- Badan Pusat Statistik mencatat partisipasi olahraga masyarakat Indonesia meningkat mencapai 37,27 persen pada September 2025.
- Tingkat keaktifan olahraga di Indonesia masih menghadapi kesenjangan karena kelompok perkotaan dan ekonomi atas lebih mendominasi.
- Tiga agenda utama perlu didorong untuk memperluas akses sarana, memaksimalkan peran sekolah, serta memantau partisipasi masyarakat secara berkala.
Suara.com - Setiap 9 September, bangsa ini merayakan Hari Olahraga Nasional (Haornas). Ada upacara dan seremoni yang meriah, penghargaan, dan berbagai perayaan yang menandai Haornas.
Namun, setelah puluhan tahun diperingati, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar merayakannya. Seberapa jauh olahraga benar-benar telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia?
Olahraga sejatinya bukan hanya soal medali, podium, dan nama-nama atlet yang mengharumkan bangsa. Olahraga juga tentang anak-anak yang tumbuh aktif, masyarakat yang menjaga kebugaran, ruang publik yang hidup, serta kebiasaan bergerak yang menjadi bagian dari keseharian.
Dengan kata lain, olahraga seharusnya bukan hanya milik mereka yang bertanding, tetapi milik semua orang.
Gagasan itu sesungguhnya bukan cita-cita baru. Akarnya dapat ditarik jauh ke Pekan Olahraga Nasional (PON) I yang digelar di Solo pada 9 September 1948.
Di tengah usia republik yang masih sangat muda dan berbagai keterbatasan, bangsa Indonesia menunjukkan bahwa olahraga bisa menjadi simbol persatuan, sekaligus pembuktian bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Puluhan tahun kemudian, semangat itu dilembagakan melalui penetapan 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985. Sejak saat itu setiap tahun kita kembali diingatkan pada satu cita-cita besar yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.
Kini, lebih dari empat dekade Haornas telah berlalu. Waktu yang cukup panjang untuk menyusun sebuah rapor. Maka, pertanyaannya bukan lagi sekadar “sudah berapa lama kita merayakan Haornas?”, melainkan, “berapa nilai yang pantas kita berikan untuk perjalanan olahraga Indonesia?”
Jawabannya tentu tidak bisa disampaikan sekadar angka. Ada banyak capaian yang layak diapresiasi, tetapi juga pekerjaan rumah yang belum selesai.
Rapor olahraga Indonesia memiliki banyak halaman yang membanggakan, tetapi masih menyisakan sejumlah catatan yang tidak boleh ditutup hanya dengan seremoni tahunan.
Keberhasilan Haornas tidak diukur dengan seberapa meriah kita memperingatinya setiap 9 September. Ukurannya adalah seberapa jauh olahraga telah benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kabar yang patut diapresiasi. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, partisipasi masyarakat Indonesia dalam berolahraga menunjukkan tren meningkat.
Pada 2012, hanya 29,53 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang tercatat berolahraga dalam sepekan terakhir. Angka itu naik menjadi 31,69 persen pada 2015 dan 35,7 persen pada 2018.
Pandemi Covid-19 sempat membalikkan tren tersebut. Pada 2021, partisipasi olahraga masyarakat anjlok menjadi 27,14 persen.
Namun setelah pandemi berlalu, masyarakat kembali bergerak. Angkanya bahkan berhasil melampaui capaian sebelum pandemi, mencapai 37,16 persen pada 2024 dan meningkat tipis menjadi 37,27 persen berdasarkan Susenas September 2025.
Tren lebih dari satu dekade ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk berolahraga terus tumbuh.
Di tengah ancaman gaya hidup sedentari akibat perkembangan teknologi dan semakin minimnya aktivitas fisik dalam keseharian, pertumbuhan partisipasi ini merupakan modal sosial yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Jangan Puas Dulu
Namun, jika ini benar-benar sebuah rapor, angka 37 persen sebenarnya belum pantas disebut nilai baik. Itu baru nilai cukup. Artinya setiap seratus orang Indonesia, masih ada sekitar 63 orang yang belum menjadikan olahraga sebagai bagian rutin hidupnya.
Artinya, cita-cita “mengolahragakan masyarakat” masih jauh dari kata tuntas. Angka partisipasi yang terus meningkat patut diapresiasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah kita masih panjang: bagaimana membuat olahraga bukan sekadar aktivitas bagi sebagian masyarakat, melainkan kebiasaan yang bisa diakses dan dijalani oleh semua orang?
