Lifestyle / Komunitas
Minggu, 11 Januari 2026 | 21:28 WIB
Detektif Jubun. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Detektif Jubun mengidentifikasi bahwa skema *money game* memanfaatkan harapan dan ketidaksabaran, memanipulasi emosi korban secara psikologis.
  • Label "Syariah" sering disalahgunakan sebagai tameng moral untuk meyakinkan korban agar tidak memeriksa legalitas bisnis tersebut.
  • Inti penipuan ini adalah Skema Ponzi, di mana keuntungan dibayar menggunakan uang dari anggota baru, bukan dari bisnis riil.

Suara.com - Siapa sih yang nggak tergiur punya passive income melimpah tanpa perlu kerja keras? Di tengah gempuran tren gaya hidup mewah di media sosial, tawaran investasi dengan imbal hasil selangit seringkali terlihat seperti oase di padang pasir.

Namun, hati-hati! Alih-alih merdeka secara finansial, banyak orang justru terjebak dalam lubang hitam bernama money game. Bahkan, belakangan ini label "Syariah" sering disalahgunakan untuk meluluhkan logika calon korbannya.

Detektif Jubun, seorang detektif swasta yang sudah kenyang menangani kasus penipuan investasi, membagikan perspektifnya tentang bagaimana pola lama ini terus memakan korban dengan baju yang baru.

Sisi Psikologis: Memainkan Harapan dan Emosi

Mengapa orang pintar sekalipun bisa tertipu? Jawabannya bukan karena mereka kurang cerdas, tapi karena emosi yang dimanipulasi.

“Pada dasarnya, money game itu memanfaatkan dua titik lemah manusia: harapan dan ketidaksabaran,” ujar Jubun.

Janji keuntungan besar dalam waktu singkat seringkali membuat nalar kritis kita "tidur". Kita lebih fokus pada bayangan barang mewah yang ingin dibeli daripada risiko kehilangan modal utama.

Mengapa Label Syariah Menggiurkan?

Saat ini, embel-embel agama sering kali menjadi tameng paling ampuh bagi para pelaku penipuan. Label syariah memberikan rasa aman palsu secara moral dan spiritual.

Baca Juga: 5 Hobi yang Diam-diam Bikin Kamu Naik Level, Investasi Hidup yang Seru!

“Banyak orang merasa aman secara moral. Mereka berpikir, ‘Ini syariah, berarti halal dan aman,’ tanpa benar-benar memeriksa model bisnisnya,” jelas Jubun.

Pelaku biasanya menggunakan testimoni palsu, simbol-simbol agama, bahkan menggandeng tokoh agama demi meyakinkan publik. Akibatnya, banyak investor yang abai memeriksa legalitas karena sudah merasa "diberkati".

Kenali Polanya: Uang Baru untuk Bayar Uang Lama

Meski kemasannya berganti dari investasi perkebunan, emas, hingga kripto syariah, mesin di dalamnya tetap sama: Skema Ponzi. Tidak ada bisnis riil di sana. Keuntungan yang dibagikan sebenarnya berasal dari setoran anggota baru.

“Begitu arus dana melambat, sistemnya runtuh. Pelaku lalu menghilang dengan alasan klasik: uang dibawa admin, server error, atau direksi sedang di luar negeri,” ungkap Jubun.

Sebagai detektif, Jubun tidak mengejar alasan-alasan klise tersebut. Ia justru mengejar jejak yang ditinggalkan pelaku di dunia digital.

Load More