- Detektif Jubun mengidentifikasi bahwa skema *money game* memanfaatkan harapan dan ketidaksabaran, memanipulasi emosi korban secara psikologis.
- Label "Syariah" sering disalahgunakan sebagai tameng moral untuk meyakinkan korban agar tidak memeriksa legalitas bisnis tersebut.
- Inti penipuan ini adalah Skema Ponzi, di mana keuntungan dibayar menggunakan uang dari anggota baru, bukan dari bisnis riil.
Suara.com - Siapa sih yang nggak tergiur punya passive income melimpah tanpa perlu kerja keras? Di tengah gempuran tren gaya hidup mewah di media sosial, tawaran investasi dengan imbal hasil selangit seringkali terlihat seperti oase di padang pasir.
Namun, hati-hati! Alih-alih merdeka secara finansial, banyak orang justru terjebak dalam lubang hitam bernama money game. Bahkan, belakangan ini label "Syariah" sering disalahgunakan untuk meluluhkan logika calon korbannya.
Detektif Jubun, seorang detektif swasta yang sudah kenyang menangani kasus penipuan investasi, membagikan perspektifnya tentang bagaimana pola lama ini terus memakan korban dengan baju yang baru.
Sisi Psikologis: Memainkan Harapan dan Emosi
Mengapa orang pintar sekalipun bisa tertipu? Jawabannya bukan karena mereka kurang cerdas, tapi karena emosi yang dimanipulasi.
“Pada dasarnya, money game itu memanfaatkan dua titik lemah manusia: harapan dan ketidaksabaran,” ujar Jubun.
Janji keuntungan besar dalam waktu singkat seringkali membuat nalar kritis kita "tidur". Kita lebih fokus pada bayangan barang mewah yang ingin dibeli daripada risiko kehilangan modal utama.
Mengapa Label Syariah Menggiurkan?
Saat ini, embel-embel agama sering kali menjadi tameng paling ampuh bagi para pelaku penipuan. Label syariah memberikan rasa aman palsu secara moral dan spiritual.
Baca Juga: 5 Hobi yang Diam-diam Bikin Kamu Naik Level, Investasi Hidup yang Seru!
“Banyak orang merasa aman secara moral. Mereka berpikir, ‘Ini syariah, berarti halal dan aman,’ tanpa benar-benar memeriksa model bisnisnya,” jelas Jubun.
Pelaku biasanya menggunakan testimoni palsu, simbol-simbol agama, bahkan menggandeng tokoh agama demi meyakinkan publik. Akibatnya, banyak investor yang abai memeriksa legalitas karena sudah merasa "diberkati".
Kenali Polanya: Uang Baru untuk Bayar Uang Lama
Meski kemasannya berganti dari investasi perkebunan, emas, hingga kripto syariah, mesin di dalamnya tetap sama: Skema Ponzi. Tidak ada bisnis riil di sana. Keuntungan yang dibagikan sebenarnya berasal dari setoran anggota baru.
“Begitu arus dana melambat, sistemnya runtuh. Pelaku lalu menghilang dengan alasan klasik: uang dibawa admin, server error, atau direksi sedang di luar negeri,” ungkap Jubun.
Sebagai detektif, Jubun tidak mengejar alasan-alasan klise tersebut. Ia justru mengejar jejak yang ditinggalkan pelaku di dunia digital.
“Saya mempelajari pola, identitas digital, relasi bisnis, sampai kebiasaan mereka di media sosial. Ponsel bisa diganti, akun bisa ditutup, tapi pola hidup itu sulit disamarkan,” tambahnya.
Tips Anti-Zonk ala Detektif Jubun
Agar tabungan hasil kerja kerasmu tidak lari ke kantong penipu, terapkan tiga filter sederhana ini sebelum menyetor uang:
- Too Good to be True? Jika keuntungannya terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang tidak nyata.
- Cek Alur Bisnisnya. Selalu tanyakan: uang saya diputar di mana dan bagaimana? Jika jawabannya berputar-putar atau tidak masuk akal, itu adalah tanda bahaya.
- Berani Berkata Tidak. Jangan malu untuk menolak. Lebih baik kehilangan “kesempatan” daripada kehilangan tabungan hasil kerja bertahun-tahun.
Investasi memang tentang kecepatan menangkap peluang, tapi logika tidak boleh ditinggalkan di belakang. Sebelum bergabung dalam komunitas investasi mana pun, lakukan riset mendalam atau konsultasi dengan ahli.
“Konsultasi sejak awal jauh lebih murah dibanding biaya memulihkan kerugian,” tegas Jubun.
Ingat, investasi yang sehat bukan hanya soal menambah saldo rekening, tapi juga menjaga ketenangan pikiran dan masa depan keluarga. Jangan sampai semangat untuk "halal" justru membawa kita ke jalan yang salah karena kurang waspada.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
5 Shio Paling Beruntung dan Makmur di 27 Februari 2026, Kamu Termasuk?
-
Profil Bunga Sartika, Host 'Halo Qha Qha Permisi' Mendadak Resign, Gara-gara Rahasia Terbongkar?
-
Niat Bayar Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Jangan Sampai Salah Bacaan
-
Apakah Sepeda Listrik Boleh Dicuci? Ini Caranya Supaya Tidak Tersetrum
-
7 Sepeda Push Bike Anak Kokoh selain London Taxi, Rangka Kuat Tahan Banting
-
10 Karakter Orang yang Suka Musik Jazz dan Fakta Menarik di Baliknya
-
Apakah Karyawan Kontrak Resign Sebelum Lebaran dapat THR? Ini Ketentuannya
-
Kapan THR Karyawan Swasta 2026 Cair? Intip Bocoran Tanggal dan Aturan Mainnya
-
Kronologi Irawati Puteri Eks SPG Nugget Lulus S2 Stanford Pakai Beasiswa LPDP
-
Jadwal Imsak Yogyakarta 27 Februari 2026, Cek Tips Sahur agar Kuat Puasa