Kesenjangan partisipasi juga masih terlihat jelas, dan di sinilah persoalan mendasarnya. Masyarakat perkotaan tercatat jauh lebih aktif berolahraga, mencapai 42,36 persen (berdasarkan data Susenas September 2025, BPS), dibandingkan masyarakat perdesaan yang hanya 29,65 persen.
Faktor ekonomi turut memengaruhi. Kelompok 20 persen dengan pengeluaran tertinggi memiliki tingkat partisipasi 50,67 persen, sementara kelompok 40 persen terbawah hanya 30,69 persen.
Padahal, semangat “olahraga untuk semua” yang menjadi ruh Haornas sejak awal seharusnya memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak dan hidup sehat, tanpa dibatasi tempat tinggal maupun kemampuan ekonomi.
Persoalan partisipasi olahraga juga bukan sekadar statistik yang menarik dibahas setiap September. Ketika sebagian besar masyarakat masih belum aktif bergerak, konsekuensinya bisa jauh lebih panjang meningkatnya risiko penyakit tidak menular, menurunnya kebugaran dan produktivitas, hingga bertambahnya beban kesehatan yang pada akhirnya harus ditanggung bersama.
Oleh karena itu, rapor olahraga masyarakat sesungguhnya juga merupakan rapor kesehatan dan produktivitas bangsa di masa depan. Setidaknya ada tiga agenda yang perlu didorong ke depan.
Pertama, memperluas akses terhadap ruang dan sarana olahraga, terutama di perdesaan dan kelompok berpenghasilan rendah. Pemerintah daerah, termasuk di kawasan Soloraya, perlu menjadi motor utama karena paling memahami kebutuhan dan karakter wilayah masing-masing.
Contohnya sudah ada di depan mata. Sport center Desa Singodutan, Wonogiri, yang dibangun menggunakan dana desa, kini dimanfaatkan secara rutin untuk latihan sekolah sepak bola dan sekolah voli bagi anak-anak dan remaja setempat. Aktivitas berlangsung hampir setiap sore dan Minggu pagi, dengan tarif sewa yang tetap terjangkau bagi masyarakat.
Model seperti ini menunjukkan bahwa pemerataan akses olahraga di desa bukan sekadar cita-cita. Ia bisa diwujudkan dan direplikasi di desa-desa lain di Soloraya, sepanjang ada kemauan, dukungan pemerintah daerah, serta pendampingan yang konsisten.
Kedua, menjadikan sekolah sebagai titik ungkit untuk menanamkan kebiasaan aktif sejak dini.
Berdasarkan BPS Susenas September 2025 menunjukkan kelompok usia sekolah menjadi salah satu kelompok paling aktif berolahraga, dengan tingkat partisipasi di atas 80 persen, disusul kelompok anak-anak sebesar 82,13 persen jauh melampaui rata-rata nasional. Sekitar 37,69 persen masyarakat juga mengaku berolahraga karena alasan pendidikan, terutama sebagai bagian dari kegiatan sekolah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya olahraga. Apa yang dimulai di sekolah berpeluang menjadi kebiasaan yang terbawa hingga dewasa.
Oleh sebab itu, olahraga tidak semestinya dipandang sekadar sebagai mata pelajaran atau aktivitas tambahan, tetapi sebagai bagian dari keseharian siswa.
Sekolah dapat menjadi ruang untuk membiasakan anak bergerak, mengenalkan berbagai jenis olahraga, sekaligus membangun kesadaran bahwa aktivitas fisik merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.
Jika kebiasaan itu ditanamkan sejak dini, cita-cita mengolahragakan masyarakat tidak harus dimulai dari orang dewasa, tetapi dari generasi yang sedang tumbuh.
Ketiga, terus memantau capaian partisipasi olahraga masyarakat secara berkala dan transparan, agar kita tahu persis sejauh mana jarak antara cita-cita dan kenyataan setiap tahunnya.
Lebih dari empat dekade setelah dicanangkan, cita-cita “mengolahragakan masyarakat” bukan lagi sekadar jargon di atas kertas. Ia mulai menunjukkan hasil, meski belum sampai pada garis akhir.
Rapor Haornas hari ini bukan sekadar angka yang dirayakan, melainkan cermin untuk melihat sejauh mana kita telah berjalan dan pengingat bahwa perjalanan itu masih harus dituntaskan bersama.
Olahraga bukan hanya siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagaimana semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup aktif, sehat, dan bugar.