/
Selasa, 24 Mei 2022 | 08:32 WIB
Eren Li/Pexels

Lalu bagaimana dengan anak yang tidak ragu mengungkapkan pikiran dan gagasannya, apakah itu termasuk jenis keberanian ? Hal tersebut dapat dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang tua atau orang dewasa disekelilingnya.

"Misalnya mengungkapkan keberatan dengan baik disertai alasan yang jelas. Contohnya saat anak tidak mau merapikan tempat tidur sampaikan apa yang kita rasakan atau pikirkan, lalu berikan alasan yang tidak menyinggung anak," tutur Nuri.

Anak juga perlu diberi pemahaman oleh orang untuk menyadari memiliki hak pribadi untuk berpikir, berpendapat, memilih dan sebagainya.

Tunjukkan pengertian dan penerimaan dari orang tua, pada setiap kelebihan dan kekurangan yang anak miliki.

Seaneh atau sekonyol apapun idenya bagi orang tua, tunjukkan sikap mendengarkan, memberi masukan atau pendapat. Buat anak merasa aman dan nyaman saat ia ingin mengungkapkan kebutuhan atau pendapatnya.

Pada saat berkomunikasi, orang tua harus menekankan pada apa yang menjadi alasan keberatan terhadap pendapat atau perilaku anak. Bukan “menyerang” anak sebagai pribadi.

"Misalnya saat anak kita mengganggu adiknya, fokuskan pada perilakunya tanpa menyebutnya nakal, bodoh, keras kepala, dan lain-lain. Dengan demikian anak paham bahwa kita bukannya benci atau tidak suka pada dirinya, melainkan berharap ia mengubah perilakunya," ungkap Nuri.

Sedangkan tahap awal pelatihan terhadap  anak yang telah memiliki perilaku atau komunikasi asertif,  yaitu dengan membiarkan anak untuk mencoba mengatasi konflik di lingkungan sosialnya secara mandiri.

Tahap selanjutnya adalah orang tua mengamati cara berkomunikasi atau mengungkapkan pendapatnya.

Berikutnya, orang tua dapat mengintervensi saat ia tampak menahan diri, takut, non asertif atau sebaliknya terlalu dominan atau agresif.

Dan terakhir, berikan apresiasi dan masukan pada upayanya berperilaku asertif.

Load More