Oleh Manggara Bagus
Pemerhati dan Guru di SMAN 1 Cijeruk
Dalam alam demokrasi, peralihan kekuasaan sebetulnya adalah sebuah keniscayaan. Demokrasi sendiri, pada hakikatnya tidak mengenal otoritarianisme (kekuasaan terpusat) karena memang sistem kekuasaannya terdistribusi. Sebagai negara yang menerapkan prinsip demokrasi, sudah sewajarnya Indonesia mengadopsi sistem ini. Terlebih, peristiwa reformasi pada tahun 1998 telah melegitimasi secara sah penerapan demokrasi di indonesia. Setelah, otoritarianisme yang tumbuh subur di masa orde lama dan masa orde baru begitu membelenggu kehidupan rakyat indonesia. Reformasi 1998 seakan memberi angin segar bagi bangsa Indonesia untuk melakukan reformasi secara menyeluruh dalam segala hal.
Salah satu amanat reformasi 1998 yang menimbulkan euforia bagi bangsa Indonesia adalah diselenggarakanya pemilu secara langsung yang mulai dilaksanakan pada tahun 2004 silam. Pada edisi kali ini, rakyat memilih Calon Bupati/Walikota, Calon Gubernur, Calon Legislatif Daerah/Pusat, serta Calon Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Secara khusus untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), pada edisi pemilu langsung 2004 ini, mampu diselenggarakan secara sukses dan tidak mengakibatkan ancaman yang serius bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Pilpres 2009 relatif sama, artinya dari sisi penyelenggaraan sangat kondusif sehingga tidak menimbulkan terjadinya disintegrasi bangsa.
Namun kondisi demikian, tidak terjadi pada Pilpres 2014. Pada pesta demokrasi kali ini, masyarakat terpolarisasi akibat penggunakan politik identitas yang begitu masif oleh para kandidat yang berkompetisi. ditambah, hampir sebagian media mainstream disesaki dengan narasi-narasi politik identitas yang memecah belah yang bernuansa Suku Agama dan Ras (SARA). Akibatnya, masyarakat Indonesia terpolarisasi menjadi 2 bagian yang mainstream disebut, sebagai, "Cebong dan Kampret" pada perhelatan pilpres tersebut. Cebong untuk mereka yang disebut pemilih dan loyalis Joko Widodo. Serta, Kampret untuk pemilih dan loyalis Prabowo Subianto. Bahkan, keterbelahan yang terjadi dalam pilpres 2014 ini berlanjut hingga level pilkada DKI Jakarta 2017 Dan Pilpres 2019 yang sangat kental dengan narasi-narasi berbasis SARA. Dampaknya sangat berasa, yakni adanya perpecahan sesama anak bangsa akibat perbedaan prefensi pilihan menjadi hal yang sulit dihindari, bahkan hingga kini kondisinya ibarat air dan minyak yang sulit untuk disatukan.
Pertanyaan yang muncul, sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung. Akankah nanti pada Pemilu 2024 kondisi ini akan terus terjadi. Wallahu a'lam bish-shawab. Agaknya Hanya Tuhan yang maha mengetahui. Tanpa mendahului Kehendak-Nya, Penulis berharap perhelatan Pemilu 2024 nanti betul-betul menghasilkan sebuah pemilu yang rasional. Sebuah perhelatan pemilu yang dihiasi banyak sekali perspektif adu gagasan. Yang mampu melahirkan sosok pemimpin layaknya, sosok solidarity maker yang mampu mempersatukan kembali bangsa ini yang sedang diambang perpecahan. Mari kita berdoa. Semoga!!
Berita Terkait
-
TKRPP-PDIP: 90 Persen Relawan Jokowi Sudah Komunikasi untuk Dukung Ganjar Capres 2024
-
Anggap Eks Koruptor Tak Pantas Jadi Caleg, Jubir PSI: Orang yang Pernah Mengkhianati Kepercayaan Rakyat!
-
Jelang Penutupan Pendaftaran, Ketahuilah Caleg yang Berkualitas dan Layak
-
KPU Siak Bakal Gugurkan Partai Politik yang Mendaftar Lewati Batas Waktu
-
Ketika Prabowo Seolah Bocorkan Kebenaran Dedi Mulyadi Hijrah ke Gerindra dari Golkar
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan