PURWOKERTO.SUARA.COM, BANJARNEGARA- Kabupaten Banjarnegara dikenal sebagai daerah rawan bencana tanah longsor. Sebagian besar wilayahnya yang berbukit rawan terjadi pergerakan tanah.
Bukan hanya mengancam pemukiman, tanah longsor juga mengancam infrastruktur umum seperti jalan.
Pemerintah pun harus mengeluarkan anggaran ekstra untuk memperbaiki jalan yang rusak atau lenyap karena longsor.
Di antara jalan yang langganan longsor berada di Desa Prendengan Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara.
Desa Prendengan memiliki dua akses jalan yang menghubungkannya dengan dunia luar. Jalur pertama melalui Desa Sijeruk yang menghubungkan ke kecamatan Banjarmangu atau kota Banjarnegara.
Jalur kedua menghubungkan ke Kecamatan Karangkobar via Desa Pagerpelah.
Sayangnya, kedua jalan itu sama-sama rawan putus karena longsor saat musim hujan.
Tidak heran desa itu sering terisolasi saat jalan putus karena terjadi pergerakan. Desa itu sendiri berada di balik Gunung Pawinihan yang berbatasan dengan hutan.
Untuk mencapai desa ini, dari Banjarnegara melalui Desa Sijeruk dengan kondisi jalan yang cukup sempit dan beberapa bagian telah rusak.
Baca Juga: Pendanaan Pemilu Banjarnegara Disepakati: KPU Rp 32,97 Miliar, Bawaslu Rp 8,15 Miliar
Untuk melewati jalur ini pengendara harus hati-hati. Sebab di beberapa titik jalan, kondisinya rusak karena pergerakan tanah.
Bahkan beberapa titik jalan lokasinya sudah berpindah atau bergeser karena pergerakan.
Di antara titik paling parah adalah di Kalicangkok. Jalan itu langganan hancur hingga putus karena longsor.
Jalan itu berada persis di bawah persis tebing dengan kemiringan sangat curam. Ditambah kondisi tanah lereng yang labil membuatnya lebih berisiko longsor.
Ada beberapa rekahan yang semakin lama kian lebar. Tebing di atas jalan itu juga terlihat gundul atau hilang tanamannya karena berulang kali longsor.
Saat tebing longsor, materialnya berupa tanah dan batu-batu besar menggelinding menimbun jalan. Berkali-kali dihantam longsor membuat jalan itu kerap hancur hingga putus.
Warga kerap gotong royong membersihkan longsoran agar bisa kembali dilalui kendaraan.
Karena itu akses vital yang menghubungkan desa dengan dunia luar, termasuk anak-anak sekolah.
Jalan kabupaten itu pun susah dipindah atau dibangun jalan alternatif karena hampir semua wilayah di situ rawan pergerakan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan