Studi Ungkap Mobil Listrik Bikin Mabuk Perjalanan

Selasa, 15 September 2026 | 08:45 WIB
Ilustrasi mobil listrik (Magnific)
  • Penelitian William Emond menunjukkan karakteristik mobil listrik dapat memicu mabuk perjalanan pada sebagian penumpang.
  • Sistem pengereman regeneratif dan layar hiburan besar pada mobil listrik memperparah ketidaksesuaian informasi di otak.
  • Penumpang dapat mengurangi gejala mual dengan menghindari layar, menghirup udara segar, dan melihat arah jalan.

Suara.com - Mobil listrik dikenal punya karakter berkendara yang lebih senyap dan minim getaran. Kondisi ini sempat dianggap bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman terutama bagi penumpang yang mudah mengalami mabuk perjalanan.

Namun, anggapan tersebut ternyata tidak selalu benar. Sejumlah penelitian menunjukkan karakteristik tertentu pada mobil listrik justru bisa membuat sebagian penumpang lebih rentan mengalami mabuk perjalanan.

Melansir SlashGear, kondisi ini berkaitan dengan cara otak menerima dan memproses informasi mengenai gerakan kendaraan.

Dalam penelitian yang dilakukan William Emond dari Université de Technologie de Belfort-Montbéliard, dijelaskan bahwa mabuk perjalanan dapat terjadi ketika gerakan yang diperkirakan otak tidak sesuai dengan apa yang benar-benar dirasakan tubuh.

Ketidaksesuaian tersebut dikenal sebagai neural mismatch. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu berbagai reaksi pada tubuh termasuk rasa mual.

Pada mobil listrik, perbedaan karakter berkendara dengan mobil konvensional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Hal ini terutama terlihat dari respons akselerasi dan perlambatan yang berbeda. Sistem pengereman regeneratif pada EV bahkan disebut dapat memperparah kondisi tersebut.

Mobil Listrik yang dipamerkan di Mall 23 Semarang. [Istimewa]

Masalahnya, respons pengereman regeneratif pada beberapa mobil bisa terasa cukup cepat dan mendadak. Perubahan gerakan yang tiba-tiba itulah yang berpotensi memperparah gejala mabuk perjalanan pada penumpang yang sensitif.

Selain perubahan gerakan kendaraan, posisi tubuh dan apa yang dilihat penumpang juga berpengaruh. Gerakan lambat dan berulang seperti ayunan atau guncangan tertentu diketahui lebih mudah memicu mabuk perjalanan pada orang yang memang rentan.

Saat berada di dalam mobil, mata bisa menangkap pemandangan yang menunjukkan tubuh sedang bergerak. Namun, tubuh sendiri sebenarnya berada dalam posisi duduk dan relatif diam.

Perbedaan informasi yang diterima mata dan tubuh tersebut kemudian bisa membuat otak mengalami kebingungan dan memicu gejala seperti mual, pusing hingga sakit kepala.

Layar hiburan berukuran besar yang kini banyak digunakan pada mobil listrik juga bisa memperparah mabuk perjalanan. Saat membaca atau menonton, mata fokus pada objek yang relatif diam sementara tubuh tetap merasakan gerakan kendaraan. Kondisi ini dapat meningkatkan ketidaksesuaian informasi yang diterima otak.

Meski begitu, mobil listrik bukan satu-satunya penyebab mabuk perjalanan. Kendaraan konvensional juga bisa menimbulkan kondisi serupa khususnya pada penumpang yang memang sensitif terhadap gerakan.

Untuk mengurangi gejalanya, penumpang bisa menghindari penggunaan layar, menghirup udara segar, serta memilih posisi duduk yang memungkinkan melihat jalan.

Profesor University of California Davis, Natascha Tuznik, juga menyarankan penumpang untuk melihat arah jalan selama perjalanan. Pada mobil listrik, penggunaan pengereman regeneratif secara lebih halus juga dapat membantu mengurangi perubahan gerakan yang mendadak.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com