Entertainment / Gosip
Kamis, 12 Februari 2026 | 12:22 WIB
Pandji Pragiwaksono dijuluki Ksatria saat hadir di sidang adat Tana Toraja (Instagram/pandji.pragiwaksono)

Suara.com - Pandji Pragiwaksono baru-baru ini mendatangi Tongkonan Layuk Kaero, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada Selasa (10/2/2026).

Kedatangan komika tersebut bertujuan untuk menjalani sidang adat setelah materi stand up comedy yang dibawakannya menuai polemik karena dianggap menyinggung adat dan tradisi Toraja.

Setelah melalui rangkaian prosesi sidang adat, Pandji membagikan pengalamannya lewat unggahan terbaru di Instagram.

Ia menceritakan bahwa di penghujung proses sidang, pemimpin upacara adat menyampaikan bahwa banyak masyarakat Toraja tidak menyangka dirinya benar-benar akan hadir.

Pandji menuturkan bahwa kehadirannya justru membuat suasana yang semula dipenuhi kemarahan menjadi mereda.

“Ketika melihat gue berjalan memasuki Tongkonan Kaero yang berusia 800 tahun, menurut beliau dan beberapa tetua, kemarahan orang mereda,” kata Pandji, Kamis (12/2/2026).

Dalam kesempatan itu, ia juga disebut sebagai seorang ksatria karena dinilai berani datang dan menghadapi pertanyaan dari para perwakilan wilayah adat.

“Dalam pidatonya beliau mengatakan bahwa gue seorang Ksatria karena hadir dan menghadapi pertanyaan perwakilan 32 wilayah adat,” tulis Pandji.

Usai menjalani upacara adat dan menerima julukan ksatria tersebut, Pandji menghampiri pemimpin upacara untuk menyampaikan sesuatu secara langsung.

Baca Juga: Pandji Pragiwaksono dan MUI Nobar Mens Rea: Dialog Menyenangkan, Penuh Tawa

Ia menjabat tangan sang pemimpin adat dan mengungkapkan makna dari namanya.

“Bapak perlu tahu, nama panjang saya Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Wongso Yudo artinya Bangsa Perang. Alias: Ksatria,” ucapnya.

Pandji Pragiwaksono dijuluki Ksatria saat hadir di sidang adat Tana Toraja (Instagram/pandji.pragiwaksono)

Setelah mendengar ucapannya, menurut Pandji, pemimpin upacara itu tersenyum lalu menjabat tangannya lebih erat.

Momen tersebut membuatnya kembali mengingat perjalanan hidup yang ia yakini sebagai bentuk perjuangan.

“Gue memang ditakdirkan untuk berjuang di jalan seperti ini. Supaya yang lain bisa belajar atau bisa melewati dengan nyaman jalan yang sudah dibuka. Wongsoyudan takdirnya berjuang,” kata Pandji.

Sementara itu, dalam peradilan yang dihadiri perwakilan masyarakat Toraja itu, Pandji mendapatkan sanksi adat yang mewajibkannya menyerahkan satu ekor babi dan lima ekor ayam.

Bagi masyarakat Toraja, sidang adat merupakan ruang pemulihan, bukan semata-mata penghukuman apalagi penghakiman sepihak.

Kontributor : Rizka Utami

Load More