/
Jum'at, 03 Februari 2023 | 14:40 WIB
Wahana udara tak berawak (UAV) Hermes 900 buatan Elbit Systems terlihat di pabrik perusahaan itu di Rehovot, Israel, 28 Juni 2018. (ANTARA/REUTERS/Orel Cohen/as.)

Bom untuk drone tersebut, yang semuanya dibuat di Israel, mampu "terjun bebas" dengan kecepatan suara, katanya.

Tidak seperti rudal Hellfire yang ditembakkan dari drone buatan AS, bom pada drone Israel tidak memiliki sistem pendorong yang menghasilkan suara dan asap dari bahan bakar.

Sang perwira enggan menjelaskan amunisi itu lebih lanjut. Dia hanya mengatakan bahwa secara desain, ketika drone itu menyerang "tidak seorang pun akan mendengarnya, tidak seorang pun akan melihat kedatangannya".

Target drone itu bisa jadi adalah pemberontak yang bergerak cepat, yang terdeteksi dan diserang sebelum mereka sempat meluncurkan roket, menurut pejabat Israel lainnya.

Namun, semua itu dapat dilakukan pada ketinggian yang cukup, sehingga mesin baling-baling drone dapat didengar dengan jelas dari darat.

Dalam perang musim dingin, seperti di Gaza pada 2008-2009, drone tersebut harus diterbangkan di bawah awan agar kamera pengintainya dapat bekerja sehingga kemungkinan drone itu masih bisa terdengar.

"Anda kehilangan elemen kejutannya," kata sang perwira.

Meski memiliki drone bersenjata canggih, mayoritas wahana udara tak berawak (UAV) Israel tidak dipersenjatai karena fungsi utamanya adalah pengintaian ke darat, kata RUSI dalam sebuah laporan daring. (ANTARA)

Baca Juga: Warga Pesing Koneng Sebut Korban yang Kehilangan Bra di Jemuran Malas Lapor Polisi

Load More