/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 09:26 WIB
Kerusuhan Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Selebtek.suara.com - Kabar duka datang dari dunia persepakbolaan Tanah Air. Laga derbi Jatim yang mempertemukan Arema FC Vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada Sabtu (1/10/2022) diwarnai kericuhan.

Melansir Soreang.suara.com dari TimesIndonesia, insiden kericuhan tersebut mengakibatkan 127 orang tewas, termasuk anak-anak. Dua diantaranya adalah anggota Polri.

Hal ini disampaikan Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta ketika konfrensi pers, Minggu, 2 Oktober 2022 dini hari.

Dalam Konferensi itu turut pula dihadiri Bupati Malang, Sanusi, Wabup Malang Didik Gatot Subroto, Dandim 0818 Letkol Inf Taufik Hidayat, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dan Ketua DPRD Kabupaten Malang Darmadi.

"Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang. Dua diantaranya adalah anggota Polri," kata Kapolda Jatim.

Kapolda Jatim menjelaskan terkait kronologi tragedi Stadion Kanjuruhan yang menyebabkan korban ratusan jiwa melayang tersebut.

Tragedi kericuhan sendiri terjadi usai Arema FC kalah dari tim tamu Persebaya dengan sekor 2-3 pada laga lanjutan Liga 1 2022-2023 Sabtu (1/10/2022) malam. 

Sebuah mobil polisi rusak di lapangan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam, akibat kericuhan yang terjadi usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya (sumber: ANTARA/Vicki Febrianto)

Kekalahan tersebut membuat tuan rumah yang berkisar 40 ribu Aremania yang datang di stadion meluapkan kekecewaannya.

Usai peluit panjang dibunyikan tanda pertandingan berakhir, sejumlah Aremania memasuki lapangan untuk meluapkan kekecewaan lantaran kalah dari rival.

Baca Juga: Jadwal MPL ID Season 10 Minggu 2 Oktober, Laga Terakhir sebelum Playoffs

Dia mengatakan, rasa kekecewaan akibat timnya kalah menggerakkan para penonton turun ke tengah lapangan dan berusaha mencari para pemain maupun official menanyakan penyebab kekalahan.

Menurut Kapolda Jatim, anggota Polri yang berjaga di lapangan berusaha melakukan pencegahan supaya para penonton tidak merangsek ke dalam lapangan dan mengejar para pemain.

"Oleh karena itu anggota berupaya melakukan pencegahan dan melakukan pengalihan supaya mereka tidak masuk ke dalam lapangan dan mengejar para pemain," tegasnya.

Tak lama kemudian, aparat menembakkan gas air mata untuk ke arah tribun penonton. Akibatnya, ribuan suporter yang masih memenuhi tribun panik menyelematkan diri.

Diduga tembakan gas air mata oleh kepolisian menambah riuh dan kericuhan yang terjadi di tribun.(*)

Sumber: Soreang.suara.com

Load More