Saat Rambut Memutih dan Langkah Melambat: Sebuah Renungan Tentang Pulang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:35 WIB
Ak Supriyanto Persib. [Istimewa]
  • Seseorang di usia senja merenungkan masa lalu, keluarga, serta kerinduan mendalam akan kehangatan rumah di masa kecil.
  • Viktor Frankl menyatakan orang tua memiliki realitas masa lalu dan makna hidup yang utuh sebagai aset berharga.
  • Di usia tua, penulis bertekad merawat cinta keluarga, memberi perhatian nyata, dan menjaga warisan kehangatan bersama sesama.

Suara.com - Di ambang senja, ketika langit merona jingga dan burung-burung pulang ke sarangnya, hatiku kerap bertanya: mengapa di usia yang telah melewati setengah abad—saat rambut mulai memutih dan langkah mulai melambat—justru masa lalu terasa begitu dekat dan begitu dirindukan?

Kata orang, di masa tua, manusia menjadi lebih bijak. Dan kebijakan, sangat identik dengan filsafat.

Mungkin saja, di masa tua ini, kita menjadi lebih filosofis. Novalis, penyair dan filsuf Jerman, pernah berkata bahwa filsafat pada hakikatnya adalah rindu akan rumah—keinginan untuk merasa betah di mana-mana.

Barangkali seperti itulah kebijakan yang saat ini bersemayam pada diriku, dirimu, dan diri kita semua yang beranjak tua: kita tidak sekadar merindukan masa lalu; kita merindukan rasa betah yang dulu pernah kita miliki. Kita merindukan rumah dalam arti yang paling hakiki.

Aku teringat sebuah rumah yang menghadap sungai. Dindingnya mulai mengelupas, taman terasnya ditumbuhi aneka bunga yang selalu basah oleh embun pagi.

Di sanalah Bapak—dengan kumis tebal dan tangan kasar karena kerja—membangunkan kami lewat bunyi langkahnya yang berat. Aroma teh tubruk dan wajan sisa penggorengan menjadi wewangian masa kecilku. Kini Bapak telah tiada, meninggalkan sepeda onta yang patah badannya dan keheningan yang tak pernah terisi sepenuhnya.

Seneca, filsuf aliran stoik dari masa Romawi Kuno, mengingatkan, hidup ini singkat dan penuh kecemasan bagi mereka yang melupakan masa lalu, mengabaikan masa kini, dan takut akan masa depan.

Di usia ini aku sadar: aku telah terlalu lama melupakan masa lalu, lalu tiba-tiba merindukannya; mengabaikan masa kini, lalu menyesalinya; dan sesekali takut pada masa depan yang tak pasti. Tetapi bukankah justru di sinilah kita diajak berhenti sejenak: tidak lagi melarikan diri dari masa lalu, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari diri?

Aku pun terkenang Ibu. Tangannya selalu hangat meski membasuh pakaian kami di sumur belakang yang dingin. Suaranya yang merdu menyanyikan lagu-lagu lama sambil mengipasi bara dapur.

Adik-adikku yang dulu berebut sendok nasi kini tersebar di berbagai kota: Tayu, Jakarta, Pekalongan. Jarak membentang seperti lautan, memisahkan kami bukan hanya oleh kilometer, tetapi oleh waktu dan kehidupan yang berbeda.

Viktor Frankl, psikiater dan filsuf Austria, menulis: orang tua tidak perlu dikasihani, justru orang mudalah yang seharusnya iri. Sebab, orang tua tidak lagi memiliki kemungkinan di masa depan, tetapi mereka memiliki realitas di masa lalu. Potensi mereka telah diaktualisasikan, makna hidupnya telah dipenuhi, dan nilai-nilai yang mereka torehkan adalah aset-aset yang perlu kita rawat dan lestarikan. Kenangan bersama Bapak, Ibu, dan saudara-saudara adalah kekayaan yang tak tercuri oleh waktu.

Di usia menjelang manula, aku merenung: apa gerangan yang membuat kenangan-kenangan itu kembali, mengalir seperti sungai yang meluap setelah hujan? Perlahan aku memahami, ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah panggilan: panggilan untuk kembali pada kehangatan yang dulu pernah kita miliki, pada ikatan yang mungkin telah kendur dimakan waktu.

