Ferry Noviandi
Minggu, 18 Oktober 2020 | 01:40 WIB
Ilustrasi investasi bodong. [Shutterstock]

Suara.com - Investasi bodong masih menjadi kejahatan yang serius di Indonesia. Hingga saat ini kasus tersebut masih sering terjadi di Tanah Air.

Menurut Satgas OJK, Tongam L Tobing, kerugian dari kasus investasi bodong mencapai angka Rp92 triliun selama 10 tahun terakhir. Sebuah angka yang sangat besar, dan menandakan kasus ini menjadi sebuah ancaman yang serius.

"Dalam beberapa bulan pertama nasabah akan mendapatkan bunga 10% dan hanya berlaku sampai bulan ketiga. Setelah top up miliaran rupiah, kemudian perusahaan kabur. Jadi, nasabah dipancing untuk top up terlebih dahulu, kemudian ditipu," kata Tongam L Tobing.

Detektif Jubun. [dokumentasi pribadi]

Meski kasus investasi bodong sering terjadi, namun ada akar permasalahan yang belum bisa teratasi. Permasalahannya adalah, siapa dalang di balik aksi penipuan tersebut. Hal ini akan sangat sulit diungkap orang awam, yang tidak memiliki kemampuan di bidang investigasi.

Karena untuk mengungkap kasus investasi bodong dibutuhkan seorang private investigator profesional. Selain ahli, juga harus memiliki koneksi, dari bawahan hingga atasan.

Di Indonesia sendiri sebenarnya sudah ada investigator profesional, yang salah satu keahliannya mengurus kasus investasi bodong. Dalam praktiknya, mereka bekerja dengan para investigator profesiona lainnya.

Mereka memiliki latar belakang di bidang intelijen, psikologi, interpol, hukum dan teknologi informatika.

Salah satu investigator profesional yang ada di Indonesia adalah Detektif Jubun. Dalam proses pengungkapan kasus, Jubun akan fokus mencari keterangan selengkap-lengkapnya dari klien.

Kemudian dia akan memulai eksplorasi dengan memanfaatkan teknologi canggih saat ini mulai dari akun sosial media, dan jejak digital lainnya.

Dari data dan informasi yang dia dapatkan, Jubun bisa melacak keberadaan seseorang meskipun berada di luar negeri. Dia bisa menemukan seseorang yang memiliki informasi sensitif.