Otomotif / Mobil
Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Xiaomi YU7 Standard. (Xiaomi)
Baca 10 detik
  • Hanxing Venture Capital milik Xiaomi berinvestasi di startup Zhejiang Xinglixing New Energy Technology untuk masuk bisnis tukar baterai di Tiongkok pada pertengahan 2026.
  • Restrukturisasi saham dan suntikan modal tersebut berhasil meningkatkan total modal perusahaan startup tersebut dari RMB 100 juta menjadi RMB 130 juta.
  • Investasi strategis ini bertujuan mempelajari teknologi tukar baterai kendaraan listrik guna mengantisipasi perkembangan pasar masa depan yang lebih praktis.

Suara.com - Xiaomi baru saja melakukan langkah strategis dengan berinvestasi di perusahaan Zhejiang Xinglixing New Energy Technology, sebuah startup yang bergerak di bidang teknologi swap battery untuk kendaraan listrik.

Investasi ini dilakukan melalui Hanxing Venture Capital, yang kini memegang sekitar 23 persen saham perusahaan tersebut.

Modal perusahaan pun naik dari RMB 100 juta (Rp266,7 M) menjadi RMB 130 juta (Rp346,7 M), menurut Arena EV.

Hanxing Venture Capital adalah perusahaan yang didukung Xiaomi, dan lewat investasi ini mereka resmi masuk ke bisnis swap battery.

Zhejiang Xinglixing sendiri baru berdiri Februari 2026, fokus pada pengembangan peralatan tukar baterai, pengelolaan aset baterai, hingga operasional stasiun swap.

Meski masih pemain baru, langkah ini menunjukkan Xiaomi ingin punya posisi di ekosistem energi kendaraan listrik.

Restrukturisasi saham dan tambahan modal ini tercatat pada pertengahan 2026. Saat ini, perusahaan sedang menyiapkan layanan swap battery di tingkat regional, sementara Xiaomi baru saja memperkenalkan duo SkyNomad EREV sebagai lini mobil listrik mereka.

Sedan Listrik Xiaomi SU7 Generasi Baru (mi.com)

Langkah ini dilakukan di Tiongkok, pasar EV terbesar dunia. Dengan ekosistem kendaraan listrik yang terus berkembang, swap battery bisa jadi solusi praktis bagi konsumen yang ingin menghemat waktu pengisian daya.

Jika sukses, teknologi ini berpotensi merambah ke pasar global, termasuk Asia Tenggara.

Baca Juga: Mobil Bekas Terbaik dengan Harga Terjangkau Menurut Pakar: 2 EV Under 200 Juta Kasta Setara Ioniq

Swap battery dianggap sebagai salah satu alternatif pengisian daya cepat. Alih-alih menunggu baterai penuh di stasiun charging, pengguna cukup menukar baterai kosong dengan yang sudah terisi.

Menurut laporan, Xiaomi belum tentu langsung meluncurkan mobil dengan fitur ini, namun investasi mereka bisa jadi langkah antisipasi.

Produsen lain seperti NIO, SAIC, dan CATL sudah lebih dulu pionir di segmen ini, bahkan NIO berambisi membangun jaringan swap battery terbesar di dunia.

Xiaomi tampaknya ingin menjaga opsi terbuka. Dengan masuk ke bisnis swap battery, mereka bisa mempelajari model bisnis dan teknologi yang sudah berjalan.

Zhejiang Xinglixing akan fokus pada layanan, bukan menciptakan teknologi baru. Sementara itu, Xiaomi masih mengandalkan model EREV dan EV konvensional.

Kapasitas produksi untuk menambah lini mobil swap battery belum tersedia, sehingga kemungkinan besar fitur ini baru akan hadir beberapa tahun ke depan.

Load More