Suara.com - Sekitar setahun silam, Elon Musk, Chief Executive Officer (CEO) Tesla Incorporation pernah mengemukakan pendapatnya berupa cuitan di media sosial Twitter. Inilah yang dijadikan salah satu alat bukti bagi hakim pengadilan Amerika Serikat dalam memutuskan perkara sehubungan ketenagakerjaan perusahaan itu.
Atau dengan kata lain, inilah salah satu penyebab Tesla Incorporation dikenai vonis bersalah oleh badan pengadilan Amerika Serikat.
Dikutip dari kantor berita Antara, yang disitat lewat Reuters, disebutkan bahwa tulisan dari boss perusahaan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) berbunyi, "Tidak ada yang bisa menghentikan tim Tesla dari pemungutan suara serikat pekerja di pabrik kami. Bahkan bisa melakukannya besok jika mereka mau. Tetapi mengapa mesti membayar biaya serikat dan menyerahkan soal "stock options" pada hal yang sia-sia? Catatan keselamatan kami dua kali lebih baik dibandingkan saat pabrik masih berada dalam UAW (serikat pekerja otomotif) dan semua orang mendapat pelayanan kesehatan," begitu cuitan Elon Musk, yang dinilai mengancam pegawai dengan kehilangan "stock options" kontrak opsi saham jika mereka memberikan suara untuk serikat pekerja.
Hal itulah yang menjadi salah satu dasar bagi hakim pengadilan di Amerika Serikat untuk memutuskan pada Jumat (27/9/2019) bahwa perusahaan KBL, Tesla Incorporation melanggar hukum ketenagakerjaan karena menghalang-halangi serikat pekerja yang sah.
Berdasarkan catatan perkara yang diputus oleh Amita Baman Tracy, juri hukum administratif California, disebutkan bahwa Tesla Incorporation telah melakukan serangkaian pelanggaran terhadap Undang-undang Ikatan Ketenagakerjaan Nasional (NLRS) Amerika Serikat, kurun 2017 dan 2018.
Putusan pengadilan ini juga meminta perusahaan untuk membacakan pemberitahuan kepada para pekerja yang menjelaskan tentang hak-hak mereka dalam sebuah pertemuan yang harus dihadiri langsung oleh pimpinan eksekutif perusahaan, yaitu Elon Musk.
Sebelumnya, Tesla Incorporation pernah tersangkut kasus keluhan keselamatan yang diajukan oleh pekerjanya,dan tuduhan ini dibantah Tesla. Para pekerja menyebut bahwa jam kerja yang panjang dan tekanan untuk mengerjakan pembuatan mobil secara cepat telah menelan korban. Hal inilah yang mendorong dibentuknya serikat pekerja.
Baca Juga: 5 Best Berita Otomotif Pagi: Airbag Hyundai, Suroboyo Bus di New York
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Lalu Lintas Padat saat Libur Sekolah? Begini Cara Menghemat Bensin saat Macet
-
5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
-
100 Ribu Buruh Perusahaan Otomotif "V" Terancam PHK
-
Tunda Nyicil Scoopy Baru, Yamaha Grand Filano Bekas Lebih Murah, Mending Mana?
-
Pesona SUV Mazda yang Seukuran dengan Suzuki S-Presso, Harga Cuma Tak Sampai 200 Juta
-
Irit dan Tangguh, Ini Alasan Kenapa Yamaha Gear Ultima Jadi Skutik Favorit Perempuan
-
Honda, Nissan dan Mitsubishi Jalin Kerja Sama, Ada Udang di Balik Batu
-
Strategi Motul Dekati Konsumen Melalui Jaringan Bengkel Modern B-Quik
-
Suzuki Ignis Kena Recall, Apa Bagian yang Rusak?
-
Tinggalkan Kesan Murah, Begini Wujud Baru Honda BeAT Terbaru dengan Emblem Silver dan Warna Matte