“jangan diambil lepek/cawannya mas, hanya cangkir saja” inilah pesan pedagang dawet jika anda pertama kali mecoba kuliner es dawet yang berada di Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur.
Kabupaten Ponorogo memang tidak hanya memiliki kesenian Reog, tetapi juga memiliki kuliner yang khas dan melegenda seperti dawet Jabung. Ya, dinamakan dawet jabung karena letak jualannya berada di perempatan Desa Jabung yang bisa dikatakan sentra penjual dawet. Ada puluhan warung disana yang khusus menjual dawet jabung. Harganya pun cukup murah, satu mangkok dawet jabung hanya dihargai Rp 4000 saja.
Dawet jabung bukan hanya terkenal oleh rasanya yang manis dan segar. Namun, juga terkenal dengan mitos yang selama ini diyakini oleh penjualnya. Mitos tersebut adalah jika cawan atau lepek itu lupa ikut dikasihkan kepada pembelinya, maka penjual dawet jabung yang kebanyakan perempuan bisa dinikahi oleh pembelinya.
“mitos itu artinya melamar, jadi jika menerima cawan/lepeknya berarti minta dilamar. Tetapi itu mitos dulu, kalau sekarang ya cuma mitos aja” ungkap yuana, pedagang dawet Jabung yang ditemui ponorogo.suara.com senin (13/3/23)
Yuanan menambahkan, dirinya sudah berjualan sejak 8 tahun silam, itupun meneruskan usaha dawet jabung dari keluarganya yang sudah turun temurun.
"Ini nerusin usaha orang tua " kata yuana
Menurut informasi yang dihimpun ponorogo.suara.com, hampir semua penyajian dawet jabung ini beda dengan jualan minuman lainnya. Semua penjual dawet jabung, hingga sekarang patuh dengan leluhurnya dulu, tidak memberikan lepek kepada pembeli dawetnya.
Yuana bahkan sering tarik menarik lepek dengan pembeli. Menurutnya, pembeli yang menarik lepek itu, biasanya dari luar kota. Kebanyakan mereka tidak tahu, kalau yang diambil itu hanya mangkoknya saja.
"Biasanya yang tarik menarik lepek itu pembeli dari luar Ponorogo. Kalau orang Ponorogo sudah hafal kalau yang diambil cuma mangkok dawetnya saja," katanya.
Baca Juga: Polisi Abai Lihat Identitas AG Tersebar di Media Sosial, Pakar Hukum Pidana Singgung UU SPPA
ia berpendapat bahwa memang dawet jabung itu tidak panas, sehingga tidak butuh pakai lepek atau cawan. Beda halnya dengan minuman panas, semisal kopi, yang harus pakai lepek atau cawan.
"Sudah tradisi dari dulu, mau penerus keberapa pun tetap sama. Lepek tidak ikut diberikan kepada pembelinya," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mudik Gratis Pemkot Medan 2026 Segera Dibuka, Ini Cara Pendaftarannya
-
Kasus Suspek Campak Naik Tajam Awal 2026, Kemenkes Minta Warga Waspada dan Kenali Gejalanya
-
Rumor Panas! Jurgen Klopp Latih Real Madrid atau Timnas Jerman? Bos Red Bull Buka Suara
-
Mobil Rp8,5 M Gubernur Kaltim Viral, Ini Aturan Resmi Kendaraan Dinas Kepala Daerah
-
Demo di Mabes Polri! Polisi Minta Mahasiswa Waspada Penunggang Gelap dan Tak Mudah Terprovokasi
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
Vonis 10 Tahun Penjara: Agus Purwono 'Lolos' dari Tuntutan Maksimal Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak
-
Isuzu Indonesia Perkuat Dominasi Pasar Kendaraan Niaga Menuju Tahun 2026
-
Tayang Mulai Hari Ini, "Titip Bunda di Surga-Mu" Pengingat Pentingya Pulang ke Keluarga Saat Lebaran
-
Pejabat Amnesia, Rakyat Jadi Tersangka: Drama Aspal yang Lebih Licin dari Belut