Martin Heidegger, filsuf besar Jerman, menyebut nostalgia sebagai kerinduan akan rumah, rasa rindu akan kampung halaman. Mungkin saja di usia senja ini, kita yang telah menjadi filsuf bagi diri sendiri, bertanya tentang makna, rumah, dan cinta.

Kita tidak lagi mengejar ambisi atau gelar, melainkan kesejatian. Kita merindukan pelukan Bapak yang tak bisa lagi kita dapatkan, dekapan Ibu yang kini mungkin hanya bisa kita kenang. Karena itu, hatiku berbisik: jangan biarkan kenangan hanya menjadi kenangan. Jadikan ia pesan.

Aristoteles, filsuf klasik Yunani, mengajarkan, orang tua mencintai anak-anaknya karena anak adalah bagian dari diri mereka, sementara anak mencintai orang tua karena mereka berasal dari orang tua. Cinta itu—yang mengalir dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas—adalah cinta yang paling mendasar. Di usia ini aku menyadari, cinta tidak pernah berhenti; ia hanya berubah bentuk.

Maka, di sisa waktu yang diberikan, aku ingin mengabdi: menjaga nilai-nilai baik yang diwariskan almarhum Bapak, merawat Ibu yang masih tersisa dengan sebesar-besarnya kasih meski jarak memisahkan. Aku ingin hadir bagi istri yang telah menemani separuh perjalanan, bagi anak-anak yang sedang berlatih dewasa, dan bagi adik-adik dan keluarga besar yang tersebar di berbagai tempat.

Filsuf Denmark, Soren Kierkegaard menulis, “mencintai sesama adalah satu-satunya hal yang layak diperjuangkan dalam hidup, dan tanpa cinta ini, kamu tidak benar-benar hidup.”

Aku ingin benar-benar hidup. Aku ingin menjadi seperti orang tua jaman dulu—memantapkan hati, menjadi tiang yang kokoh, menjadi tempat berlabuh. Aku ingin memeluk istriku lebih erat, mendengarkan cerita anak-anakku tanpa terburu-buru, dan menulis pesan untuk adik-adikku di kota lain.

Karena pada akhirnya, di hari tua ini, kita belajar bahwa cinta bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang memberi—memberi waktu, perhatian, kehadiran. Inilah tugas kita: membangun kembali jembatan yang mungkin telah rapuh, menyalakan kembali api yang mungkin telah redup.

Aku ingin, di ujung perjalanan, dapat berkata kepada Bapak di surga, “Pak, aku sudah berusaha. Aku menjaga mereka. Aku mencintai mereka. Aku menghangatkan mereka seperti dulu Bapak menghangatkan kami.”

Dan kepada mereka yang masih ada, aku ingin berkata, “Maafkan aku jika terlalu sibuk. Maafkan jika jarang pulang atau mampir. Sekarang aku di sini. Mari kita kumpulkan kembali kepingan-kepingan yang terserak. Mari kita hangatkan kembali hati yang mulai dingin.”

Di usia yang menginjak senja, aku belajar bahwa rindu adalah manifestasi yang terang dari cinta. Dan cinta, jika dirawat, tidak akan pernah padam. Biarlah kenangan masa lalu menjadi bahan bakar untuk menghidupkan cinta hari ini. Biarlah kehangatan yang dulu dirindukan kini kita ciptakan sendiri—setiap hari, dengan setiap napas, dengan setiap langkah yang masih tersisa.

Sebab kita harus menghargai dan mencintai usia tua; karena ia penuh dengan kenikmatan jika kita tahu bagaimana menggunakannya. Di usia ini, kita bukan hanya mengenang.

Kita adalah penjaga: penjaga warisan cinta, penjaga api kehangatan, penjaga makna dari semua yang pernah kita alami. Dan itu, barangkali, adalah kesejatian paling dalam yang bisa kita raih.

Rumah yang sejati bukanlah bangunan fisik, melainkan kehangatan orang-orang yang kita cintai. Di usia ini, kita belajar bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke masa lalu, tetapi membawa masa lalu itu ke dalam setiap pelukan yang kita berikan hari ini.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com