/
Rabu, 19 Oktober 2022 | 17:42 WIB
Siswa TK sedang belajar membaca di fasilitas perpustakaan rumah tahan gempa RPIA Siboli yang dibangun JOB Tomori di Desa Poisubololi, Batui Selatan, Banggai, Sulawesi Tengah, Rabu (19/10/2022). (ANTARA/Faisal Yunianto)

Community Development Officer JOB Tomori Atma Agus Hermawan kepada wartawan di Banggai, Sulteng, Rabu, mengatakan bahwa inovasi pembuatan rumah tahan gempa tersebut mengingat wilayah Banggai kerap digoyang gempa bumi.


Atma menielaskan dinding rumah tahan gempa dibangun dari ecobrick atau sampah plastik yang dicacah dan dimasukkan dalam botol plastik sebagai wadahnya.


Menurut Atma, total dibutuhkan 780 kilogram sampah anorganik yang diisi ke dalam 3.120 limbah botol plastik yang berfungsi sebagai pengganti dinding tembok atau papan yang selama ini menjadi pelapis atau sekat rumah.


"Limbahnya memanfaatkan sampah plastik dari Bank Sampah Montolutusan di Desa Paisubololi ‘Sedangkan atap rumah menggunakan baja ringan’’ ujar Atma.


Alwia Batukaon, fasilitator Comdev JOB Tomori, menyatakan bahwa pembuatan rumah tahan gempa di RPIA merupakan implementasi JOB Tomori untuk pemberdayaan masyarakat sekitar yang dirintis sejak tahun 2013.


"Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat khususnya ibu dan anak’ katanya.


‘Sementara, rumah tahan gempa yang lokasinya di tengah-tengah RPIA dibangun awal tahun ini dalam waktu satu bulan dan diresmikan pada 24 Maret 2022. 


Total luas lahan RPIA termasuk PAUD dan rumah tahan gempa mencapai 1.000 meter persegi.


‘Sampai saat ini, JOB Tomori telah membangun empat RPIA, masing-masing dua di Desa Siboli, satu di Desa Sinorang, dan satu di Bone Belantak. 

Baca Juga: Soal Paracetamol Sirup Berhubungan dengan Penyakit Gagal Ginjal Akut Misterius, Ini Penjelasan IDI


Seluruh status lahan RPIA milik pemerintah desa.


Alwia mengatakan rumah tahan gempa ini diperuntukkan untuk kegiatan literasi siswa sekolah baik PAUD, TK, SD maupun SMP yang dilengkapi dengan perpustakaan, komputer dan akses internet.


Sementara, RPIA merupakan tempat untuk mengembangkan kreativitas, kecerdasan, dan kompetensi dasar dengan melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran. 


Di RPIA anak-anak Desa Poisubololi belajar seni dan budaya, menari dan menyanyi.


Warga Poisubololi yang sekitar 90 persen berasal dari Banggai Kepulauan itu juga belajar membaca dan belajar komputer.


Menurut Business Support Section Head Arfiandy Djafar, pembangunan rumah tahan gempa dan RPIA termasuk dalam program pengembangan masyarakat (comdev) JOB Tomori bagi warga di sekitar wilayah operasi.

Load More