NTB.Suara.com - Gili Trawangan adalah salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Pulau kecil ini terletak di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi NTB.
Gili Trawangan adalah pulau terbesar dari gugusan tiga pulau di Desa Gili Indah, selain Gili Meno dan Gili Air. Kebanyakan orang menyebut tiga gugusan pulau kecil itu sebagai Gili Tramena atau Gili Matra.
Saat ini, Gili Trawangan sedang diserbu oleh para turis asing dari berbagai negara. Hal itu terjadi karena adanya musim libur panjang di negara-negara Eropa, yang dimulai pada Juli, Agustus hingga September 2023.
Ketua Gili Hotels Association (GHA), Lalu Kusnawan memperkirakan tingkat kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan sudah di atas 2.200 orang per hari sejak Juli 2023.
"Dari total jumlah turis tersebut, sebesar 99,9 persen warga negara asing dengan rata-rata lama menginap selama tiga malam," katanya.
Dikutip dari YouTube Info Nusa, destinasi wisata unggulan tersebut memang sudah menjadi favorit di Provinsi NTB, dan menjadi ikon pariwisata Lombok yang sudah tersohor di penjuru dunia.
Nnamun tahukan Anda bagaimana sejarah dari terbentuknya pulau kecil nan eksotik itu. Gili Trawangan terbentuk dari batuan lava bantal karena lelehan lava gunung api bawah laut tua yang membeku di perairan.
Dalam ilmu geologi masa itu terjadi pada umur Oligo-Miosen hingga Plio-Plistosen. Itu adalah sebuah kala pada skala waktu geologi yang berlangsung antara 23,03 hingga 5,332 juta tahun lalu.
Selanjutnya, dalam berbagai literatur sejarah, Gili Trawangan dikenal sebagai pulau kosong tanpa penghuni. Karena kekosongannya itulah Gili Trawangan sering dijadikan tempat pembuangan.
Baca Juga: Sejarah 1 Muharram yang Ditetapkan Sebagai Awal Tahun Baru Islam
Catatan awal yang menjelaskan Gili Trawangan sebagai tempat pembuangan terdapat pada buku sejarah Pulau Lombok. Buku yang ditulis oleh Lalu Djelenge ini, menceritakan saat terjadi perang sakra pada tahun 1826, beberapa pasukan yang tertangkap di tahan di penjara yang ada di Cakranegara dan Mataram, sisanya dibuang ke Gili Trawangan.
Selanjutnya, pada buku sejarah Nusa Tenggara Barat yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ketika perang Menjeli meletus pada tahun 1855, beberapa lelaki Desa Menjeli dibuang ke Gili Trawangan.
Kisah Gili Trawangan sebagai daerah buangan kemudian berlanjut pada masa kemerdekaan. Pada peristiwa berdarah tahun 1965 atau dikenal dengan G30S PKI, beberapa orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI dibuang ke Gili Trawangan.
Pada tahun 1990-an, keindahan Pantai Gili Trawangan mulai memikat para wisatawan. Lambat laun, Gili Trawangan mulai dikenal dan digali.
Dilansir dari situs kkp.go.id, oleh pemerintah pada tahun 1993, Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan (Gili Matra) ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam atau TWA, Penetapan tersebut sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 85/Kpts-II/1993.
Kemudian pada 2001, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 99/Kpts-II/2001, kawasan Gili Matra berubah status menjadi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
Kejutan Kasus BJB! 5 Fakta KPK Buka Peluang Panggil Aura Kasih Terkait Aktivitas Ridwan Kamil
-
OTT Beruntun di Kemenkeu, KPK Sita 3 Kg Emas dan Duit Miliaran dari Penangkapan Pejabat Bea Cukai
-
Tol Padang-Pekanbaru Seksi Sicincin-Bukittinggi Butuh Rp 25,23 Triliun, Target Beroperasi 2031
-
Aditya Hoegeng Ungkap Kisah Eyang Meri: Di Belakang Orang Kuat Ada Orang Hebat
-
Sempat Direkrut, Ini Alasan Persis Lepas Clayton Da Silveira
-
Edit Logo NU dan Disamakan dengan Simbol Yahudi, Warga Laporkan Akun X ke Polda Metro Jaya
-
Arema FC Lepas Odivan Koerich Usai Evaluasi Paruh Musim Super League
-
Bojan Hodak: Dion Markx Masih Harus Adaptasi Bersama Persib
-
Bojan Hodak Pastikan Persib Tak akan Tambah Lagi Pemain Baru
-
Resmi Berseragam Persija, Mauricio Souza Ungkap Alasan Mauro Zijlstra Jadi Rekrutan Penting