- Gubernur Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan anggaran khusus untuk melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca secara berkesinambungan.
- Pernyataan tersebut disampaikan di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, pada hari Minggu, 25 Oktober 2026.
- Hujan buatan terbukti mampu menurunkan tingkat polusi udara secara signifikan dan disambut gembira oleh masyarakat.
Suara.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan intervensi langit demi menekan polusi udara tidak akan berhenti begitu saja meski perhelatan besar telah rampung digelar.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran khusus guna melangsungkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara berkesinambungan.
Kepastian mengenai pendanaan penyejuk udara ibu kota tersebut disampaikan langsung oleh Pramono saat memberikan keterangan pers di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Minggu (25/10/2026).
Dirinya mengungkapkan bahwa hujan buatan bakal terus disemai di langit Jakarta selama potensi gumpalan awan dinilai mencukupi.
“Ya selama masih ada awan yang cukup, pasti kami akan turunkan hujan, karena memang bagaimanapun Pemerintah DKI Jakarta telah mengalokasikan budget untuk melakukan OMC,” ujar Pramono.
Kehadiran hujan hasil penyemaian awan itu juga diyakini memantik rasa semringah warga yang telah mendambakan udara segar setelah sekian lama terkepung polusi.
“Kami melihat dengan OMC ini polusinya turun, masyarakatnya juga lebih happy. Apalagi kalau teman-teman mengikuti Jakarta Running Festival, semuanya bergembira karena betul-betul udaranya enak sekali,” jelas Pramono.
Operasi teknologi atmosfer tersebut sebelumnya diinstruksikan selama dua hari berturut-turut untuk menjaga kualitas udara saat ajang maraton berlangsung di ibu kota.
Pramono memaparkan keberhasilan intervensi presipitasi buatan yang terbukti sanggup menekan angka polutan secara signifikan sejak fajar hingga siang hari.
“Saya mengalami sendiri ketika jam 04.00 membuka flag off untuk full maraton, kita di angka 61, kemudian naik menjadi 68, dan ketika siang 80. Itu menunjukkan bahwa kondisi udara ataupun polusi di Jakarta rendah sekali,” klaim eks Sekretaris Kabinet itu.
Dengan kesiapan anggaran yang sudah dipatok dalam kas daerah, Pemprov DKI bertekad terus memburu bibit awan agar udara bersih dapat terus dicecap oleh khalayak luas selama kemarau belum berakhir.