutnya, satu jenis bencana dapat memicu bencana lain. Seperti bencana karhutla pada musim kemarau dapat mengakibatkan risiko banjir dan longsor pada musim hujan.

Untuk itu JM berharap penanganan bencana harus ada penanganan sistematis berdasarkan pemetaan risiko dan kondisi setiap daerah, tidak sporadis.

“Ini tantangan besar bagi Indonesia. Penanganan bencana tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi, karena setiap bencana akan membawa bencana lainnya. Seperti karhutla pada musim kemarau dapat mengakibatkan banjir dan longsor pada musim hujan. Harus ada program dan perencanaan yang sistematis, berdasarkan pemetaan risiko dan kondisi masing-masing daerah. Jangan sampai penanganannya hanya sporadis,” tegas JK.

Ia menambahkan, pendekatan yang sistematis membutuhkan koordinasi antarlembaga, kesiapan sumber daya, perencanaan logistik, serta kemampuan memperkirakan dampak bencana terhadap masyarakat dan perekonomian.

Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada upaya mengurangi risiko dan mencegah dampak yang lebih besar.

Kuliah di Yale University menjadi bagian akhir dari rangkaian agenda akademik JK di Amerika Serikat pada Oktober 2026.

Sebelumnya, JK mengisi Vice President Kalla Lecture Series di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, selama sekitar dua pekan.

Di NIU, ia membahas beragam isu, mulai dari otonomi daerah dan dinamika politik Indonesia, pengalaman penyelesaian konflik di Aceh, Afghanistan, dan Thailand Selatan, hingga tantangan transisi energi hijau.

Pada 20 Oktober, JK juga menerima penghargaan khusus dari NIU dalam acara pelepasan tugasnya sebagai dosen tamu.

Dari NIU, JK melanjutkan agenda akademiknya ke Harvard University pada 22 Oktober melalui kuliah Leadership Amidst Uncertainty: Lessons from Experience.

Dalam forum tersebut, ia menguraikan berbagai faktor yang memengaruhi ketidakpastian global dan kondisi sosial-ekonomi Indonesia.

Melalui rangkaian kuliah tersebut, JK membagikan pengalaman Indonesia kepada komunitas akademik internasional.

Pesan yang mengemuka dari ketiga universitas itu adalah bahwa tantangan dunia tidak dapat dihadapi hanya dengan kekuatan ekonomi, teknologi, atau militer.

Kerja sama, pemahaman terhadap akar masalah, nilai kemanusiaan, dan perencanaan yang matang juga menjadi bagian penting dalam membangun perdamaian dan menghadapi krisis.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com