Otomotif / Mobil
Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:10 WIB
Logo General Motors di Amerika Serikat. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • General Motors memasang puluhan robot kolaboratif buatan Fanuc di lini produksi untuk menggantikan peran tenaga kerja manusia.
  • Kebijakan otomatisasi di fasilitas Factory Zero tersebut memicu ketegangan baru dengan serikat pekerja United Auto Workers (UAW).
  • Serikat pekerja menganggap penggunaan robot sebagai ancaman serius bagi kelangsungan lapangan kerja serta stabilitas ekonomi masa depan.

Suara.com - Langkah General Motors (GM) dalam melakukan otomatisasi besar-besaran di lini produksi memicu ketegangan baru dengan serikat pekerja.

Hanya berselang beberapa minggu setelah melonggarkan komitmen terhadap kendaraan listrik dan melakukan PHK lebih dari 1.000 pekerja di fasilitas Factory Zero, perusahaan kini mulai memasang puluhan robot kolaboratif untuk mengambil alih tugas manusia.

Raksasa otomotif yang menaungi merek Chevrolet, GMC, Buick, hingga Cadillac ini dilaporkan telah menambah sekitar 50 unit robot buatan Fanuc di jalur produksi. Mesin-mesin ini dirancang untuk bekerja berdampingan dengan manusia dalam memasang berbagai komponen kendaraan.

Namun, kehadiran teknologi ini dipandang sebagai ancaman serius bagi kelangsungan lapangan kerja anggota serikat United Auto Workers (UAW).

Presiden UAW Local 22 James Cotton mengungkapkan kekecewaan mendalam para pekerja terhadap kebijakan tersebut. Cotton menilai perusahaan sedang mencoba menghapus peran manusia di tengah masa sulit para buruh yang baru saja kehilangan mata pencaharian.

“Selalu menjadi kekhawatiran ketika melihat robot masuk ke sebuah pabrik, terutama setelah mereka mem-PHK lebih dari seribu orang. Mereka mengatakan ini adalah gelombang masa depan, dan jika memang demikian, mereka sedang menghilangkan pekerjaan manusia,” kata Cotton, dikutip dari Carscoops, Jumat (19/6/2026).

Di sisi lain, juru bicara GM Kevin Kelly memberikan pembelaan bahwa pemasangan robot merupakan bagian dari upaya menghadirkan teknologi canggih demi operasional yang lebih fleksibel dan kompetitif. GM berdalih bahwa penggunaan robot justru membantu meningkatkan keselamatan kerja serta ergonomi bagi para karyawan yang tersisa.

Otomatisasi memang menjadi tren yang mengubah industri secara masif. Sejak dekade 1980-an, jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit kendaraan telah berkurang sekitar 50 hingga 70 persen. Fakta ini memperkuat kekhawatiran bahwa peran buruh pabrik akan semakin terpinggirkan oleh kecerdasan artifisial dan robotika.

Isu penggunaan robot humanoid serta otomatisasi massal ini diprediksi akan menjadi topik panas dalam perundingan kontrak UAW pada 2028 mendatang. Presiden UAW Shawn Fain menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar perkembangan teknologi biasa melainkan ancaman nyata bagi sistem ekonomi.

Baca Juga: Bosan Merek Jepang? Ini 5 Mobil Matic Rp50 Jutaan Antimainstream yang Nyaman dan Stabil

“Saat ini kita sedang menghadapi salah satu revolusi teknologi paling mendalam dalam hidup kita dengan hadirnya AI, ancaman robot humanoid, dan otomatisasi massal. Ini adalah ancaman besar dan tantangan terhadap cara hidup kita, ekonomi kita, serta sistem politik kita,” pungkas Shawn Fain.

Load More