Suara.com - Siapa sangka, sebuah keputusan politik bisa mengubah nasib mobil sekelas Volvo S90? Kebijakan tarif impor 125 persen yang dikeluarkan Donald Trump bagaikan petir di siang bolong bagi industri otomotif, khususnya untuk produk-produk buatan China.
Dan kali ini, sedan premium kebanggaan Swedia menjadi salah satu korbannya.
Dilansir dari Automotive News, sebuah sedan mewah yang selama ini menjadi simbol kemewahan dan kecanggihan teknologi Skandinavia harus angkat kaki dari pasar Amerika Serikat.
Ironis memang, tapi itulah yang terjadi dengan Volvo S90. Model tahun 2025 akan menjadi "nyanyian swan" terakhirnya di negeri Paman Sam.
Meski dikenal dengan kualitas premium dan desain elegan khas Swedia, angka penjualan S90 terbilang memprihatinkan.
Hanya 1.364 unit yang berhasil mencari pemilik tahun lalu - angka yang terlalu kecil untuk membenarkan biaya produksi yang kini membengkak akibat tarif Trump. Namun seperti kata pepatah, di balik setiap krisis ada peluang. Volvo tidak tinggal diam.
Mereka dengan cerdik mengalihkan fokus ke lini SUV yang memang sudah menjadi primadona. XC-40, XC-60, dan XC-90 kini menjadi harapan baru untuk mempertahankan eksistensi merek berlambang besi ini di Amerika.
Yang menarik, Volvo juga punya "kartu as" bernama ES90 - sedan listrik nan canggih yang juga diproduksi di China.
Tapi dengan tarif yang mencekik, nasibnya kini bagaikan telur di ujung tanduk. Maka, Volvo mengambil langkah cerdas dengan mengoptimalkan pabrik mereka di Belgia dan Carolina Selatan.
Baca Juga: Rekomendasi Mobil Sedan Bekas Maret 2025: Harga Mulai Rp 100 Jutaan tapi Mewah Bukan Main
Pabrik Carolina Selatan sendiri bukan sembarang pabrik. Dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun, fasilitas yang kini memproduksi EX-90 dan Polestar 3 ini menjadi benteng pertahanan Volvo di tengah badai kebijakan Trump.
Mengingat penjualan Volvo di AS tahun lalu mencapai 125.000 unit, strategi ini tampaknya cukup masuk akal.
Kisah Volvo S90 ini seperti sebuah drama yang mengajarkan kita tentang pentingnya adaptasi di tengah perubahan.
Ketika kebijakan politik mengubah lanskap bisnis, hanya mereka yang mampu berinovasi dan beradaptasi yang akan bertahan.
Meski S90 harus mengucapkan selamat tinggal, Volvo tetap optimis dengan masa depan mereka di Amerika. Fokus pada SUV dan mobil listrik produksi lokal mungkin akan menulis babak baru dalam sejarah produsen mobil Swedia ini.
Seperti phoenix yang bangkit dari abu, Volvo membuktikan bahwa setiap akhir bisa menjadi awal yang baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Kencang, Murah 80 Jutaan dan Anti Limbung, Cocok untuk Satset di Tol
- 7 Rekomendasi Lipstik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Cocok Jadi Hadiah Hari Ibu
- PSSI Tunjuk John Herdman Jadi Pelatih, Kapten Timnas Indonesia Berikan Komentar Tegas
- Media Swiss Sebut PSSI Salah Pilih John Herdman, Dianggap Setipe dengan Patrick Kluivert
Pilihan
-
Sriwijaya FC Selamat! Hakim Tolak Gugatan PKPU, Asa Bangkit Terbuka
-
Akbar Faizal Soal Sengketa Lahan Tanjung Bunga Makassar: JK Tak Akan Mundur
-
Luar Biasa! Jay Idzes Tembus 50 Laga Serie A, 4.478 Menit Bermain dan Minim Cedera
-
4 Rekomendasi HP OPPO Murah Terbaru untuk Pengguna Budget Terbatas
-
Bank Sumsel Babel Dorong CSR Berkelanjutan lewat Pemberdayaan UMKM di Sembawa Color Run 2025
Terkini
-
Rekomendasi Motor Matik Bekas Tahun Muda yang Tetap Bisa Dipakai Gaya
-
5 Cara Oper Kredit Mobil Resmi yang Aman untuk Atasi Cicilan yang Berat
-
5 Daftar Harga Motor Listrik Honda Terbaru Desember 2025, Bebas Pajak Tahunan!
-
Ratusan Bikers Jabodetabek Padati Penutupan Feders Gathering 2025 di Jakarta
-
5 Mobil Sedan Bekas yang Jarang Rewel untuk Orang Tua
-
5 Mobil Bekas Juara Irit dan Suku Cadangnya Melimpah Ruah, Punya Resale Value Tinggi
-
Skutik Harian yang Bikin Dompet Anti Jebol, Tapi Tetap Tawarkan Performa
-
Vario 125 Street Mainstream? Ini Alternatif Skutik Petualang dari Suzuki yang Tak Kalah Keren
-
Yamaha Ungkap Peluang Aerox Listrik Masuk Pasar Indonesia
-
Budget Rp195 Juta, Ini Duel BYD Atto 1 vs Wuling Binguo: Mana yang Paling Worth It Dibeli?