SuaraSoreang.id - Tahun 536 Masehi diyakini sebagai tahun kegelapan. Bagaimana tidak, matahari hanya bersinar 4 jam dalam sehari. Penurunan suhu yang sangat drastis pun tak terhindarkan. Kondisi matahari yang tidak bersinar sebagai mestinya ini terjadi selama 18 bulan.
Walaupun tahun-tahun sebelum dan sesudah banyak bencana alam di muka bumi. Namun, para ilmuwan yakin bahwa tidak ada tahun yang lebih menyeramkan daripada tahun 536 Masehi ini.
Keadaan menyeramkan kala itu kurang lebih seperti; cuaca yang dingin, gagalnya panen yang membuat krisis pangan dan menyebabkan kelaparan massal, bahkan di China yang seharusnya mengalami musim panas malah turun salju. Tidak selesai disitu, ditambah lagi dengah hadirnya wabah Pes.
Dampak dari tahun 536 Masehi ini sampai-sampai terasa hingga dekade-dekade berikutnya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Berikut rangkuman singkat tentang apa yang terjadi pada tahun 536 Masehi sampai-sampai bisa disebut sebagai tahun yang paling menyeramkan untuk manusia hidup. Berikut rangkuman dari unggahan video Youtube Nadia Omara dengan judul ‘536 masehi – bersyukur tidak hidup di tahun itu!’ yang diunggah 4 Oktober 2022 lalu.
Tahun yang menyeramkan ini mulanya diketahui melalui buku catatan penasehat Kekaisaran Romawi Timur, Raja Flavius yang bernama Procopius. Ia mencatat apa-apa saja yang terjadi di masa itu. Di buku catatannya, ia menyebutkan kondisi bumi akibat matahari yang meredup ini membuat kegelapan sepanjang tahun.
Bukan hanya dalam buku catatan Procopius saja, ditemukan juga dalam buku catatan Michael The Syrian, atau penulis terkemuka asal Turki menyebutkan bahwa keadaan matahari yang menjadi gelap itu berlangsung selama 18 bulan, dengan matahari yang bersinar singkat selama 4 jam per harinya, juga cahayanya yang sangat redup.
Dari kesamaan yang ada, dapat diketahui pada saat itu kejadian tersebut bukan hanya terjadi di satu tempat. Diperkirakan kejadian tersebut terjadi di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan sebaigian Amerika pun kena.
Dampak buruk yang terjadi
Baca Juga: Tak Sesali Perbuatan KDRT, Pengacara Rizky Billar: Paling Berat Soal Nama Baik
Pertama, akibat dari redupnya sinar matahari menyebabkan penurunan suhu yang drastic hingga kedinginan 1,6-2,5 derajat celcius. Hujan yang turun pun bukannya memberikan kesejukan, malah menjadi warna merah darah dan kotor. Kondisi yang tidak baik itulah yang membuat akhirnya penguapan terganggu yang menyebabkan tidak turunnya hujan.
Bagai efek domino, kejadian ini merembet dari satu masalah ke masalah lainnya. Dari kekeringan, lalu berdampak ke gagalnya panen, sehingga membuat kelaparan massal,
Tidak berhenti disitu, sebab-sebab bencana lain seperti; cuaca ekstrem, krisis air bersih, kelaparan dimana-mana mengakibatkan munculnya penyakit. Yakni, Pes.
Memang betul kabut asap hanya berlangsung selama 18 bulan sejak pertama kali muncul di tahun 536 Masehi. Namun, untuk wabah penyakit, ternyata tidak selesai dengan cepat. Hingga 6 tahun setelahnya, atau tahun 542 Masehi.
Kekaisaran Romawi yang pada saat itu berangsur-angsur bangkit, kembali dihantam dengan wabah Pes yang semakin menyebar. Dalam buku catatan seorang biarawati, Evagrius Pontikus, ia menyebutkan bahwa wabah ini disebarkan oleh kutu yang mengisap darah tikus.
Korban yang berjatuhan tiap harinya mencapai 10.000 jiwa, yang membuat pemerintah akhirnya kewalahan menghitung berapa jumlah kematian yang terjadi dan berhenti menghitung di angka 250 ribu jiwa.
Penelitian terus dilakukan untuk menjawab penyebab munculnya kabut asap tersebut, para peneliti meyakini kabut asap tersebut muncul akibat dari letusan gunung berapi, Dari banyaknya Gunung yang diperkirakan menjadi penyebab kekacauan tahun 536 Masehi ini, ternyata yang paling mendekati ialah meletusnya Gunung Krakatau Purba.
Sampai-sampai, David Keys, peneliti yang melakukan penelitian dan meyakini bahwa letusan Krakatau Purba lah yang menyebabkan kekacauan tersebut menuangkan penelitiannya ke dalam buku Catastrophe: an Investigation into the origins of the modern world.
Kontributor: Shafa Maura Zahwa
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Lautan Manusia di PRJ! Kembang Api Hiasi Langit Jakarta Sambut HUT ke-499
-
Selat Hormuz Ditutup Iran, Kesepakatan Damai dengan AS Kian Sulit Gegara Ulah Israel
-
Coach Timo dan Jacksen F. Tiago Turun Gunung Cari Bakat Sepak Bola Putri di Women's Soccer Trilogy
-
Terjebak Rob Bertahun-tahun, Warga Kendal Dicarikan Tempat Tinggal Baru
-
Beda Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki, Jangan Sampai Keliru Memilihnya
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Wamenpar Wanti-wanti Pelaku Wisata Dieng: Utamakan Keselamatan di Tengah Lonjakan Turis!
-
7 HP 5G Murah Terbaik Juni 2026: Usung Chipset Kencang, Libas Game Berat
-
Malam Ini Dijemput dari RS Polri! Roy Suryo dan dr Tifa Kembali Masuk Sel Tahanan
-
Concealer untuk Mata Panda Warna Apa? Ini Tips Memilih dan 5 Rekomendasinya