/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 07:42 WIB
Irjen Pol Nico Afinta dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda Jatim usai tragedi Stadion Kanjuruhan (Suara.com/Achmad Ali)

SUARA SEMARANG - Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nico Afinta resmi dicopot usai insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Mantan Kapolda Jawa Timur tersebut kini ditugaskan menjadi Staf Ahli Bidang Sosial dan Budaya atau Sahli Sosbud Kapolri.

Adapun posisi Kapolda Jawa Timur kini dijabat oleh Irjen Pol Teddy Minahasa yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sumatera Barat.

Pencopotan Irjen Nico Afinta sebagai Kapolda Jawa Timur tersebut berdasarkan Surat Telegram Nomor: ST/2134/X/KEP/2022.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, mutasi jabatan ini bersifat alamiah untuk meningkatkan kinerja organisasi.

"Mutasi adalah hal yang alamiah di organisasi Polri dalam rangka promosi dan meningkatkan kinerja organisasi," kata Dedi, Senin (10/10/2022) malam dikutip dari suara.com.

Sementara itu, Pengamat kepolisan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto menilai Nico yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur sudah semestinya bertanggung jawab.

Menurutnya, tidak mungkin Kapolda Jawa Timur tidak mengetahui pergerakan anggota dalam event tersebut.

Di sisi lain, adanya surat permohonan perubahan jadwal pertandingan antara Arema dan Persebaya yang diajukan mantan Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga dinilai Bambang sudah atas sepengatahuan Nico selaku Kapolda Jawa Timur.

Baca Juga: Orang Tua Novita Kurnia Putri WNI Tewas di Texas, Minta Jenazah Anaknya Dimakamkan di Semarang

Namun pertandingan derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya yang biasanya bertensi tinggi tersebut tetap dilaksanakan pada pukul 20.30 WIB.

"Artinya, Kapolda tidak menggunakan otoritasnya untuk mendukung surat Kapolres, sehingga event tersebut tetap digelar," ujar Bambang.

Menurut Bambang,  Nico juga mengeluarkan pernyataan prematur yang mengklaim anggota Polri yang bertugas sudah sesuai SOP saat terjadi tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Menurutnya, pernyataan Nico tersebut menunjukkan yang bersangkutan tidak memiliki sense of crisis dan empati terhadap korban.

"Insiden dalam pertandingan sepak bola sudah sering terjadi, tetapi tak mengakibatkkan korban yang semasif kali ini," kata Bambang.

"Terbukti dengan adanya penggunaan gas air mata yang disemprotkan pada penonton yang berada di tribun yang belum tentu melakukan kesalahan. Sebagai sebuah industri olah raga sepak bola, tentunya harus mengikuti statuta FIFA sebagai pemegang otoritas sepak bola dunia," imbuhnya.

Load More