Otomotif / Mobil
Jum'at, 17 April 2026 | 15:53 WIB
Gedung kantor pusat General Motors di Detroit, Amerika Serikat (Shutterstock).
Baca 10 detik
  • Pemerintah Amerika Serikat mengajak perusahaan otomotif besar memproduksi alutsista guna memperkuat basis industri pertahanan nasional mereka.
  • Langkah ini diambil untuk mengisi kembali persediaan senjata yang berkurang drastis akibat berbagai konflik internasional sejak tahun 2022.
  • Presiden Trump mengusulkan kenaikan anggaran militer sebesar 500 miliar dolar untuk mendukung rencana perluasan produksi perlengkapan perang tersebut.

Suara.com - Pejabat senior pertahanan Amerika Serikat dilaporkan telah mengadakan pembicaraan serius mengenai produksi senjata dan perlengkapan militer dengan para eksekutif puncak perusahaan otomotif terkemuka. Nama-nama besar seperti General Motors (GM) dan Ford Motor menjadi target utama dalam rencana perluasan industri pertahanan ini.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, pembicaraan awal ini sebenarnya sudah dimulai sebelum pecahnya perang di Iran. Pemerintahan Trump menginginkan produsen mobil dan perusahaan manufaktur Amerika lainnya untuk mengambil peran yang lebih besar dalam memproduksi alutsista. 

Pejabat pertahanan menilai bahwa produsen kendaraan komersial mungkin sangat dibutuhkan untuk mendukung kontraktor pertahanan tradisional melalui transisi pekerjaan yang cepat.

Selain Ford dan GM, perusahaan GE Aerospace serta produsen kendaraan Oshkosh juga masuk dalam daftar pembicaraan tersebut. Seorang pejabat Pentagon menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi penting untuk menjaga stabilitas militer negara.

“Departemen Pertahanan berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan dengan cepat dengan memanfaatkan semua solusi dan teknologi komersial yang tersedia untuk memastikan para prajurit dapat mempertahankan keunggulan yang menentukan.” ujar pejabat tersebut, dikutip Jumat (17 April 2026).

Langkah berani ini muncul setelah Amerika Serikat menyalurkan stok senjata senilai miliaran dolar untuk mendukung berbagai konflik internasional sejak 2022. Persediaan artileri, amunisi, hingga rudal anti-tank dilaporkan mulai berkurang drastis sehingga perlu pengisian kembali secara masif.

Donald Trump sendiri telah bertemu dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan pada Maret lalu. Hal ini sejalan dengan ambisinya untuk meningkatkan anggaran militer secara besar-besaran. 

Trump meminta kenaikan anggaran sebesar 500 miliar dolar Amerika Serikat sehingga totalnya menyentuh angka 1,5 triliun dolar Amerika Serikat demi menghadapi situasi perang.

Hingga saat ini, pihak General Motors, Ford, GE Aerospace, maupun Oshkosh belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana keterlibatan mereka dalam produksi alat perang tersebut.

Baca Juga: 7 Mobil Listrik Super Fast Charging, Isi Baterai Cuma 18 Menit Bisa Tempuh Jarak Jauh

Namun sinyal peralihan industri otomotif ke sektor militer ini menunjukkan keseriusan Amerika Serikat dalam memperkuat pertahanan nasional mereka.

Load More