- Honda memperpanjang masa kerja sama dengan Guangzhou Automobile Group hingga tahun 2038 guna menghadapi dinamika pasar China.
- Penjualan kendaraan Honda di China merosot tajam hampir 60 persen dari tahun 2020 hingga prediksi 2025.
- Perpanjangan kemitraan ini dilakukan agar perusahaan mempunyai waktu mengevaluasi bisnis di tengah dominasi merek lokal.
Suara.com - Pabrikan otomotif asal Jepang Honda sedang menghadapi tantangan besar di pasar otomotif China yang merupakan pasar terbesar di dunia. Meskipun angka penjualan terus merosot tajam selama beberapa tahun terakhir, Honda justru memilih langkah berani dengan memperpanjang masa kerja sama dengan Guangzhou Automobile Group (GAC) hingga tahun 2038.
Melansir laporan dari Carscoops, perpanjangan kemitraan ini menambah durasi sepuluh tahun dari kesepakatan awal yang seharusnya berakhir pada 2028.
Sejak memulai produksi bersama pada 1999, kolaborasi Honda dan GAC telah membukukan total penjualan lebih dari 11 juta unit kendaraan. Namun kejayaan tersebut kini dibayangi oleh tren penurunan yang signifikan.
Data menunjukkan adanya kemunduran drastis pada performa Honda di China. Pada 2020, Honda masih sanggup memasarkan sekitar 1,62 juta unit kendaraan lewat
GAC Honda dan Dongfeng Honda. Memasuki 2025, angka tersebut diprediksi merosot hingga menyentuh angka 640.000 unit saja. Penurunan ini mencapai hampir 60 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Juru bicara Honda memberikan penjelasan terkait alasan di balik langkah strategis tersebut. Perusahaan membutuhkan ruang gerak untuk memantau dinamika pasar yang sangat fluktuatif di Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Keberlangsungan bisnis membutuhkan jangka waktu tertentu. Sementara itu, pasar otomotif China berubah dengan sangat cepat sehingga kami mengambil keputusan ini untuk terus mengevaluasi lingkungan bisnis," ujar perwakilan Honda.
Masa depan Honda di China diprediksi tetap terjal karena dominasi merek lokal yang semakin kuat. Produsen otomotif China kini memimpin pasar dengan menawarkan kendaraan listrik berteknologi tinggi dan harga yang jauh lebih kompetitif.
Honda harus segera beradaptasi jika ingin mempertahankan eksistensi di tengah gempuran mobil listrik lokal yang kian canggih dan diminati konsumen di pasar China.
Baca Juga: Vario 125 Masih Jagoan? Komparasi vs Burgman, FreeGo, dan Brusky Bikin Kaget!
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Review Film Ip Man: Kung Fu Legend, Keadilan Ditegakkan Lewat Wing Chun!
-
Kasus Eks Jampidsus Dinilai Momentum Menguji Komitmen Negara Berantas Korupsi
-
Penjualan Honda Terjun Bebas saat Gandeng GAC di China
-
Pesawat Tempur Siluman Hingga Pengebom AS Dikirim ke Medan Perang Iran, Ratusan Dokter Stand By
-
Timnas Putri Indonesia Back-to-Back Juara Piala AFF 2026, Erick Thohir Angkat Topi
-
Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Khofifah Dorong Pemenuhan Hak Anak sebagai Investasi Bangsa
-
Satu Pakaian, Sejuta Harapan: CSR ibis Styles Bogor Pajajaran Bersama Yayasan Gemilang Indonesia
-
Nanik Tetap Jabat Komisaris Pertamina Usai Mundur dari BGN, Tunjangannya Lebih Besar
-
Selat Hormuz Bakal Jadi 'Neraka Dunia', Ranjau Tanker Siap Meledak Kapan Saja
-
Harga Tiket Piala Presiden 2026 Murah Meriah, Seharga Dua Gelas Kopi!